Pelatihan AI Tenaga Ajar Inggris Cara Keren Ngajar di Era Digital

Pelatihan AI Guru Inggris di FIB UB

Share

MALANG, SUARAGONG.COM – Pelatihan AI tenaga ajar Inggris di FIB UB bukan cuma soal teknologi canggih, tapi juga soal gimana AI bisa dipakai dengan hati, logika, dan tetap berakar pada budaya lokal. Hal inilah yang jadi benang merah Training Day 2. Bertajuk “Promoting Critical & Creative Thinking While Using AI. Integrating Moral Values & Local Culture” yang digelar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB). Bekerja sama dengan TEFLIN Wilayah Jawa Timur, pada Senin (12/1/2026). Bertempat di Aula Gedung A Lantai 2 FIB UB, kegiatan ini dihadiri puluhan tenaga ajar Bahasa Inggris dari SMA dan SMK di Malang dan sekitarnya. Suasananya serius tapi santai diskusi ngalir, praktik langsung, dan pastinya relevan banget sama tantangan ngajar di era AI sekarang.

Dorongan Pemerintah dan Pentingnya Pelatihan AI Tenaga Ajar Inggris

Workshop ini jadi respons nyata atas pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, yang sebelumnya menegaskan pentingnya pemanfaatan media digital, termasuk AI, dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Pernyataan ini disampaikan dalam Konferensi Internasional TEFLIN ke-71 di UB pada Oktober 2025 lalu.

Menurut Mendikdasmen, penggunaan teknologi bukan cuma soal ikut tren, tapi bagian dari strategi jangka panjang buat menyiapkan lulusan yang siap bersaing secara global, sekaligus punya kemampuan komunikasi sejak dini. Nah, dari sinilah pelatihan AI tenaga ajar Inggris jadi makin relevan dan dibutuhkan.

Baca juga: Sumpah Profesi Insinyur UB Cetak Insinyur Siap Bangun Negeri

FIB UB Ambil Peran AI Bukan Cuma Soal Efisiensi

Lewat Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, FIB UB ambil peran aktif buat membekali tenaga ajar dengan pendekatan pedagogis yang adaptif dan kreatif. AI diposisikan bukan sebagai jalan pintas, tapi sebagai alat bantu buat mempertajam berpikir kritis dan imajinasi siswa. Koordinator TEFLIN Wilayah Jawa Timur sekaligus dosen senior FIB UB, Prof. Dr. Zuliati Rohmah, M.Pd., menjelaskan bahwa workshop ini adalah lanjutan dari pelatihan sebelumnya yang digelar di SMPN 7 Malang.

“Ini workshop kedua. Sekarang kita fokus ke praktik pemanfaatan AI buat ningkatin critical dan creative thinking,” ujarnya.

Menurutnya, teknologi secanggih apa pun bakal sia-sia kalau dipakai tanpa etika, konteks, dan nilai.

Baca juga: Trie Utami Dorong Diplomasi Budaya Borobudur di UB

Pelatihan AI Tenaga Ajar Inggris Dari Kreativitas sampai Berpikir Kritis

Sesi pertama dibuka oleh Dekan FIB UB, Sahiruddin, M.A., Ph.D., lewat materi “Enhancing Creativity through AI”. Ia menunjukkan gimana AI bisa dipakai tenaga ajar buat mendorong siswa menulis cerita, puisi, sampai konten Bahasa Inggris berbasis budaya lokal tanpa kehilangan keaslian.

Lanjut ke sesi kedua, Prof. Zuliati membahas “Fostering Critical Thinking During AI Use”. Di sini, tenaga ajar diajak buat nggak asal percaya hasil AI. Justru siswa harus dilatih buat menganalisis, membandingkan, dan mempertanyakan informasi yang dihasilkan.

Sesi ketiga dibawakan oleh Laras Ati Rochastuti, S.Pd., M.Li., yang fokus ke penyisipan nilai moral dan budaya lokal dalam pembelajaran Bahasa Inggris berbantuan AI. Contohnya, cerita rakyat daerah yang diterjemahkan dan dikembangkan bareng AI seperti ChatGPT.

Baca juga: FIB UB Resmi Luncurkan Website dan Aplikasi Mobile “Batikpedia”

Praktik Langsung dan Evaluasi Kritis

Biar nggak cuma teori, sesi praktik dipandu oleh Dr. Devinta Puspita Ratri, M.Pd. Para tenaga ajar langsung mencoba bikin teks naratif dan deskriptif pakai AI, lalu mengevaluasi hasilnya. Mana yang relevan, mana yang perlu diperbaiki, dan mana yang harus dikritisi. Di sinilah terlihat jelas bahwa pelatihan AI tenaga ajar Inggris ini menekankan peran tenaga ajar sebagai pengendali utama, bukan sekadar pengguna teknologi.

Baca juga: UB Resmi Luncurkan Batikpedia untuk Digitalisasi Batik Jawa Timur

AI Bukan Pengganti Tenaga Ajar, Tapi Partner

Menurut Prof. Zuliati, kegiatan ini jadi momentum penting buat menegaskan bahwa transformasi digital di dunia pendidikan nggak boleh ninggalin nilai budaya dan karakter bangsa.

AI bukan pengganti tenaga ajar. AI adalah partner. Tenaga ajar tetap jadi sosok utama yang membimbing, menanamkan nilai, dan membentuk cara berpikir siswa di tengah derasnya arus digital.

Lewat pelatihan ini, FIB UB juga memperkuat posisinya sebagai institusi pendidikan yang konsisten mendorong literasi digital yang etis, kontekstual, dan berakar pada budaya lokal. Tenaga ajar pun diharapkan bisa jadi agen perubahan: melek teknologi, kritis, kreatif, dan tetap menjaga nilai. (dts/Hmas FIB UB/dny)