SUARAGONG.COM – Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau timeline sosmed sekarang isinya makin nggak jelas, apalagi kalau udah kena spill konten bocil yang nggak sesuai umur? Nah, ada kabar besar buat kalian para orang tua, kakak, atau bahkan kalian yang masih di bawah umur. Pemerintah lagi serius mau “bersih-bersih” ruang digital! Di mana kali ini mengambil langkah Pembatasan Platform Digital buat Anak! No More Bocil Kematian?
Sayonara Bocil Kematian di Sosmed! DPRD Jatim Dukung Pembatasan Platform Digital Buat Anak
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur, Sri Wahyuni, baru saja memberikan apresiasi tinggi buat langkah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Intinya, beliau setuju banget kalau anak di bawah usia 16 tahun dibatasi aksesnya ke platform besar kayak TikTok, Instagram, sampai Roblox.
Bukan Pelit, Tapi Demi Proteksi!
Kenapa sih harus dibatasi? Sri Wahyuni ngejelasin kalau ruang digital itu ibarat hutan rimba. Tanpa pengawasan, anak-anak gampang banget kena paparan konten negatif, cyberbullying, sampai penipuan daring.
“Tanpa aturan yang jelas, mereka berisiko terpapar konten yang nggak sesuai umur. Ini langkah penting buat lindungi masa depan mereka,” — Sri Wahyuni.
Beberapa platform yang masuk daftar “diawasi ketat” antara lain:
- Sosmed: YouTube, TikTok, Instagram, Facebook, X (Twitter).
- Live Stream: Bigo Live.
- Gaming: Roblox.
Kalau ketahuan penggunanya di bawah 16 tahun, platform-platform ini wajib menonaktifkan atau menunda akses akun tersebut. Bye-bye dulu deh buat yang belum cukup umur!
Baca Juga : Hey Bocil, Akun TikTok dan Roblox Kamu Bakal di BAN Pemerintah!
Negara Non-Barat Pertama yang Berani “Lawan” Algoritma
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, juga ngasih pernyataan yang cukup nancep. Aturan ini dijadwalkan mulai berlaku 28 Maret 2026. Menariknya, Indonesia bakal jadi negara non-Barat pertama yang tegas soal batas usia digital ini.
“Pemerintah hadir supaya orang tua nggak berjuang sendirian lawan ‘raksasa algoritma’. Kita mau teknologi itu memanusiakan manusia, bukan menumbalkan masa kecil anak-anak,” ujar Meutya Hafid. Keren banget kan pesannya? Ini kode keras kalau teknologi harusnya bikin kita makin pinter, bukan malah kecanduan yang merusak tumbuh kembang.
Harus ada Tanggung Jawab Kolektif (Squad Work!)
Tapi ya, Sri Wahyuni juga ngingetin kalau aturan ini nggak bakal jalan kalau cuma pemerintah doang yang bergerak. Ini butuh kerja sama tim dari:
- Orang Tua: Sebagai filter pertama di rumah.
- Lembaga Pendidikan: Buat edukasi literasi digital.
- Penyedia Platform: Biar nggak cuma cari engagement, tapi juga peduli keamanan user.
Tujuannya cuma satu: Biar anak-anak tumbuh dengan sehat secara mental tanpa harus menanggung risiko berlebih dari dunia maya.
Teknologi itu cool, tapi keselamatan tetap nomor satu. Jadi, buat yang usianya masih di bawah 16 tahun, mending fokus eksplor hobi di dunia nyata dulu yuk sebelum terjun bebas di dunia digital yang makin liar! (Wahyu/Aye/sg)