Harga Kedelai Meroket, Pedagang Tempe di Kepanjen Mengeluh

Sejumlah produsen tempe di Kabupaten Malang mengeluhkan kenaikan harga kedelai yang terjadi sejak awal Januari 2026.

Share

SUARAGONG.COM – Sejumlah produsen tempe di Kabupaten Malang mengeluhkan kenaikan harga kedelai yang terjadi sejak awal Januari 2026. Lonjakan harga bahan baku tersebut membuat keuntungan para pengrajin semakin menipis.

Kedelai Naik, Untung Menipis: Curhat Pengrajin Tempe Penarukan

Salah satunya dirasakan Suharni, pengrajin tempe asal Desa Penarukan, Kecamatan Kepanjen. Ia menyebut harga kedelai naik dari Rp8.400 menjadi Rp9.600 per kilogram.

“Kenaikan ini tentu menyusahkan kami, karena keuntungan jadi semakin kecil,” ungkap Suharni saat ditemui, Kamis (29/1/2026).

Keuntungan Turun Hingga Separuh

Suharni menjelaskan, sebelum harga kedelai naik, ia mampu meraup keuntungan bersih sekitar Rp300 ribu dari produksi 30 kilogram kedelai. Namun kini, pendapatannya turun drastis menjadi sekitar Rp150 ribu.

Meski begitu, Suharni mengaku tidak berani menaikkan harga jual tempe.

“Harga jualnya paten Rp300 per kotak. Jadi kami menyiasatinya dengan mengecilkan ukuran tempe,” jelasnya.

Pengrajin Lain Ikut Terdampak

Keluhan serupa juga disampaikan Satuni, pengrajin tempe lainnya di wilayah Kepanjen. Bagi Satuni, produksi tempe merupakan sumber penghasilan utama keluarganya setelah sang suami mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, Satuni memilih memperkecil ukuran tempe sekaligus menambah jumlah produksi. Jika masih ada sisa dagangan, tempe tersebut akan dijajakan berkeliling kampung oleh suaminya.

“Kalau ada sisa dan ada waktu, suami saya suruh menjajakan ke kampung-kampung,” tuturnya.

Baca Juga : Pemantauan Harga Bahan Pokok Jelang Nataru di Probolinggo

“Yang Penting Bisa Makan Sehari-hari”

Di tengah harga kedelai yang belum stabil, Satuni mengaku tak lagi berekspektasi tinggi terhadap hasil penjualan.

“Yang penting cukup buat makan sehari-hari saja sudah syukur,” bebernya.

Ia bersyukur karena saat ini tidak memiliki tanggungan berat, sebab anak-anaknya sudah berkeluarga semua.

“Yang penting masih bisa produksi saja sudah bersyukur, meskipun keuntungannya tipis,” pungkasnya. (Sur/Aye/sg)