SITUBONDO, SUARAGONG.COM – Suasana sore di kawasan wisata Burnik City Situbondo, Selasa (24/2/2026), terasa beda dari biasanya. Lebih ramai, lebih hidup, dan pastinya lebih Ramadhan vibes. Bazar Ramadhan Burnik City resmi dibuka langsung oleh Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo yang akrab disapa Mas Rio. Peresmian ditandai dengan pemukulan kentongan bersama Kapolres Situbondo AKBP Bayu Anuwar Sidiqie, Plh Sekdakab Prio Andoko, pimpinan OPD, Camat Situbondo, serta perwakilan Bank BTN Cabang Situbondo.
Momen itu bukan sekadar seremoni. Tapi jadi simbol dimulainya perputaran ekonomi UMKM selama bulan puasa di salah satu destinasi wisata kebanggaan Situbondo ini. Pantauan di lokasi, warga langsung memadati area bazar. Ada yang sekadar jalan santai, ada yang serius berburu takjil, ada juga yang datang demi konten Instagram dan TikTok (ya, karena tempatnya memang estetik banget).
Bazar Ramadhan Burnik City Jadi Magnet Baru Ngabuburit
Kalau ngomongin ngabuburit, sekarang warga Situbondo punya spot baru yang makin ramai Bazar Ramadhan Burnik City. Mas Rio dalam sambutannya mengaku bersyukur bisa membuka langsung kegiatan ini. Ia bahkan sempat bercerita soal perubahan wajah Burnik City.
“Dulu tempat ini citranya kurang baik. Tapi sejak kami tata dan kembangkan, sekarang jadi pusat wisata kuliner yang bisa mendongkrak ekonomi masyarakat,” ungkapnya.
Burnik City kini dibuka setiap hari dan dikenal sebagai sentra kuliner. Di sini, pengunjung bisa menemukan berbagai makanan khas, mulai dari ikan tongkol asap yang aromanya langsung bikin lapar, bakso lonyang yang legendaris, sampai aneka jajanan kekinian. Dengan adanya bazar Ramadhan, Mas Rio berharap jumlah pengunjung makin meningkat. Ia bahkan secara khusus mengajak para ASN dan pejabat daerah untuk ikut meramaikan dan berbelanja di sini.
“Utamanya para PNS, ayo belanja di sini. Kita dukung UMKM kita sendiri,” tegasnya.
Ajakan itu jelas bukan tanpa alasan. Perputaran uang selama Ramadhan memang bisa jadi momentum besar bagi pelaku usaha kecil.
Baca juga: Paripurna DPRD Situbondo Sahkan 4 Raperda, Soroti Kerusakan Lingkungan
UMKM Lokal Dapat Angin Segar
Di tempat yang sama, Kadari selaku Pengelola Wisata Burnik City mengaku bangga dan menyambut baik dibukanya Bazar Ramadhan Burnik City tahun ini. Menurutnya, hari pertama saja sudah terlihat antusiasme masyarakat yang luar biasa. Sejak sore, stand-stand UMKM sudah dikerubungi pembeli.
“Alhamdulillah ramai. Banyak yang datang untuk berburu takjil sambil menikmati suasana sore,” ujarnya.
Di area bazar, deretan stand UMKM menjajakan beragam kuliner. Ada makanan tradisional seperti klepon dan cenil, camilan modern, minuman segar, hingga makanan berat yang cocok buat buka puasa bareng keluarga. Menu favorit tetap dipegang ikan tongkol asap yang jadi ciri khas Burnik City. Aroma asapnya khas banget, bikin orang yang lewat auto nengok.
Bagi pelaku UMKM, Ramadhan memang seperti musim panen. Apalagi jika didukung pemerintah daerah dan fasilitas yang tertata rapi seperti ini.
Baca juga: Kepergok Polres Situbondo Peredaran 27,88 Gram Sabu Digagalkan
Transformasi Burnik City yang Kini Jadi Ikon Kuliner
Cerita menariknya, Burnik City bukan selalu jadi tempat sehidup sekarang. Mas Rio secara terbuka menyebut bahwa lokasi ini dulu punya citra kurang baik. Namun lewat penataan ulang, pendekatan ke masyarakat, serta konsep wisata kuliner, kawasan ini berubah drastis.
Sekarang Burnik City dikenal sebagai tempat nongkrong keluarga, pusat kuliner, dan lokasi event-event musiman seperti bazar Ramadhan. Transformasi ini menunjukkan bahwa ruang publik bisa berubah jadi positif ketika ada komitmen dan kolaborasi.
Dan jujur saja, bagi anak muda, tempat seperti ini penting banget. Selain jadi spot makan, juga jadi tempat kumpul, diskusi, bahkan bikin konten.
Baca juga: Peduli Kesehatan Warga, Satgas TMMD ke-127 Layani Pemeriksaan Lansia
Ramadhan Momentum Ekonomi dan Kebersamaan
Bulan Ramadhan memang selalu punya cerita. Bukan cuma soal ibadah, tapi juga tentang kebersamaan dan ekonomi rakyat. Dengan adanya Bazar Ramadhan Burnik City, dampaknya terasa langsung:
- UMKM punya panggung jualan
- Warga punya tempat ngabuburit
- ASN diajak belanja produk lokal
- Destinasi wisata makin hidup
Efek dominonya bisa panjang. Ketika UMKM bergerak, ekonomi mikro ikut berputar. Dari pedagang bahan baku, tukang parkir, hingga pekerja harian ikut merasakan manfaatnya. Apalagi jika konsisten digelar tiap tahun, bazar seperti ini bisa jadi agenda tetap yang ditunggu warga.
Baca juga: Ledakan di Situbondo Sterilisasi Polisi Ketat
Antusiasme Warga Jadi Energi Positif
Salah satu hal yang paling terasa di hari pembukaan adalah antusiasme warga. Anak-anak berlarian, ibu-ibu sibuk memilih takjil, bapak-bapak diskusi santai sambil menunggu waktu berbuka. Suasananya hangat.
Beberapa pengunjung mengaku senang karena sekarang punya alternatif tempat ngabuburit selain di pusat kota.
“Tempatnya enak, makanannya banyak pilihan, dan nggak terlalu jauh,” ujar salah satu pengunjung.
Buat Gen Z, tentu ini jadi kombinasi ideal kuliner, spot nongkrong, suasana Ramadhan.
Baca juga: Kodim 0823/Situbondo dan Warga Buka Jalan Puncak Gunung Rengganis
Harapan ke Depan
Dengan suksesnya pembukaan hari pertama, harapan besar tentu muncul agar Bazar Ramadhan Burnik City terus konsisten dan makin berkembang. Dukungan pemerintah daerah, partisipasi pelaku UMKM, serta minat masyarakat menjadi kunci keberlanjutan acara ini.
Jika dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin Burnik City akan semakin dikenal sebagai ikon wisata kuliner Situbondo, terutama saat Ramadhan. Karena pada akhirnya, bazar seperti ini bukan cuma soal jual beli. Tapi tentang ruang bertemu, berbagi cerita, dan menguatkan ekonomi lokal. Dan sore itu di Burnik City, semua itu terasa nyata. (fin/dny)