SUARAGONG.COM – Tak banyak yang tahu, warung pizza yang kini ramai diperbincangkan di Kepanjen itu lahir dari perjalanan panjang lintas negara. Sang pemilik, Mas Sandi atau Cak San mengawali kariernya sebagai perantau di dunia Food and Beverage (FnB), jauh sebelum akhirnya mantap membangun usaha sendiri dan melahirkan Pizza Kepanjen.
Diracik dari Eropa, Dikembangkan di Kepanjen: Perjalanan Warung Pizza Kepanjen
Perjalanannya dimulai dari Surabaya. Di sana, ia bekerja di restoran Chinese food dan mulai memahami ritme dapur profesional. Namun, tak lama kemudian ia merantau ke Bali. Di Pulau Dewata itulah perkenalannya dengan masakan Italia dimulai.
“Di Bali saya ketemu chef asli Italia. Dari beliau saya belajar bahwa masakan itu sebenarnya simpel, bukan menambah rasa, tapi mengeluarkan rasa,” kenangnya.
Kalimat sederhana itu mengubah cara pandangnya terhadap kuliner. Ia mulai mendalami pizza, belajar langsung dari chef Italia hingga 2012. Setahun kemudian, ia memutuskan pindah ke Malang, membawa bekal ilmu dan ketertarikannya pada pizza.
Mendalami Pizza hingga ke Napoli
Petualangan kulinernya tak berhenti di situ. Pada 2021, ia pindah ke Jerman. Di negara tersebut, ia semakin serius menggali dunia pizza. Bahkan, ia menyempatkan diri belajar selama dua minggu di Napoli, Italia — kota yang dikenal sebagai kampung halaman pizza.
Di Napoli, ia mempelajari bagaimana pizza dibuat di negara asalnya, mulai dari budaya, teknik, hingga karakter rasa yang dipengaruhi bahan baku dan suhu lingkungan.
“Setiap daerah punya culture dan autentiknya masing-masing,” ujarnya.
Dari pengalaman itu, ia memahami bahwa kualitas tepung dan kadar gluten sangat menentukan tekstur pizza. Ia mengenal tepung tipe 00 hingga merek internasional seperti Caputo yang menjadi standar global bagi para pembuat pizza.
Perjalanan Pizza Kepanjen: Diracik & Ditempa dari Jerman
Lahir Saat Pandemi, Tumbuh dari Garasi Rumah
Menariknya, warung pizza yang kini dikenal masyarakat Kepanjen justru lahir saat pandemi Covid-19. Ketika hotel tempatnya bekerja tutup, ia mulai merintis usaha kecil di garasi rumah dengan konsep open kitchen.
Pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan pizza sekaligus berbincang santai soal kuliner.
Konsep sederhana itu ternyata mendapat respons positif. Video-videonya kerap muncul di TikTok dan Instagram, bahkan beberapa kali masuk FYP. Pelanggan terus berdatangan hingga kapasitas garasi tak lagi mencukupi.
Hingga akhirnya, kesempatan datang. Melalui obrolan santai dan kolaborasi, ia mendapatkan tempat baru di kawasan Dilem, tepat di depan Joglo. Dari garasi rumah, kini warung pizzanya memiliki ruang yang lebih layak untuk berkembang.
Baca Juga : Warung Sederhana Mlaten, Tempat Nongkrong Legendaris di Tengah Sawah Kepanjen
Bukan Sekadar Jualan, Tapi Berbagi Ilmu
Bagi Cak San, usaha ini bukan hanya soal bisnis. Ia memiliki visi yang lebih besar: ingin merekrut anak-anak muda Kepanjen. Khususnya pelajar SMA, untuk belajar sekaligus bekerja.
Ia ingin membagikan ilmu yang ia dapat dari Bali, Jerman, hingga Napoli. Harapannya, kelak anak-anak muda tersebut bisa melanjutkan karier ke luar negeri atau ke kafe-kafe besar lainnya.
“Dunia kuliner itu kecil. Siapa tahu nanti banyak anak Kepanjen yang bisa kerja di luar negeri,” katanya.
Dari perjalanan merantau hingga kembali ke kampung halaman, kisah Pizza Kepanjen ini bukan sekadar tentang adonan dan oven panas. Ini adalah cerita tentang mimpi, konsistensi, dan keberanian membawa ilmu dari luar negeri untuk tumbuh di tanah sendiri.
Bila kamu ingin berkunjung, alamatnya di Jl. Bromo No.55b, Ngantru, Dilem, Kec. Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65163. Nikmatilah “authentic pizza neapolitan” (Aye/sg)