Prabowo Subianto Siap Mediasi Konflik Teheran, Akankah Iran Menerima?

Niat Presiden RI Prabowo Subianto untuk turun langsung menjadi fasilitator konflik Teheran, Apakah ada kemungkinan Iran menerima?

Share

SUARAGONG.COM – Niat Presiden RI Prabowo Subianto untuk turun langsung menjadi fasilitator konflik antara Amerika SerikatIsrael dan Iran memantik perdebatan di dalam negeri. Langkah diplomatik ambisius ini dinilai sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif Indonesia, namun tidak mudah diwujudkan.

Prabowo Subianto Siap Mediasi Konflik Teheran, Akankah Iran Menerima Indonesia sebagai Penengah?

Anggota Komisi I DPR dari PDIP, TB Hasanuddin, menyebut niat tersebut perlu perhitungan matang, terutama mengingat kompleksitas konflik di Timur Tengah.

“Niat Presiden menjadi fasilitator konflik ke Teheran sudah sesuai prinsip bebas aktif. Namun, langkah ini membutuhkan kalkulasi yang sangat matang,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (3/1/2026).

Tantangan Diplomasi yang Tidak Ringan

Menurut TB Hasanuddin, posisi diplomasi Indonesia saat ini dipersepsikan sebagian pihak lebih dekat ke poros Barat. Hal ini bisa menjadi faktor yang membuat Iran tidak serta-merta menerima Indonesia sebagai mediator.

Ia juga menekankan bahwa peran fasilitator konflik bukan sekadar kunjungan simbolik, melainkan membutuhkan komitmen besar — mulai dari waktu, energi, hingga anggaran negara.

“Dialog tidak cukup satu atau dua kali. Pertanyaannya, apakah Presiden atau Menteri Luar Negeri sudah benar-benar siap?” tegasnya.

Selain kesiapan teknis, ia menilai pemerintah perlu menjelaskan kepentingan nasional yang ingin dicapai Indonesia dari langkah besar tersebut.

Baca Juga : Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Udara Israel

Lebih Relevan di Kawasan ASEAN?

TB Hasanuddin bahkan menilai Indonesia mungkin lebih efektif jika fokus pada konflik yang lebih dekat secara geografis dan strategis, seperti ketegangan perbatasan di Asia Tenggara.

“ASEAN adalah pekarangan kita. Stabilitas kawasan ini lebih langsung berkaitan dengan kepentingan nasional Indonesia,” katanya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa diplomasi global tetap harus mempertimbangkan prioritas regional.

Pemerintah Serukan Dialog, Prabowo Siap ke Teheran

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan keprihatinan atas gagalnya perundingan antara AS dan Iran terkait program nuklir. Situasi memanas setelah serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran.

Indonesia menyerukan semua pihak menahan diri dan menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi.

Pemerintah bahkan menyatakan Presiden Prabowo siap bertolak ke Teheran untuk memfasilitasi dialog — tentu dengan syarat disetujui oleh semua pihak yang bertikai.

Harapan Iran kepada Indonesia

Di sisi lain, Kedutaan Besar Iran di Jakarta berharap Indonesia dan masyarakatnya secara tegas mengecam serangan terhadap wilayah Iran. Teheran menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan Piagam PBB.

Iran juga menegaskan bahwa mereka berhak melakukan pembelaan diri untuk menjaga kedaulatan dan integritas wilayahnya.

Diplomasi Besar dengan Risiko Besar

Upaya Indonesia menjadi mediator di konflik Timur Tengah berpotensi meningkatkan peran global Indonesia, namun juga membawa risiko politik dan keamanan.

Jika berhasil, Indonesia bisa memperkuat citra sebagai negara Muslim terbesar yang mampu menjembatani konflik global. Namun jika gagal, langkah tersebut bisa menimbulkan dampak diplomatik yang tidak kecil.

Kini, pertanyaan besarnya bukan hanya apakah Indonesia siap — tetapi apakah pihak yang bertikai benar-benar bersedia dimediasi. (Aye/sg)