Jejak Soto Kambing Malang dalam Buku “Semangkuk Lumintu Ing Brantas”

Share

SUARAGONG.COM – Kisah panjang Soto Kambing Malang akhirnya dibedah secara mendalam melalui buku Semangkuk Lumintu Ing Brantas, karya Ary Budiyanto dan Nedi Putra AW. Bedah buku tersebut digelar di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB), Kamis (6/2/2026) pukul 14.00 WIB.

Mengurai Jejak Soto Kambing Malang Lewat Buku “Semangkuk Lumintu Ing Brantas”

Buku ini tidak hanya membahas soal rasa, tetapi juga menelusuri sejarah, relasi kekerabatan para penjual, hingga dimensi sosial budaya di balik kuliner khas Malang tersebut.

Ary Budiyanto menjelaskan Buku Semangkuk Lumintu Ing Brantas (aye/sg)

Nedi Putra AW menjelaskan, penulisan buku ini berangkat dari kegelisahan sederhana: minimnya referensi mendalam tentang Soto Kambing Malang.

“Kami mencoba menelaah apa itu soto kambing dan mengapa harus dicatat serta ditulis. Dalam perjalanannya kami menemukan bahwa soto kambing ini cukup unik, karena sementara ini banyak ditemukan di Malang,” ujarnya.

Jejak Peranakan Tionghoa hingga Kekerabatan Penjual

Dalam forum diskusi, Ari Budiyanto—dosen sekaligus rekan penulis—mengungkap bahwa soto pada awalnya berasal dari pengaruh peranakan Tionghoa. Fakta ini menjadi pengetahuan baru bagi banyak peserta.

Tak hanya itu, Soto Kambing Malang juga memiliki cerita kekerabatan antarpedagang yang telah berlangsung hingga generasi ketiga dan keempat.

“Dari sini kami menulis supaya tradisi kuliner ini tidak hilang. Kalau sampai hilang, generasi berikutnya hanya tinggal cerita,” lanjut Nedi.

Film Pendek “Semangkuk Lumintu Ing Brantas” (Aye/sg)

Ia mencontohkan beberapa sentra legendaris seperti Ngelo yang kini nyaris tak berbekas, padahal pada era 1980-an Soto Kambing Malang identik dengan kawasan tersebut.

“Kalau tidak ditulis, siapa yang akan menulis? Kami sendiri saat mencari referensi itu sangat sulit. Banyak tulisan, tapi kebanyakan hanya review, tidak sedalam yang kami kerjakan,” tambahnya.

Sementara itu, penulis pertama buku Semangkuk Lumintu Ing Brantas, Pak Ary Budiyanto menegaskan bahwa Soto Kambing Malang merupakan jenis soto yang unik karena tumbuh dan besar di wilayah Kabupaten Malang, meski kini telah menyebar ke berbagai daerah. Ia menyebut kawasan Ngelo sebagai salah satu sentra paling terkenal pada masanya.

“Soto kambing ini jenis soto yang unik, berasal dari Kabupaten Malang. Sekarang memang sudah menyebar ke mana-mana, tapi tumbuh dan besarnya di sini. Dulu yang paling terkenal itu Ngelo,” ujarnya.

Ia berharap buku ini tidak hanya menjadi arsip pengetahuan, tetapi juga membuka ruang kreativitas bagi generasi berikutnya, tanpa meninggalkan akar tradisi.

“Di buku ini sudah ada resepnya, jadi bisa diimplikasikan sambil tetap makan di tempat-tempat yang resmi. Itu juga memberi ruang untuk berkreasi, supaya tidak punah. Meskipun berubah pasti, itu niscaya, tapi akarnya jangan sampai dilupakan. Semumpung masih ada,” tambahnya.

Ciri Khas Soto Kambing Malang: Koya hingga Kuah Bold

Buku ini juga mengulas ciri khas Soto Kambing Malang, mulai dari penggunaan koya, perpaduan rasa asin dan manis dengan kecap, hingga pemakaian jeroan yang menjadi karakter utama.

Menariknya, meski masyarakat Jawa Timur dikenal menyukai rasa asin, Soto Kambing Malang justru menghadirkan sentuhan manis yang lazim ditemukan di daerah seperti Solo atau Yogyakarta.

“Rata-rata soto kambing itu berdampingan dengan jeroan. Itu yang membuatnya unik,” kata Nedi.

Dari delapan maestro soto kambing yang diteliti, para penulis menemukan dua karakter utama: warung “light” yang awalnya berangkat dari soto ayam, dan warung “bold” yang sejak awal konsisten menjual soto kambing dengan kuah lebih pekat dan rasa lebih kuat.

“Yang bold itu benar-benar full, kuahnya lebih tebal dan heavy. Tapi semuanya punya ciri khas masing-masing, termasuk dari jenis koya dan bahan rahasia dapur,” jelasnya.

Nedi Putra AW dan Wartawan Suaragong (Aye/sg)

Baca Juga : Insan Pendidikan se-Jatim Kompak Luncurkan 1.580 Buku, Pecahkan Rekor MURI

Lumintu: Tak Ramai, Tapi Terus Ada

Judul Lumintu sendiri dipilih karena menggambarkan kondisi warung-warung soto kambing tradisional: tidak selalu ramai, namun terus bertahan.

Selama riset lebih dari tiga bulan, Nedi melihat pola yang sama di banyak warung.

“Tidak pernah benar-benar rame, tapi selalu ada pembeli. Rame-kosong-rame-kosong, tapi mereka bertahan. Beda dengan kuliner yang sedang hype,” tuturnya.

Ia berharap setelah buku ini dibaca, masyarakat mau kembali meramaikan warung-warung Soto Kambing Malang agar tradisi tersebut tetap hidup.

Selain itu, buku ini diharapkan menjadi pintu pembuka bagi penelitian lanjutan, mulai dari sisi gizi hingga jenis kambing yang digunakan.

“Buku ini memang bukan yang pertama tentang soto, tapi mungkin yang layak jadi referensi pertama untuk Soto Kambing Malang, karena kami membahasnya dari sisi sosial budaya,” pungkasnya. (Aye/sg)