Djoko Prihatin: Yohanes Masuk Golkar karena Cinta

Djoko Prihatin dan Yohanes Edward Yusuf

Share

MALANG, SUARAGONG.COM – Partai Golkar Kota Malang terus menunjukkan langkah inklusif dengan merangkul berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas Tionghoa dan Kristiani. Langkah ini jadi bagian dari strategi membangun kebersamaan menuju 2029, sekaligus mempertegas bahwa politik bisa jadi ruang kolaborasi, bukan sekadar kompetisi.

Komitmen Jajaran Baru Golkar

Komitmen ini ditegaskan dalam pernyataan terbaru jajaran internal partai yang menyoroti pentingnya keberagaman di tubuh Golkar Kota Malang.

“Sangat berterima kasih dan bersyukur dengan rasa memperkaya keanekaragaman teman kader yang ada di Golkar Kota Malang. Untuk menuju kebersamaan yang kita mau tuju 2029 nanti.” ujar Djoko Prihatini

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberagaman bukan hanya simbolik, tapi benar-benar dianggap sebagai kekuatan utama.

Baca juga: Yohanes Edward Yusuf Amunisi Baru Golkar dan “Ahok-nya” Malang

Peran Strategis Kader Kristiani dan Tionghoa

Dalam struktur terbaru, Yohanes dipercaya masuk sebagai Wakil Sekretaris Bidang Kerohanian. Posisi ini dinilai strategis karena menjadi jembatan komunikasi dengan komunitas Kristiani dan etnis Tionghoa di Kota Malang.

“Saya harap memang dari Pak Yohanes sendiri beliau masuk di struktur bidang Wakil Sekretaris Bidang Kerohanian. Harapan kami ini menjadi garis depan kami untuk menceritakan dan menginformasikan yang ada di Kristiani dan Tionghoa bahwa rumah kami terbuka untuk siapapun yang ingin berkarya.”

Golkar ingin mengubah stigma lama soal politik. Mereka sadar, masih banyak masyarakat yang melihat politik sebagai sesuatu yang keras dan penuh intrik.

“Mengubah dogma-dogma bahwa politik itu tidak baik, politik itu kasar, politik itu jahat seperti itu. Harapan kami Pak Yohanes bisa menyuarakan itu kepada lingkungan sekitar beliau di jajaran umat Kristiani atau di teman-teman Tionghoa lainnya.” lanjutnya.

Pesan yang ingin ditegaskan sederhana politik juga bisa jadi ladang pengabdian.

Baca juga: Lewat RUU Politik Golkar Usulkan Pilkada Tak Langsung

Golkar Kota Malang Tionghoa dan Representasi Nyata

Saat ini, ada tujuh kader etnis Tionghoa yang aktif di Golkar Kota Malang. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi jadi simbol bahwa partai berlambang pohon beringin ini membuka ruang partisipasi seluas-luasnya. Langkah ini dinilai sebagai refleksi nyata dari kondisi Indonesia yang plural. Kota Malang sendiri dikenal sebagai kota pendidikan dengan keberagaman latar belakang budaya dan agama. Golkar melihat kontribusi komunitas Tionghoa di Kota Malang sebagai bagian penting dari pembangunan daerah. Dengan latar belakang tersebut, Golkar ingin memperkuat kolaborasi lintas golongan.

“Salah satunya kita memang mengapresiasi bahwa perannya teman-teman Tionghoa di Kota Malang tidak bisa dianggap sepele.Karena itu kami ingin merangkul semua golongan. Kami ingin merangkul bersama-sama bagaimana caranya bertukar pikiran dan bertukar ide dan gagasan sehingga semua bisa memajukan Kota Malang.”

Baca juga: Golkar Jatim Resmikan Rumah Aspirasi Wadah Penyerapan Suara Rakyat

Politik Inklusif Menuju 2029

Langkah Golkar Kota Malang Tionghoa ini bukan cuma soal komposisi kader, tapi arah politik jangka panjang. Tahun 2029 menjadi target konsolidasi kebersamaan lintas komunitas.

Narasi yang dibangun juga mencoba lebih membumi dan relevan dengan generasi muda. Politik tak lagi harus terkesan kaku dan penuh sekat. Justru sebaliknya, ruang politik diharapkan jadi tempat diskusi ide, gagasan, dan kontribusi nyata.

Dengan menggandeng komunitas Kristiani dan Tionghoa, Golkar ingin mempertegas bahwa rumah politik terbuka bagi siapa saja yang ingin mengabdi. Tidak peduli latar belakang agama atau etnis, selama punya niat membangun Kota Malang, pintunya terbuka.

Di tengah dinamika politik lokal yang terus bergerak, pendekatan inklusif seperti ini bisa jadi warna baru. Apalagi Kota Malang dikenal sebagai kota yang plural, kreatif, dan penuh potensi.

Menuju 2029, Golkar Kota Malang tampaknya ingin memastikan satu hal keberagaman bukan sekadar slogan, tapi fondasi untuk melangkah bareng. Dan kalau pesan ini benar-benar sampai ke akar rumput, bukan gak mungkin wajah politik lokal bakal terasa lebih adem, kolaboratif, dan relevan buat semua kalangan. (dny)