Boomers Beli Rumah, Gen Z Beli Kopi: Menguak ‘Gap’ Finansial Antar-Generasi

Laporan Financial Resilience Index menunjukkan Gen Z adalah kelompok paling rentan secara finansial saat ini dari pada generasi yang lain

Share

SUARAGONG.COM – Pernah dengar omongan, “Zaman Bapak dulu, gaji sejuta sudah bisa cicil rumah”? Bagi Gen Z, kalimat itu terdengar seperti dongeng fantasi. Di tahun 2024-2025, rata-rata gaji Gen Z di Indonesia berada di angka Rp1,9–3 juta per bulan, sementara harga properti terus meroket hingga ke langit ketujuh. Inilah Perbedaan Finansial Gen Z dan Generasi Sebelumnya.

Boomers Bisa Beli Rumah, Gen Z Cuma Bisa Beli Kopi? Menguak ‘Gap’ Finansial Antar-Generasi

Fenomena ini bukan sekadar perasaan, tapi realitas pahit yang menciptakan jurang biaya hidup antara Gen Z, Milenial, dan Boomers. Mari kita bedah kenapa “dompet” tiap generasi punya nasib yang beda jauh.

1. Perang Properti: Rumah vs Sewa

Generasi Boomers dan Milenial awal tumbuh di era di mana harga tanah masih “masuk akal” dibandingkan pendapatan mereka. Sebaliknya, Gen Z menghadapi kenaikan harga rumah yang jauh melampaui pertumbuhan upah minimum. Hasilnya? Gen Z lebih banyak menghabiskan uang untuk menyewa tempat tinggal atau terjebak dalam gaya hidup rent-heavy tanpa aset tetap. Bukan Ga Mau atau Ga bisa Hemat, Harga Rumahnya 10 Kali lipat Pak/Buk. Beginilah Kenyataan Finansial Gen Z, Geopolitik gajelas, ekonomi ga stabil, semua pada mahal, pemimpin negara kemana ya?

2. ‘Doom Spending’ dan Self-Reward yang Hakiki

Karena merasa rumah atau mobil mewah makin sulit digapai, banyak Gen Z yang akhirnya terjebak dalam Doom Spending. Ini adalah kebiasaan belanja barang-barang kecil (seperti kopi kekinian atau tiket konser) sebagai bentuk pelarian dari stres finansial masa depan.

Berbeda dengan Boomers yang lebih fokus pada menabung tradisional, Gen Z cenderung memilih Soft Saving. Metode menabung fleksibel yang tetap mengutamakan kualitas hidup saat ini. Ya namanya pelarian, daripada hanya menimbun uang untuk masa tua yang belum pasti.

Baca Juga : Mengenal FOPO: Penyakit ‘Gak Enakan’ yang Bikin Gen Z Gak Maju-Maju

3. ‘Biaya Wajib’ Digital yang Dulu Tidak Ada

Bagi Boomers, biaya rutin bulanan mungkin hanya listrik, air, dan koran fisik. Namun bagi Gen Z, ada daftar “pengeluaran wajib” baru yang tak terhindarkan:
  • Langganan Digital: Netflix, Spotify, iCloud, hingga aplikasi produktivitas.
  • Kuota Data: Kebutuhan internet tinggi untuk kerja remote dan hiburan.
  • Loud Budgeting: Tren baru di mana Gen Z secara vokal menolak ajakan nongkrong mahal demi menjaga kesehatan finansial mereka.

Pengeluaran Beda dengan generasi Boomers, yang mungkin habis buat beli pakan burung atau modif mobil kijang-nya.

4. Investasi: Emas vs Kripto

Cara main di pasar modal juga berubah. Boomers sangat setia dengan instrumen aman seperti emas atau deposito. Sementara itu, Gen Z yang dikenal sebagai digital native lebih berani terjun ke Retail Investing seperti saham ritel dan aset kripto lewat aplikasi ponsel. Sayangnya, survei menunjukkan indeks literasi keuangan Gen Z masih termasuk yang terendah secara nasional. Membuat mereka sering terjebak tren FOMO. Membuat mereka terjun bebas tanpa parasut atau belum tau apa yang ada di bawah jurang.

Baca Juga : Marriage is Scary :Gen Z Indonesia Ketar-Ketir Soal Menikah

Kesimpulan: Siapa yang Paling ‘Sengsara’?

Laporan Financial Resilience Index menunjukkan bahwa Gen Z adalah kelompok paling rentan secara finansial saat ini. Tekanan inflasi yang terus-menerus dan kenaikan PPN menjadi 12% di masa depan menambah beban bagi 66% anak muda di perkotaan.

Jadi, kalau besok kamu melihat Gen Z beli kopi mahal, mungkin itu bukan karena mereka malas menabung, tapi karena itulah satu-satunya “kemewahan” yang masih bisa mereka beli di tengah dunia yang makin mahal. (Aye/sg)