Marning Khas Probolinggo Banjir Pesanan Jelang Lebaran

FT : Marning Khas Probolinggo Banjir Pesanan Jelang Lebaran/SC : DUH

Share

SUARAGONG.COM – Siapa yang nggak kenal marning? Camilan gurih berbahan dasar jagung ini memang punya tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia. Marning adalah jagung yang digoreng hingga kering dan renyah, dengan berbagai varian rasa seperti original, pedas, keju, hingga manis. Karena teksturnya yang kriuk dan rasanya yang khas, marning sering dijadikan camilan santai atau teman ngobrol yang asyik. Nah, kalau ngomongin marning, ada satu tempat di Kota Probolinggo yang jadi pusat produksi camilan ini, yaitu Kampung Marning di Kelurahan Kedunggaleng, Kecamatan Wonoasih.

Menjelang hari raya, kampung ini selalu kebanjiran pesanan. Ramadan tahun ini pun tidak berbeda, bahkan permintaan marning jagung meningkat tajam, membawa berkah bagi para pelaku usaha di daerah tersebut.

Permintaan Melonjak Tajam Probolinggo Jelang Hari Raya

Menurut Anas Fathullah, Koordinator Kampung Marning, saat ini ada 29 pelaku usaha yang setiap harinya memproduksi marning dalam jumlah besar.

“Rata-rata setiap pengusaha memproduksi antara 1 hingga 5 ton marning jagung. Ramadan selalu menjadi momen emas bagi kami karena permintaan meningkat drastis,” ujar Anas.

Banyak orang mencari marning untuk dijadikan stok camilan selama Ramadan dan Lebaran. Apalagi, marning dikenal sebagai makanan ringan yang awet dan nggak gampang basi, sehingga cocok buat disimpan lama. Selain pelanggan lokal, Kampung Marning juga menerima pesanan dari berbagai daerah seperti Lumajang, Malang, Tangerang, hingga Jakarta.

Baca Juga : Wisata Kuliner Selama Ramadan yang Menggoda

Marning Mentah vs. Marning Matang: Mana yang Lebih Laris?

Ternyata, marning mentah masih menjadi favorit banyak orang! Banyak pelanggan yang lebih suka membeli marning mentah karena bisa mengolahnya sendiri sesuai selera. Dengan begitu, mereka bisa menambahkan bumbu atau cara pengolahan yang sesuai dengan selera masing-masing.

Namun, bukan berarti marning matang kalah saing. Versi siap konsumsi ini juga tetap laris manis, terutama bagi mereka yang ingin langsung menikmati tanpa repot memasak lagi. Biasanya, marning matang dikemas dalam berbagai ukuran, dari yang kecil untuk konsumsi pribadi hingga yang besar untuk dijadikan oleh-oleh atau camilan bersama keluarga.

Baca Juga : Bupati Jember Buka Festival Kuliner Pandalungan 2025, Apresiasi UMKM

Kesibukan di Kampung Marning Saat Ramadan

Kesibukan pun terasa di setiap sudut Kampung Marning. Aroma jagung yang sedang digoreng semerbak memenuhi udara, sementara para pekerja sibuk memilah, menggoreng, dan mengemas marning agar siap dikirim ke berbagai daerah.

Proses pembuatan marning sendiri cukup panjang. Dimulai dari pemilihan jagung berkualitas, lalu jagung direndam dan dikeringkan sebelum digoreng hingga kering dan renyah. Setelah itu, marning akan dibumbui dan dikemas sebelum akhirnya siap dijual. Semua tahapan ini dilakukan dengan cermat untuk memastikan marning yang dihasilkan memiliki kualitas terbaik.

Baca Juga: Kue Kering yang Selalu Hadir Saat Lebaran

Kampung Marning: Contoh Sukses UMKM Lokal

Kampung Marning di Kedunggaleng bukan hanya sekadar pusat produksi camilan, tetapi juga bukti bahwa usaha rumahan bisa berkembang pesat dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dengan modal kreativitas dan semangat kerja keras, para pengusaha di kampung ini berhasil membangun bisnis yang menjanjikan.

Bahkan, beberapa pengusaha di Kampung Marning sudah mulai merambah ke pasar digital. Mereka memanfaatkan media sosial dan marketplace untuk memperluas jangkauan pasar. Dengan begitu, marning tidak hanya dikenal di Probolinggo saja, tetapi juga mulai menjangkau pelanggan di berbagai daerah di Indonesia. (Duh/aye)

Baca Juga Artikel Berita Lain dari Suaragong di Google News