SUARAGONG.COM – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) kembali menunjukkan eksistensinya di level internasional. Kali ini, FIB UB ikut ambil bagian dalam penguatan jejaring akademik global lewat partisipasi aktif di forum bergengsi UNESCO. Bertajuk Cultural Technology and Social Innovation Lab Launching Ceremony. Digelar di Assumption University of Thailand, Kampus Suvarnabhumi, pada 17–20 Januari 2026.
Ekosistem Akademik Global
Mewakili UB, dosen FIB UB Dr. Fitriana Puspita Dewi hadir langsung dalam forum internasional tersebut. Ia merupakan dosen Program Studi Sastra Jepang sekaligus Ketua Unit Laboratorium Ilmu Humaniora FIB UB. Kehadirannya bukan sekadar formalitas. Tapi benar-benar membawa nama UB ke dalam ekosistem akademik global yang membahas irisan seni, budaya, teknologi digital, dan inovasi sosial.
Forum ini merupakan bagian dari flagship program UNESCO International Work Station. Hasil kolaborasi strategis antara Assumption University of Thailand dan Peking University. Sejumlah institusi ternama dunia turut ambil bagian, mulai dari National University of Singapore, Gyeongguk University Korea Selatan, Shanghai Academy of Social Sciences, University of Hong Kong, hingga Politecnico di Milano.
Baca juga: UB Perkuat Diplomasi Budaya Bersama Yayasan Padma Sada Svargantara
FIB UB UNESCO Thailand Masuk Ekosistem Akademik Dunia
Rangkaian kegiatan diawali dengan peresmian Cultural Technology and Social Innovation Lab pada Sabtu (17/1/2026). Acara pembuka ini dilanjutkan dengan pameran internasional bertajuk “Resonance: China–Thailand Artist International Exchange Exhibition” serta gala dinner yang mempertemukan akademisi, seniman, dan peneliti lintas negara.
Pada Minggu (18/1/2026), peserta diajak melakukan kunjungan lapangan ke fasilitas pertanian dan peternakan milik Assumption University di Kanchanaburi. Kegiatan ini menjadi ajang eksplorasi langsung bagaimana inovasi berbasis budaya dan prinsip keberlanjutan bisa diterapkan secara nyata, bukan cuma jadi wacana akademik.
Agenda berlanjut pada Senin (19/1/2026) lewat International Symposium dan Round Table Discussion. Fokus diskusi diarahkan pada pengembangan program magister dan doktoral di bidang Cultural Technology and Social Innovation, sebuah bidang yang kini makin relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Baca juga: Vokasi UB Gandeng Sound of Borobudur!
Laboratorium UNESCO dan Posisi Strategis UB
Cultural Technology and Social Innovation Lab sendiri merupakan laboratorium baru di bawah naungan UNESCO International Work Station. Laboratorium ini menggabungkan seni dan budaya dengan teknologi digital serta isu kesehatan, dengan empat fokus utama Artify Village, AI Co-Creator, Digital Immersion, dan Wellness Guardian.
Dalam konteks ini, UB punya posisi yang cukup strategis. UB tercatat sebagai institusi kedua di dunia yang mendirikan International Work Station UNESCO, setelah Assumption University of Thailand. International Work Station UNESCO di UB resmi dibentuk pada November 2025, dan menjadi bukti keseriusan UB dalam mengembangkan kajian lintas disiplin berbasis budaya dan teknologi.
Menariknya, dalam forum tersebut Prof. Yong (Hardy) Xiang UNESCO Chair on Creativity and Sustainability in Rural Areas sekaligus Dekan Institute of Cultural Industries Peking University menyoroti potensi Kota Malang sebagai pusat pengembangan industri kreatif dan media art. Potensi ini dinilai sejalan dengan kekuatan akademik UB, khususnya FIB, yang selama ini konsisten mengembangkan kajian seni, budaya, dan teknologi digital.
Baca juga: Trie Utami Dorong Diplomasi Budaya Borobudur di UB
Peran FIB UB Lewat Batikpedia.cloud
Kontribusi Dr. Fitriana dalam forum ini juga tak bisa dilepaskan dari kiprahnya mendukung program Globalizing UB. Salah satu wujud nyatanya adalah pengembangan platform batikpedia.cloud.
Platform ini menjadi rumah virtual studi batik Jawa Timur, lengkap dengan basis data batik, galeri virtual, hingga aplikasi mobile. Batikpedia.cloud kerap disebut sebagai contoh konkret penerapan digital humanities berbasis kearifan lokal yang dikembangkan oleh FIB UB.
Inisiatif ini membuka peluang kolaborasi internasional yang lebih luas, terutama dalam pengembangan humaniora digital yang tetap berakar pada budaya lokal, tapi relevan dengan kebutuhan global.
Baca juga: FIB UB Resmi Luncurkan Website dan Aplikasi Mobile “Batikpedia”
Dosen FIB UB Jadi Advisory Expert hingga 2029
Puncak dari partisipasi FIB UB dalam forum internasional ini ditandai dengan penunjukan Dr. Fitriana Puspita Dewi sebagai Advisory Expert pada Cultural Technology and Social Innovation Lab. Ia juga dipercaya menjadi Supervisor Program Doktor Cultural Technology and Social Innovation hingga tahun 2029.
Penunjukan ini mencerminkan tingginya kepercayaan komunitas akademik internasional terhadap kapasitas dosen FIB UB. Sekaligus, ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi jangka panjang antara UB, Assumption University of Thailand, dan Peking University.
Lewat keterlibatan aktif ini, FIB UB semakin menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan humaniora yang adaptif terhadap kemajuan teknologi dan dinamika global, sekaligus berkontribusi nyata dalam meningkatkan reputasi internasional Universitas Brawijaya. (dts/Humas UB/dny)