SUARAGONG.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat perkembangan harga pada Januari 2026 mengalami deflasi sebesar 0,10 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m). Secara tahun kalender (year-to-date/y-to-d), Kota Malang juga tercatat deflasi 0,10 persen, sementara inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) berada di angka 3,33 persen.
Kota Malang Deflasi 0,10 Persen pada Januari 2026
Deflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Ketua Tim Distribusi BPS Kota Malang, Dwi Handayani, menyebut kelompok ini menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil mencapai 0,34 persen.
“Penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi faktor utama terjadinya deflasi pada Januari 2026,” ujar Dwi Handayani dalam Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Kota Malang.
Cabai hingga Telur Ayam Jadi Penyumbang Deflasi
Sejumlah komoditas yang berkontribusi signifikan terhadap deflasi di antaranya cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, serta bawang merah. BPS menilai penurunan harga komoditas hortikultura tersebut dipengaruhi meningkatnya produksi saat masa panen raya, sehingga pasokan di pasar relatif melimpah.
Kondisi ini membuat harga pangan lebih terkendali dan berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga masyarakat.
Inflasi Tahunan Didominasi Perumahan dan Emas
Sementara itu, secara tahunan, inflasi Kota Malang pada Januari 2026 didorong oleh kenaikan harga kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Selain itu, emas perhiasan juga menjadi salah satu komoditas dengan andil inflasi terbesar secara year-on-year.
“Kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan tren peningkatan harga emas global sepanjang Januari 2026,” imbuh Dwi Handayani.
Baca Juga : Menteri Pertanian Apresiasi Pemkot Surabaya, Capai Deflasi 0,07 Persen
Inflasi Lima Tahun Terakhir Fluktuatif
BPS Kota Malang juga mencatat dalam lima tahun terakhir, periode 2021–2025, perkembangan inflasi menunjukkan pola fluktuatif. Perubahan harga paling terasa terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Bahkan, kelompok perawatan pribadi hampir tercatat mengalami inflasi setiap bulan.
Deflasi di awal tahun 2026 ini dinilai mencerminkan stabilitas harga yang relatif terjaga, khususnya pada komoditas pangan, sekaligus menjadi indikator penting dalam menjaga daya beli masyarakat Kota Malang. (Fat/aye)