SUARAGONG.COM – Pemerintah Kota Surabaya kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dalam penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Tahun 2025, Pemkot Surabaya berhasil mempertahankan predikat tertinggi “AA” dengan nilai 91,83 atau kategori sangat memuaskan.
Surabaya Pertahankan Predikat AA SAKIP 2025, Nilai Tembus 91,83
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri PANRB, Rini Widyantini, dalam ajang SAKIP dan Zona Integritas Awards 2025 di Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, penghargaan ini merupakan bukti nyata komitmen pemerintah kota dalam membangun tata kelola yang transparan, efektif, dan berorientasi pada hasil bagi masyarakat.
“Keberhasilan ini adalah hasil kerja keras dan kolaborasi seluruh perangkat daerah dalam meningkatkan kualitas kinerja dan pelayanan publik,” ujarnya.
Konsistensi Jadi Kunci
Eri menjelaskan, salah satu kunci keberhasilan Surabaya adalah konsistensi dalam menindaklanjuti rekomendasi evaluasi tahun sebelumnya. Perbaikan dilakukan secara sistematis, mulai dari perencanaan, pengukuran, pelaporan, hingga evaluasi kinerja.
Selain itu, kepemimpinan yang solid juga menjadi faktor penting. Mulai dari wali kota, sekretaris daerah, hingga seluruh kepala perangkat daerah, semua bergerak dalam satu arah pembangunan yang terintegrasi.
Menurutnya, capaian SAKIP bukan hasil satu program saja, melainkan ditopang ekosistem inovasi dan tata kelola berbasis data. Salah satu program unggulan yang berkontribusi adalah Kampung Pancasila, yang mendorong pembangunan berbasis komunitas hingga tingkat RT dan RW.
Pemkot Surabaya juga memanfaatkan dashboard data kinerja daerah yang memungkinkan pemantauan capaian secara real time. Sistem ini memperkuat pengendalian program sekaligus mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti.
Tak hanya itu, transformasi layanan digital melalui platform “Kantorku” dan “WargaKu” turut mempercepat respons birokrasi serta mempermudah pelayanan kepada masyarakat.
Fokus Dampak Langsung ke Warga
Eri menegaskan, capaian AA bukan tujuan akhir. Pemerintah kota tetap berfokus pada dampak nyata bagi warga, bukan sekadar nilai evaluasi administratif.
Karena itu, indikator kinerja terus ditinjau secara berkala. Jika dianggap tidak lagi relevan, indikator akan disesuaikan agar benar-benar mencerminkan manfaat riil di lapangan.
Pemkot juga menerapkan evaluasi berbasis data by name by address untuk memastikan program tepat sasaran, terutama dalam penanganan kemiskinan dan bantuan sosial.
“Dengan pendekatan ini, bantuan menjadi lebih presisi dan benar-benar menyentuh warga yang membutuhkan,” jelasnya.
Meski berhasil mempertahankan predikat tertinggi, tantangan ke depan tetap besar. Menurut Eri, yang terpenting bukan sekadar menjaga nilai, tetapi konsisten menganalisis capaian kinerja secara komprehensif agar kebijakan benar-benar menyelesaikan akar persoalan.
Ia memastikan Pemkot Surabaya akan terus memperkuat perencanaan, pelaksanaan program, serta monitoring berbasis kebutuhan riil masyarakat. Targetnya, Surabaya tidak hanya memenuhi standar nasional, tetapi juga bergerak menuju tata kelola kota berkelas dunia yang berorientasi pada kesejahteraan warga.
“Predikat AA bukan tujuan akhir, melainkan motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerja,” pungkasnya. (Wahyu/Aye/sg)