SURABAYA, SUARAGONG.COM – Pemkot Surabaya lagi ngebut banget nih. Targetnya nggak main-main 181.867 Kartu Keluarga (KK) harus beres terdata sebelum 31 Maret 2026 lewat program Pendataan DTSEN Surabaya 2026. Buat yang belum familiar, DTSEN itu singkatan dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional. Bahasa gampangnya: ini database penting biar pemerintah tahu kondisi warganya secara real, bukan cuma asumsi.
Sampai sekarang, progresnya udah 1.026.192 KK atau sekitar 83 persen dari total sasaran. Sisanya? Sekitar 17 persen lagi masih dikejar buat konfirmasi dan survei lanjutan. Tapi ternyata, ada satu tantangan unik yang bikin tim survei harus ekstra effort perumahan elite alias cluster premium.
Pendataan DTSEN Surabaya 2026 Tembus Cluster Premium
Kalau biasanya pendataan identik dengan wilayah padat atau kampung, kali ini beda cerita. Justru salah satu PR terbesar dalam Pendataan DTSEN Surabaya 2026 adalah masuk ke kawasan perumahan elite yang aksesnya cenderung tertutup. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Surabaya, Eddy Christijanto, bilang kalau kuncinya ada di koordinasi lintas sektor.
Biar bisa masuk cluster premium, Pemkot nggak jalan sendirian. Mereka gandeng tiga pilar kecamatan camat, kapolsek, dan danramil. Jadi pendekatannya bukan asal datang, tapi resmi dan terkoordinasi.
Nggak cuma itu, Pemkot juga koordinasi dengan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) yang punya relasi langsung dengan para pengembang di Surabaya. Tujuannya simpel edukasi dan bikin warga merasa aman serta paham kalau ini bukan survei abal-abal.
Baca juga: Komisi D DPRD Surabaya Hearing Bahas Penonaktifan BPJS PBI
Warga Bisa Konfirmasi Mandiri Gak Perlu Nunggu
Buat kamu warga Surabaya yang merasa belum pernah disurvei, tenang. Gak perlu panik atau nunggu didatangi. Masih dalam rangkaian Pendataan DTSEN Surabaya 2026, Pemkot buka opsi konfirmasi mandiri sebelum 31 Maret 2026. Caranya gampang:
- Masuk ke laman resmi surabaya.go.id
- Masukkan NIK, tanggal lahir dan alamat domisili
Atau kalau lebih nyaman offline, langsung aja datang ke kantor kelurahan setempat. Setelah data masuk, maksimal satu minggu tim surveyor bakal hubungi lewat nomor HP yang didaftarkan. Jadi pastikan nomornya aktif, ya.
Yang perlu digarisbawahi, ini bukan cuma soal isi-isi data formalitas. Data ini bakal jadi dasar intervensi pemerintah. Artinya, program bantuan, layanan publik, sampai kebijakan sosial ke depan bakal ngacu dari sini.
Baca juga: PDI-P Surabaya Pastikan Semua Anggota Fraksi Setara
Bukan Cuma untuk Warga Prasejahtera
Menariknya, Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, juga angkat suara soal fenomena cluster yang awalnya tertutup. Menurutnya, setelah diedukasi, pengelola perumahan akhirnya mulai terbuka dan memberi akses untuk tim survei.
Ia juga menekankan satu hal penting DTSEN bukan cuma buat warga prasejahtera atau desil lima ke bawah. Warga di cluster premium (desil lima ke atas) juga tetap perlu terdata.
Kenapa? Karena database kota harus akurat dan menyeluruh. Selain itu, data DTSEN juga bisa dipakai untuk berbagai urusan administratif, termasuk layanan publik dan bahkan administrasi perbankan. Jadi ini bukan soal kaya atau nggak. Ini soal validitas data kota.
Baca juga: Pemkot Surabaya Kejar Validasi DTSEN
Kenapa Pendataan Ini Penting Banget?
Kadang kita mikir, “Ah, data doang.” Padahal, di balik data itu ada banyak keputusan besar. Kalau datanya salah atau nggak update:
- Bantuan bisa salah sasaran
- Program gak efektif
- Kebijakan jadi kurang tepat
Dengan Pendataan DTSEN Surabaya 2026, Pemkot lagi berusaha bikin sistem yang lebih presisi. Semua warga, tanpa kecuali, wajib terdata supaya gambaran sosial ekonomi kota benar-benar real. Dan kalau dipikir-pikir, ini juga soal tanggung jawab bersama. Pemerintah udah jemput bola, sekarang giliran warga buat kooperatif.
Baca juga: Pemkot Surabaya Borong Penghargaan BNN RI
Surabaya Menuju Database yang Lebih Akurat
Dari total target, 83 persen sudah beres. Itu angka yang cukup signifikan. Tapi 17 persen sisanya tetap penting. Karena dalam urusan data, satu persen aja bisa berpengaruh besar.
Pemkot Surabaya memilih pendekatan persuasif dan kolaboratif, termasuk menggandeng asosiasi pengembang seperti REI dan Apersi untuk menjembatani komunikasi dengan pengelola perumahan. Pendekatannya bukan konfrontatif, tapi edukatif.
Intinya sederhana semua warga Surabaya, dari kampung sampai cluster elite, punya peran yang sama dalam membangun database kota yang valid. Kalau kamu belum yakin sudah terdata atau belum, mending cek sekarang daripada kelewatan.
Karena pada akhirnya, data yang akurat bukan cuma buat pemerintah. Tapi juga buat kamu. (wahyu/dny)