SUARAGONG.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat terjadinya peningkatan jumlah bencana alam sepanjang tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, menyampaikan bahwa selama tahun 2025 terdapat 248 kejadian bencana yang dilaporkan dan ditangani BPBD.
BPBD Catat 248 Bencana Terjadi di Kabupaten Malang Selama 2025
“Jumlah tersebut mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2024, meskipun masih sebanding dengan siklus bencana pada tahun 2021,” ujar Sadono saat dihubungi, Rabu (7/1/2026).
Pada tahun 2024, BPBD Kabupaten Malang mencatat sekitar 202 titik bencana alam. Sementara pada 2025, jumlah tersebut meningkat menjadi 248 titik.
Menurut Sadono, kenaikan tersebut menunjukkan adanya peningkatan intensitas maupun frekuensi bencana, meskipun secara historis masih berada dalam pola kejadian yang pernah terjadi sebelumnya.
“Memang ada kenaikan, namun tidak jauh berbeda dengan kejadian bencana yang pernah terjadi pada tahun 2021,” jelasnya.
Longsor Jadi Bencana Terbanyak
Berdasarkan data BPBD, jenis bencana yang terjadi di Kabupaten Malang sepanjang 2025 didominasi oleh tanah longsor dengan 98 kejadian. Disusul angin kencang sebanyak 74 kejadian, pohon tumbang sebanyak 53 kejadian, serta banjir sebanyak 32 kejadian.
Selain itu, tercatat pula 187 kejadian gempa bumi. Namun demikian, tidak semua gempa tersebut dirasakan oleh masyarakat.
“Gempa bumi memang tercatat cukup banyak, tetapi sebagian besar tidak berdampak langsung,” kata Sadono.
BPBD juga mencatat bahwa sepanjang 2025 tidak terjadi bencana kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kabupaten Malang. Dampak erupsi gunung api pun tidak dirasakan.
Baca Juga : Aksi Solidaritas OSIS Jember Donasi untuk Korban Bencana
Puncak Longsor Terjadi Awal dan Akhir Tahun
Sadono mengungkapkan, puncak kejadian tanah longsor terjadi pada bulan Januari dengan 26 kejadian, disusul Desember sebanyak 18 kejadian.
Secara wilayah, Kecamatan Poncokusumo menjadi daerah paling rawan longsor dengan 13 kejadian, diikuti Lawang, Ngantang, dan Pujon yang masing-masing mencatat 10 kejadian.
“Daerah-daerah tersebut memang rawan longsor karena secara geografis berada di kawasan lereng dan perbukitan,” pungkasnya. (sur/aye/SG)