Demo BEM UI Mabes: 3.093 Personel Turun 5 Tuntutan Menggema

Demo BEM UI di Mabes Polri, 3.093 Personel Disiagakan (sc: tribatanews.polri.go)

Share

SUARAGONG.COM – Aksi mahasiswa kembali jadi sorotan. Kali ini datang dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia atau BEM UI yang menggelar Demo BEM UI Mabes di depan Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri), Jakarta.

Aksi ini bukan sekadar kumpul-kumpul atau long march biasa. Mahasiswa datang dengan lima tuntutan yang mereka anggap penting dan mendesak untuk disuarakan ke publik dan aparat penegak hukum.

Sebanyak Ini Personil yang Dikerahkan

Di sisi lain, pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) juga nggak tinggal diam. Sebanyak 3.093 personel diterjunkan untuk mengawal jalannya aksi agar tetap aman dan kondusif.

Jadi sebenarnya ada apa? Kenapa mahasiswa turun lagi ke jalan? Dan apa saja tuntutan yang mereka bawa?

Baca juga: BEM Kabupaten Malang Desak Kesejahteraan Tenaga Ajar Honorer

Demo BEM UI Mabes 3.093 Personel Turun Tangan

Kapolri melalui jajaran pengamanan memastikan bahwa aksi Demo BEM UI Mabes tetap difasilitasi sebagai bentuk penyampaian pendapat di muka umum. Ribuan personel gabungan disiagakan di sekitar area Mabes Polri. Totalnya nggak main-main 3.093 personel.

Pengamanan dilakukan secara humanis dan persuasif. Aparat diminta mengedepankan pendekatan dialog, bukan represif. Tujuannya jelas memastikan aspirasi tersampaikan tanpa ricuh.

Kalau dilihat dari pola pengamanan beberapa tahun terakhir, pendekatan seperti ini memang lebih sering dipakai. Polisi berusaha menjaga jarak aman, mengatur lalu lintas, sekaligus mengantisipasi potensi gesekan.

Buat mahasiswa sendiri, pengawalan sebesar itu mungkin terasa intimidating. Tapi dari sisi aparat, ini adalah prosedur standar untuk aksi massa skala besar di titik strategis seperti Mabes Polri.

Baca juga: BEM Malang Raya Batalkan Aksi Demo Hari ini, Ini Alasannya

5 Tuntutan Mahasiswa dalam Demo BEM UI Mabes

Nah, ini bagian yang paling penting. Dalam aksi Demo BEM UI Mabes, mahasiswa membawa lima tuntutan yang mereka nilai krusial. Berikut garis besarnya:

  1. Mendesak transparansi dalam penanganan sejumlah kasus nasional yang dinilai belum jelas ujungnya.
  2. Meminta evaluasi terhadap kinerja aparat dalam beberapa peristiwa yang menjadi sorotan publik.
  3. Mendorong penegakan hukum yang dinilai harus lebih adil dan tidak tebang pilih.
  4. Menuntut akuntabilitas institusi dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
  5. Mengingatkan pentingnya supremasi hukum di atas kepentingan politik.

BEM UI menyampaikan bahwa aksi ini adalah bentuk kontrol sosial. Mereka menegaskan bahwa mahasiswa punya peran sebagai watchdog demokrasi. Kalau ditarik ke belakang, ini bukan pertama kalinya BEM UI turun aksi dengan narasi kritis. Sejak beberapa tahun terakhir, mereka memang dikenal cukup vokal dalam merespons isu nasional.

Buat Gen Z yang mungkin lihat ini lewat timeline TikTok atau X, konteksnya bukan cuma soal demo. Tapi soal bagaimana mahasiswa mencoba tetap relevan dalam percakapan publik.

Baca juga: Polisi Amankan Aksi Unjuk Rasa BEM SI

Kenapa Demo BEM UI Mabes Jadi Sorotan?

Ada beberapa alasan kenapa aksi ini ramai dibahas. Pertama, lokasinya. Mabes Polri bukan tempat sembarangan. Itu adalah pusat komando institusi kepolisian nasional. Jadi setiap aksi di sana pasti punya bobot simbolis yang kuat.

Kedua, jumlah personel yang diterjunkan cukup besar. Angka 3.093 personel langsung bikin headline. Buat sebagian orang, itu menunjukkan keseriusan pengamanan. Buat yang lain, itu bisa dibaca sebagai tanda betapa sensitifnya isu yang diangkat.

Ketiga, tuntutan mahasiswa menyentuh isu-isu yang memang sedang hangat diperbincangkan publik. Jadi momentumnya pas. Di era sekarang, demo gak cuma terjadi di jalan. Narasinya juga hidup di media sosial. Potongan video, orasi, bahkan poster tuntutan bisa viral dalam hitungan menit.

Makanya, aksi seperti Demo BEM UI Mabes nggak cuma jadi peristiwa fisik, tapi juga peristiwa digital.

Baca juga: Dekan FISIP Unair Mencabut Pembekuan BEM Usai Polemik Karangan Bunga Satire

Pengamanan Humanis Jadi Sorotan

Pihak kepolisian menegaskan bahwa pengamanan dilakukan secara humanis. Artinya, aparat diminta tidak terpancing provokasi dan tetap mengedepankan komunikasi. Dalam beberapa dokumentasi yang beredar, terlihat barisan aparat berjaga dengan formasi standar. Lalu lintas di sekitar lokasi juga diatur agar tidak lumpuh total.

Pendekatan ini penting, karena publik sekarang makin kritis. Setiap tindakan aparat bisa langsung direkam dan disebarkan. Kalau ada gesekan sedikit saja, efeknya bisa melebar ke mana-mana. Karena itu, baik mahasiswa maupun aparat sama-sama punya tanggung jawab menjaga aksi tetap damai.

Baca juga: BEM Universitas Airlangga Luncurkan Program Sahabat Pengmas 2024

Mahasiswa, Kritik, dan Ruang Demokrasi

Kalau ngomongin mahasiswa demo, sebenarnya ini bukan hal baru. Sejak era reformasi, mahasiswa memang punya sejarah panjang sebagai motor perubahan. BEM UI sendiri sering muncul dalam berbagai isu nasional. Entah itu soal kebijakan publik, revisi undang-undang, atau isu penegakan hukum.

Dalam konteks Demo BEM UI Mabes, pesan yang ingin disampaikan adalah soal akuntabilitas dan transparansi. Buat sebagian Gen Z, mungkin muncul pertanyaan “Emang demo masih relevan?” Jawabannya tergantung sudut pandang.

Di satu sisi, sekarang ada media sosial sebagai ruang kritik. Tapi di sisi lain, aksi turun ke jalan tetap punya daya tekan simbolis yang kuat. Demo adalah cara menunjukkan bahwa isu tersebut cukup penting untuk diperjuangkan secara langsung, bukan cuma lewat thread atau konten carousel.

Baca juga: Peringati Hari Pangan BEM UB Gelar Aksi, Soroti Isu Pangan Nasional

Apa Dampaknya Setelah Demo BEM UI Mabes?

Pertanyaan selanjutnya apakah aksi ini akan berdampak langsung? Biasanya, aksi seperti ini jadi momentum dialog lanjutan. Bisa dalam bentuk audiensi, klarifikasi resmi, atau respons kebijakan.

Yang jelas, Demo BEM UI Mabes sudah berhasil menarik perhatian publik. Media ramai memberitakan, timeline media sosial ikut panas, dan diskusi soal tuntutan mahasiswa kembali muncul.

Di era algoritma seperti sekarang, isu yang ramai dibahas punya peluang lebih besar untuk terus bergulir. Dan itu artinya, suara mahasiswa setidaknya sudah masuk ke radar percakapan nasional.

Baca juga: BEM Unira Malang Bikin Petisi Pemilu Damai Jangan Termakan Berita Bohong!

Antara Aspirasi dan Stabilitas

Di satu sisi, mahasiswa ingin menyuarakan kritik. Di sisi lain, aparat ingin menjaga stabilitas keamanan. Dua hal ini sering terlihat berseberangan, padahal sebenarnya bisa berjalan beriringan.

Aksi damai yang dikawal dengan pendekatan humanis adalah titik temu yang ideal. Karena pada akhirnya, demokrasi bukan soal siapa paling keras bersuara. Tapi soal bagaimana ruang kritik tetap ada tanpa menimbulkan kekacauan.

Baca juga: Melki Ketua BEM UI Masuk babak baru Diskorsing 1 Semester

Demo BEM UI Mabes dan Generasi Sekarang

Buat generasi sekarang, aksi seperti Demo BEM UI Mabes adalah pengingat bahwa politik dan hukum bukan cuma urusan elite. Mahasiswa masih memilih turun ke jalan. Polisi memilih mengawal dengan ribuan personel. Publik memilih menilai dan berdiskusi.

Semua punya peran masing-masing. Entah kamu setuju atau nggak dengan tuntutannya, satu hal yang pasti: ruang demokrasi tetap hidup ketika ada yang berani bersuara dan ada yang siap mengamankan tanpa membungkam. Dan di situlah dinamika negara ini terus berjalan. (dny)