Opak Gambir “Maharis” Setia Temani Malang Sejak 2005

Minggir Dulu yang Modern, Ini The Real Legend! Opak Gambir “Maharis” Setia Temani Malang Sejak 2005

Share

SUARAGONG.COM – Malang lagi hype dessert Korea? Boleh. Lagi rame croffle, donat bomboloni, sampai kue viral TikTok? Gas.  Tapi jangan lupa, ada jajanan tradisional yang diam-diam konsisten dan tetap dicari: Opak Gambir “Maharis” milik Hartiningsih di Kelurahan Sukoharjo, Kota Malang.

Sejak 2005, usaha rumahan ini bertahan dengan satu kunci: rasa yang “antep” dan sistem pre-order (PO) yang bikin eksklusif.

Berawal dari THR yang Hilang, Lahir Camilan Andalan Lebaran

Hartiningsih merintis usaha ini setelah berhenti bekerja di restoran demi fokus mengurus anak. Saat tak lagi menerima THR, muncul dorongan untuk punya penghasilan sendiri. Dari situlah ia belajar membuat opak gambir dari saudaranya.

“Awalnya coba-coba, praktik sendiri di rumah. Tidak langsung sempurna. Saya perbaiki rasa dan kegurihannya sampai ketemu resep yang pas,” ujarnya.

Dari dapur rumahan, Opak Gambir “Maharis” pelan-pelan dikenal. Bukan cuma karena tradisionalnya. Tapi karena teksturnya yang renyah dan rasanya yang mantap — bukan yang hambar lalu bikin seret di tenggorokan.

Minggir Dulu yang Modern, Ini The Real Legend! Opak Gambir “Maharis” Setia Temani Malang Sejak 2005

5 Varian Rasa, dari Original sampai Premium Cokelat

Saat ini tersedia lima varian rasa:

  • Original
  • Wijen
  • Jahe
  • Keningar
  • Cokelat

Varian premium jadi incaran, terutama untuk hampers Lebaran. Bahkan dalam satu pesanan, pelanggan bisa memesan hingga 20 kilogram untuk dikemas bareng kue kering lainnya.

Harga reguler dibanderol Rp110 ribu per kilogram, sedangkan premium Rp135 ribu per kilogram. Tahun ini, harga baru naik Rp5 ribu per kilogram setelah bertahun-tahun bertahan meski bahan baku seperti gula, telur, wijen, dan cokelat terus merangkak naik.

“Beberapa tahun tidak saya naikkan karena takut pelanggan lari. Tahun ini baru saya sesuaikan,” katanya.

Bukan Cuma Bikin, Tapi Pakai Hati (dan Otot)

Yang bikin opak gambir ini beda bukan cuma resepnya, tapi prosesnya.

Hampir semua tahapan produksi dikerjakan sendiri oleh Hartiningsih. Untuk varian premium ukuran kecil, satu resep bisa memakan waktu hingga dua hari dan menghasilkan sekitar dua kilogram produk matang. Ukuran besar bisa selesai dalam satu hari.

Selama Ramadan, ia rata-rata memproduksi satu hingga dua kilogram per hari, tergantung kondisi fisik. Menjelang Lebaran, sudah sekitar 15 pesanan masuk, termasuk dari reseller.

“Sulit cari tenaga yang cocok. Cara pegang dan tekanannya beda sedikit saja bisa memengaruhi hasil. Bisa keras atau bantat,” ujarnya.

Yes, ini bukan camilan instan. Ini level sabar dan telaten.

Jualan Tanpa Etalase, Andalkan Word of Mouth

Menariknya, Opak Gambir “Maharis” tidak dititipkan di toko. Sistemnya full pre-order dan promosi dari mulut ke mulut. Penjualan langsung biasanya dilakukan saat mengikuti pameran atau bazar dari kelurahan.

Daya tahannya juga nggak main-main. Bisa sampai tiga bulan jika disimpan dalam wadah tertutup rapat. Untuk pengiriman luar kota, dikemas pakai bubble wrap biar tetap aman dan nggak remuk.

Selain opak gambir, Hartiningsih juga memproduksi bumbu pecel yang sudah punya merek, PIRT, dan sertifikasi halal lewat pembinaan Diskoperindag. Sesekali, ia juga menjual jamu tradisional saat pameran.

Baca Juga : Jejak Soto Kambing Malang dalam Buku “Semangkuk Lumintu Ing Brantas”

Jadul? Iya. Kalah Saing? Enggak.

Di tengah serbuan kue modern, Opak Gambir “Maharis” tetap punya pasar. Bahkan jadi langganan hampers Lebaran.

“Memang jadul dan rumit bikinnya, tapi banyak yang suka karena renyah dan rasanya beda,” tutupnya.

Kadang yang klasik memang nggak perlu viral. Cukup konsisten, dan rasanya nggak pernah bohong. (Aye/sg)