Perjalanan Liar Zainal Emka dalam Dunia Jurnalistik

Pengajar Jurnalistik Zainal Arifin Emka, saat ditemui di Aula Kantor Pemkab Situbondo (sc: imam)

Share

SITUBONDO, SUARAGONG.COM – Nama Zainal Arifin Emka udah nggak asing banget di Jawa Timur. Beliau ini wartawan senior yang jam terbangnya udah nggak main-main. Dari muda sampai sekarang, hidupnya bener-bener kebentuk dari perjalanan karier wartawan senior yang panjang dan penuh cerita. Awalnya, Zainal cuma rajin baca koran. Dari situ muncul keinginan, “Eh, kayaknya keren juga jadi wartawan.” Dulu banget, dia malah bercita-cita jadi tenaga ajar.

“Dari SD sampai SMA tuh maunya jadi pendidik alias tenaga ajar,” kenangnya santai.

Dari Mahasiswa Komunikasi ke Dunia Liputan

Setelah lulus SMA dan kondisi ekonomi yang pas-pasan, Zainal tetap ngotot kuliah dan ambil jurusan Ilmu Komunikasi. Dari sinilah ia makin nyemplung ke dunia jurnalistik dan mulai ngeh soal teknis liputan, reportase, sampai cara nulis berita yang enak dibaca.

Di kampus, dia bahkan sempat bikin perusahaan media bareng temen-temennya, namanya Indonesia Membangun. Sayangnya, cuma bertahan dua tahun karena masalah modal.

“Ya karena modal, media itu akhirnya berhenti,” ujarnya kalem.

Baca juga: Prabowo Subianto Menjawab Pertanyaan Tujuh Jurnalis Senior

Meniti Karier di Media Besar

Setelah media pertamanya bubar, semangatnya justru makin kebakar. Ia daftar ke beberapa media besar di Jawa Timur dan akhirnya diterima di Surabaya Post, salah satu koran paling nge-top pada zamannya.

“Dulu oplahnya ribuan sampai puluhan ribu. Besar banget,” cerita pria usia 75 tahun ini.

Di Surabaya Post, Zainal mulai dari reporter, naik level ke posisi penting, sampai akhirnya jadi Wakil Pemred. Ini jelas jadi salah satu momen paling prestisius dalam perjalanan karier wartawan senior miliknya.

Baca juga: Jasad Jurnalis India Ditemukan di Tangki Septik

Dari Redaksi ke Ruang Kelas

Setelah Surabaya Post tutup, Zainal sempat dipercaya mengelola media berita sore, meski hanya bertahan dua tahun. Tapi kariernya nggak berhenti di situ. Ilmu jurnalisme yang udah mengakar kuat akhirnya ia bawa ke dunia pendidikan. Zainal mengajar di STIKOSA AWS (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya) sebagai dosen jurnalistik. Bayangin 33 tahun ngajar! Nggak cuma ngasih teori, tapi juga jadi mentor buat ribuan mahasiswa yang ingin terjun ke dunia pers.

Baca juga: Kritik Jurnalis TV di Jombang: Sulitnya Peliputan di Polres Jadi Sorotan

Warisan Seorang Wartawan Senior

Buat Zainal, profesi wartawan itu mulia.

“Memberikan informasi akurat untuk masyarakat luas,” ujarnya sambil membaca buku karyanya sendiri.

Dari baca koran waktu kecil, sampai jadi sosok senior yang dihormati perjalanan seorang Zainal Arifin Emka bukan cuma panjang, tapi juga inspiratif buat generasi muda yang pengen terjun ke dunia jurnalistik. (cik/dny)