SUARAGONG.COM – Menjelang Hari Raya Idulfitri 2026 atau lebaran, Pemerintah Kota Probolinggo memperkuat langkah pengendalian inflasi sekaligus mempercepat digitalisasi transaksi daerah. Upaya tersebut dibahas dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) yang digelar di Ruang Puri Manggala Bhakti, Kamis (5/3/2026).
Jelang Lebaran: Pemkot Probolinggo Tekankan Stabilitas Harga, Hingga Percepatan Transaksi
Pertemuan strategis ini mempertemukan pemerintah daerah bersama berbagai pemangku kepentingan untuk memantau kondisi ekonomi sekaligus merumuskan langkah konkret menjaga stabilitas harga di tengah dinamika perekonomian.
Selain fokus pada pengendalian inflasi, forum ini juga menjadi momentum untuk mempercepat digitalisasi transaksi pemerintah daerah, sehingga tata kelola keuangan semakin efisien dan transparan.
Antisipasi Lonjakan Harga Jelang Lebaran
Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menegaskan bahwa pengendalian inflasi menjadi prioritas penting menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Idulfitri.
Menurutnya, permintaan masyarakat terhadap bahan kebutuhan pokok biasanya meningkat menjelang hari raya sehingga perlu langkah antisipatif agar harga tetap stabil.
“Kota Probolinggo memiliki tiga potensi utama yang bisa dimaksimalkan, yaitu ekonomi kreatif berbasis pariwisata, posisi strategis sebagai daerah transit distribusi barang dan jasa, serta sebagai kota penyangga pariwisata Bromo dan Semeru,” ujarnya.
Ia menambahkan, perekonomian Kota Probolinggo selama ini ditopang sektor perdagangan besar dan eceran, distribusi barang, serta aktivitas penjualan dan reparasi kendaraan. Karena itu, stabilitas harga dan kelancaran distribusi menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi daerah.
Pertumbuhan ekonomi Kota Probolinggo pada 2025 juga tercatat menunjukkan tren positif. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya daya beli masyarakat serta menurunnya angka kemiskinan sekitar 0,69 persen.
Inflasi Probolinggo Tembus 5,06 Persen
Penjabat Sekretaris Daerah Kota Probolinggo Rey Suwigtyo, yang juga menjabat Ketua Harian TPID, menyebut High Level Meeting semester pertama 2026 ini mengusung tema:
“Menjaga Stabilitas Harga dan Optimalisasi Digitalisasi Transaksi Pemerintah Daerah Menuju Ketahanan Pangan serta Kesejahteraan Masyarakat.”
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, inflasi Kota Probolinggo pada Februari 2026 tercatat 5,06 persen secara tahunan.
Untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah daerah terus memastikan ketersediaan pasokan pangan, baik di gudang pemerintah, pasar tradisional, maupun ritel modern melalui pemantauan langsung di lapangan.
“Kami juga terus memberikan komunikasi kepada masyarakat secara transparan terkait kondisi pasokan pangan agar tidak terjadi kepanikan,” jelasnya.
Masyarakat juga diimbau untuk melakukan konsumsi secara bijak dan tidak berlebihan guna menjaga stabilitas harga.
Distribusi Pangan Diawasi Ketat
Selain menjaga ketersediaan stok, Pemkot Probolinggo juga fokus memastikan distribusi pangan berjalan lancar.
Pemantauan dilakukan pada sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami hambatan distribusi, termasuk titik rawan kemacetan yang dapat mengganggu pasokan barang.
“Kami melakukan pemantauan bersama Polres Probolinggo Kota dan Dinas Perhubungan untuk memastikan distribusi pangan tetap lancar,” tambah Tyok.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk memastikan komoditas pangan tetap tersedia di pasar tanpa menimbulkan lonjakan harga.
Enam Strategi Kendalikan Inflasi
Sesuai arahan Kementerian Dalam Negeri, terdapat enam langkah konkret pengendalian inflasi yang diterapkan daerah.
Beberapa di antaranya:
-
Operasi pasar murah
-
Inspeksi mendadak ke pasar dan distributor
-
Kerja sama dengan daerah penghasil komoditas
-
Gerakan menanam komoditas pangan
-
Bantuan tunai kepada masyarakat
Untuk menjaga pasokan, Pemkot Probolinggo juga telah menjalin kerja sama antar daerah, termasuk dengan Kabupaten Blitar, guna memastikan kelancaran distribusi komoditas pangan.
Inflasi Dipicu Cabai dan Daging Ayam
Dalam forum tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang Indra Kuspriyadi memaparkan bahwa inflasi Kota Probolinggo pada Februari 2026 tercatat 1,21 persen secara bulanan, sedikit lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur yang berada di angka 0,9 persen.
Beberapa komoditas yang memberi andil terhadap inflasi antara lain:
-
emas perhiasan
-
cabai rawit
-
daging ayam ras
Sementara itu, penurunan harga pada BBM, bawang merah, dan bawang putih turut menahan laju inflasi.
“Menjelang Ramadan dan Idulfitri biasanya terjadi kenaikan harga pada komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, ayam, dan telur. Ini perlu diantisipasi sejak dini,” ujarnya.
Baca Juga : Pemkot Probolinggo Perkuat Strategi 4K, Atasi Inflasi Jelang Nataru
Digitalisasi Transaksi Daerah Terus Dipercepat
Selain membahas inflasi, forum ini juga menyoroti perkembangan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) di Kota Probolinggo.
Berdasarkan hasil penilaian tahun 2025, skor ETPD Kota Probolinggo mengalami peningkatan dari 97,8 menjadi 98,5.
Beberapa inovasi digital yang telah diterapkan antara lain:
- pembayaran parkir digital
- aplikasi elektronik untuk penetapan Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD)
- pembayaran Surat Setoran Retribusi Daerah (SSRD) secara digital
Melalui High Level Meeting ini, Pemkot Probolinggo berharap sinergi antara pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dapat terus diperkuat guna menjaga stabilitas harga sekaligus mempercepat digitalisasi transaksi daerah demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Duh/Aye/sg)