Musrenbang Kedunggaleng, Warga Soroti Banjir dan Keterbatasan TPS

Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan di Kota Probolinggo mulai digelar sejak 19 hingga 28 Januari 2026.

Share

SUARAGONG.COM – Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan di Kota Probolinggo mulai digelar sejak 19 hingga 28 Januari 2026. Wakil Wali Kota Probolinggo Ina Dwi Lestari membuka langsung Musrenbang Kelurahan Kedunggaleng, Kecamatan Wonoasih, Jumat (23/1/2026).

Musrenbang Kelurahan Kedunggaleng Dibuka: Aspirasi Infrastruktur hingga Persampahan Mengemuka

Musrenbang ini menjadi bagian penting dalam tahapan penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Probolinggo Tahun 2027. Forum tersebut dimanfaatkan masyarakat sebagai ruang partisipatif untuk menyampaikan aspirasi, kebutuhan, serta prioritas pembangunan yang diharapkan dapat direalisasikan pada tahun mendatang.

Libatkan Beragam Elemen Masyarakat

Musrenbang Kelurahan Kedunggaleng diikuti berbagai unsur masyarakat, mulai dari perwakilan RT dan RW, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Karang Taruna, Kelompok Disabilitas Kelurahan (KDK), tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga perangkat daerah terkait.

Keterlibatan lintas elemen ini menunjukkan bahwa musrenbang dirancang sebagai forum terbuka yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi warga untuk menyampaikan aspirasi sesuai kebutuhan wilayah dan kelompok masing-masing.

Puluhan Usulan dari Pra Musrenbang

Camat Wonoasih Eko Candra Wirawan menjelaskan, sebelum musrenbang kelurahan digelar, Kelurahan Kedunggaleng telah melalui tahapan sosialisasi dan pra musrenbang. Dari tahapan tersebut, sejumlah usulan prioritas berhasil dihimpun.

Pada bidang infrastruktur dan pengembangan wilayah tercatat sebanyak 36 usulan. Bidang pemerintahan dan pembangunan manusia menyumbang 7 usulan, sementara bidang ekonomi terdapat 5 usulan.

“Usulan ini nantinya akan kami kawal bersama LPM dan Pak Lurah untuk dibawa ke musrenbang kecamatan hingga tingkat kota. Harapannya, usulan kewilayahan ini pada tahun 2027 bisa direalisasikan,” ujar Camat Eko.

Baca Juga : DP3APPKB Situbondo Gelar Musrenbang Anak 2025

Sungai dan Ancaman Banjir Jadi Sorotan

Dalam forum tersebut, Camat Eko juga menyoroti keberadaan sungai besar yang melintasi wilayah Kedunggaleng. Ia menyebutkan, jika sungai meluap, dampaknya berpotensi menimbulkan banjir di sejumlah wilayah Kota maupun Kabupaten Probolinggo.

Salah satu persoalan krusial adalah kerusakan plengsengan sungai di salah satu titik. Kerusakan ini dinilai perlu segera ditangani untuk meminimalisasi risiko banjir. Namun, Camat Eko menegaskan bahwa kewenangan perbaikan plengsengan tersebut berada di luar Pemerintah Kota Probolinggo.

Keterbatasan TPS dan Persoalan Sampah

Selain persoalan sungai, isu persampahan juga mengemuka. Camat Wonoasih mengungkapkan keterbatasan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) sementara di wilayahnya mendorong sebagian warga membuang sampah ke sungai atau membuat juglangan.

“TPS terbatas, sementara kontainer mayoritas digunakan untuk Pasar Wonoasih. Kami pernah mengusulkan tambahan TPS, namun hingga kini belum ada tindak lanjut,” terang Eko.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan jika tidak segera ditangani secara menyeluruh.

Wawali Ina: Anggaran Terbatas, Perlu Skala Prioritas

Menanggapi berbagai aspirasi yang disampaikan warga, Wakil Wali Kota Probolinggo Ina Dwi Lestari menegaskan bahwa tidak semua usulan dapat direalisasikan dalam waktu bersamaan. Keterbatasan anggaran, terutama dari pemerintah pusat, menjadi salah satu faktor penentu.

“Tugas kami menjalankan amanah untuk masyarakat, terutama urusan pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Kalau tiga ini sudah berjalan dan ada bonus anggaran, maka yang lain bisa dilaksanakan. Tapi karena kucuran anggaran terbatas, maka perlu ada prioritas,” jelas Ina.

Ia menekankan bahwa musrenbang menjadi forum penting bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi sekaligus ikut mengawasi arah kebijakan pembangunan.

Dorong Pemilahan Sampah dari Rumah

Terkait persoalan persampahan, Wawali Ina meminta Camat Wonoasih segera bersurat sebagai tindak lanjut. Ia juga mengingatkan bahwa ketergantungan pada TPA Bestari tidak bisa terus dilakukan karena volume sampah yang semakin meningkat.

Wawali Ina mengajak masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah tangga dan mengaktifkan bank sampah di setiap wilayah. Menurutnya, sampah memiliki nilai ekonomis jika dikelola dengan baik.

“Sampah ini bernilai ekonomis. Mari kita mulai dari rumah, pilah sampah plastik, ditabung di Bank Sampah, bahkan bisa ditukar emas. Itu bisa dan ada,” ajaknya.

Tinjau Plengsengan dan Dialog dengan Warga

Usai membuka musrenbang, Wawali Ina bersama Sekretaris Bapperida Gofur Effendi, Camat Wonoasih, dan Lurah Kedunggaleng meninjau langsung kondisi plengsengan sungai yang dikeluhkan warga. Rombongan menyusuri pematang sawah untuk melihat kondisi riil di lapangan.

Selain plengsengan, perhatian juga tertuju pada kondisi pagar jembatan yang dinilai sudah perlu perbaikan. Dalam kesempatan tersebut, Wawali Ina juga berdialog dengan warga RW 4 yang tengah menjemur jagung. Kelurahan Kedunggaleng sendiri dikenal sebagai Kampung Marning.

Warga kembali menyampaikan keluhan banjir yang kerap terjadi saat sungai meluap. Aspirasi tersebut menjadi catatan penting yang diharapkan dapat ditindaklanjuti dalam tahapan perencanaan pembangunan ke depan. (Duh/aye/sg)