Ketua Komisi B DPRD Jatim Warning Pemerintah Soal Aturan Nikotin

Isu kesehatan vs ekonomi petani lagi memanas, Di mana Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur (Jatim) Warning pemerintah soal Aturan Nikotin

Share

SUARAGONG.COM – Isu kesehatan vs ekonomi petani lagi memanas nih, guys. Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur (Jatim), Anik Maslachah, baru aja ngasih warning keras ke pemerintah pusat, Soal Aturan Nikotin Rokok. Intinya: Boleh aja mau bikin aturan sehat, tapi jangan sampai bikin nasib petani tembakau kita jadi ‘abu’.

Jangan Sampai Petani Tembakau ‘Kena Mental’! Ketua Komisi B DPRD Jatim Warning Pemerintah Soal Aturan Nikotin

Pemicunya adalah karena aturan yang katanya direncanakan penurunan kadar nikotin (dari 1,5 mg ke 1 mg) dan tar (dari 20 mg ke 10 mg). Dan merupakan turunan dari PP No. 28 Tahun 2024. Secara teori sih bagus buat kesehatan, tapi praktisnya? Bisa jadi mimpi buruk buat industri kretek lokal.

Tembakau Lokal Bukan Barang ‘Pabrikan’ Biasa Politisi PKB ini ngingetin kalau tembakau asli Indonesia itu punya karakteristik unik. Secara alami, kadar nikotin dan tar-nya emang tinggi. Kalau aturannya dipukul rata tanpa persiapan, Anik khawatir ini bakal jadi “karpet merah” buat bahan baku impor masuk.

“Tujuannya baik buat lindungi kesehatan, tapi pemerintah juga wajib lindungi petani tembakau yang hidup dari sektor ini,” tegas Anik.

Solusinya? Jangan Main ‘Gas Pol’! Biar nggak ada yang dikorbankan, Anik nawarin beberapa langkah strategis yang lebih smooth:

  • Adaptasi Teknologi: Dorong riset buat kembangin varietas tembakau rendah nikotin tapi tetep punya aroma khas kretek Indonesia.
  • Dukungan Fiskal: Petani jangan dibiarin berjuang sendiri. Kasih bantuan bibit unggul, pupuk, sampai pendampingan teknis.
  • Penerapan Bertahap: Jangan langsung diketok palu sekarang juga. Kasih waktu buat transisi alias gradual approach.

Baca Juga : Izin PBG Sulit, Perusahaan Rokok di Kabupaten Malang Terancam Hengkang

“Kalau kebijakan ini langsung gas tanpa persiapan matang, sama aja kita ‘membunuh’ petani lokal dan buka kran impor lebar-lebar,” tukasnya dengan nada serius.

The Bottom Line: Komisi B DPRD Jatim pengen ada jalan tengah (win-win solution). Kesehatan masyarakat dapet, tapi keberlangsungan hidup petani tembakau di Jatim juga tetep aman terkendali. Tapi ya gimana pun itu semoga bisa dapat solusi tanpa ada yang dikorbankan (Wahyu/Aye/sg)