Pemilihan Ketua KONI Kabupaten Malang Memanas di Gedung DPRD Kabupaten Malang

Share

SUARAGONG.COM – Pemilihan Ketua KONI Kabupaten Malang periode 2026–2028 dalam Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) berlangsung ricuh, Sabtu (14/2/2026). Ketegangan memuncak ketika salah satu calon ketua, Zia’ulhaq, naik ke atas meja saat berdebat dengan pimpinan sidang dan peserta musyawarah.

Ricuh Musorkablub, Pemilihan Ketua KONI Kabupaten Malang Memanas

Hingga pukul 15.56 WIB, forum yang digelar di ruang rapat DPRD Kabupaten Malang tersebut belum mencapai kesepakatan untuk menentukan pemimpin baru. Perseteruan antarpendukung calon terus berlanjut tanpa titik temu.

Dua Kandidat Tersisa

Awalnya terdapat tiga kandidat yang maju dalam Musorkablub. Selain Zia’ulhaq, ada Darmadi dan Hendra Prastiyawan dari Pengprov TI Jatim. Namun Hendra mengundurkan diri setelah menyampaikan visi dan misinya, sehingga menyisakan dua kandidat utama.

Darmadi diketahui mengantongi dukungan mayoritas cabang olahraga (cabor), yakni sebanyak 42 dukungan. Sementara Zia’ulhaq memperoleh 9 dukungan cabor.

Perdebatan Mekanisme Pemilihan

Ketegangan dipicu oleh perbedaan pandangan mengenai mekanisme pemilihan. Pimpinan sidang menawarkan dua opsi: musyawarah mufakat melalui aklamasi atau pemungutan suara (voting).

Mayoritas peserta menghendaki aklamasi karena selisih dukungan yang cukup besar. Namun opsi tersebut diprotes oleh sejumlah cabor pendukung Zia’ulhaq yang meminta pemilihan dilakukan secara voting.

Perdebatan sengit pun tak terhindarkan. Situasi semakin panas ketika Zia’ulhaq secara terbuka memprotes jalannya sidang dan terlibat adu argumen dengan pimpinan forum serta peserta lainnya.

Baca Juga : KONI Jatim 2025–2029 Resmi Dilantik, Fokuskan PON 2028

Belum Ada Keputusan

Hingga sore hari, Musorkablub belum menghasilkan keputusan final mengenai siapa yang akan memimpin KONI Kabupaten Malang untuk periode mendatang. Forum masih diwarnai tarik-menarik kepentingan antara kubu pendukung kedua calon.

Ricuhnya pemilihan ini menunjukkan tingginya tensi politik olahraga di tingkat daerah, sekaligus menandai pentingnya konsolidasi internal agar organisasi olahraga tetap fokus pada pembinaan atlet dan prestasi. (Nif/Aye/sg)