SUARAGONG.COM – Banjir yang melanda Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Minggu (22/02/2025), bukan cuma menyisakan genangan air dan lumpur. Di balik musibah itu, terlihat jelas aksi relawan muda Probolinggo banjir Kraksaan yang ikut turun langsung mendampingi Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris meninjau wilayah terdampak. Kehadiran mereka bukan sekadar simbolis, tapi benar-benar membawa bantuan dan semangat solidaritas bagi warga yang sedang berjuang bangkit.
Kepedulian itu terlihat saat Gerakan Sadar Remaja (GSR) ikut mendampingi Bupati Probolinggo, dr. Mohammad Haris, meninjau langsung wilayah terdampak banjir, khususnya di Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan.
Kehadiran para relawan muda ini jadi warna tersendiri di tengah suasana pascabencana. Mereka datang bukan sekadar foto-foto atau simbolis doang, tapi benar-benar membawa bantuan dan energi positif buat warga.
Aksi Relawan Muda Probolinggo Banjir Kraksaan
Dalam peninjauan tersebut, GSR yang diwakili Aurelia Paloma dan Shofi menyerahkan bantuan berupa pakaian layak pakai untuk remaja hingga lansia, serta bahan makanan bagi warga terdampak.
Bantuan ini bukan datang begitu saja. Semua merupakan hasil donasi yang dihimpun dari solidaritas generasi muda. Dari anak muda, untuk masyarakat yang lagi butuh banget dukungan. Founder GSR, Rosita Damae Islina, menjelaskan kalau keterlibatan mereka bukan cuma aksi spontan.
“Ini adalah langkah awal kami untuk meninjau kebutuhan masyarakat terdampak, khususnya di wilayah Kelurahan Sidomukti. Setelah pengumpulan donasi selesai, kami akan kembali terjun ke beberapa lokasi lainnya,” jelas Rosita.
Artinya, mereka nggak cuma kasih bantuan sekali lalu selesai. Ada proses pemetaan kebutuhan supaya bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran. Karena di situasi bencana, yang dibutuhkan warga kadang berubah-ubah, tergantung kondisi di lapangan.
Kehadiran aksi relawan muda Probolinggo banjir Kraksaan ini jadi bukti kalau generasi sekarang nggak se-apatis yang sering dituduhkan. Justru, di momen seperti ini, solidaritas mereka kelihatan banget.
Baca juga: Usai Koper Seorang Turis Raib, Pengamanan Bromo Diperkuat Total
Bupati Haris Apresiasi Kepedulian Generasi Muda
Di sela-sela peninjauan, Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris menyempatkan diri menyapa para relawan. Ia memberikan apresiasi atas keterlibatan aktif anak-anak muda dalam aksi sosial tersebut.
“Saya berharap gerakan remaja seperti ini terus konsisten. Ini bisa menjadi tonggak lahirnya generasi penerus yang peduli dan bertanggung jawab terhadap Kabupaten Probolinggo,” ujarnya.
Pesan itu terasa penting. Karena pembangunan daerah bukan cuma soal infrastruktur atau program pemerintah. Tapi juga soal karakter masyarakatnya terutama generasi mudanya.
Saat pemuda sudah punya rasa peduli dan tanggung jawab sosial, itu jadi modal besar untuk masa depan daerah. Aurelia Paloma juga menyampaikan rasa prihatin atas musibah yang terjadi.
“Kami turut prihatin atas bencana yang melanda Kabupaten Probolinggo, terutama wilayah Kecamatan Kraksaan. Semoga apa yang kami berikan bisa sedikit meringankan beban para korban,” katanya.
Kalimatnya sederhana, tapi maknanya dalam. Di situ terlihat empati yang tulus, bukan sekadar formalitas.
Baca juga: Langka! Aboge di Leces Puasa Bareng Pemerintah
Interaksi Hangat di Tengah Situasi Sulit
Saat menyusuri wilayah terdampak, para relawan GSR nggak cuma menyalurkan bantuan lalu pergi. Mereka ngobrol langsung dengan warga, mendengar cerita, dan melihat kondisi rumah yang terdampak.
Beberapa warga dan Ketua RT setempat menyambut hangat kehadiran mereka. Dalam kondisi pascabencana, dukungan moral sering kali sama pentingnya dengan bantuan materi.
Bayangin aja, ketika rumah kebanjiran, aktivitas terganggu, dan rasa capek mental mulai terasa, kehadiran orang-orang yang peduli bisa jadi penyemangat tersendiri.
Di momen ini, aksi relawan muda Probolinggo banjir Kraksaan terasa lebih dari sekadar kegiatan sosial. Ini soal membangun rasa kebersamaan dan gotong royong yang jadi identitas masyarakat Indonesia.
Baca juga: BPBD Probolinggo Gercep Tangani Luapan Kali Laweyan di Tambakrejo
Dukungan Camat Kraksaan dan Pesan Lingkungan
Camat Kraksaan, Puja Kurniawan, juga menyampaikan dukungannya terhadap gerakan sosial ini. Ia berharap GSR bisa terus mengedukasi generasi muda agar peduli terhadap lingkungan sekaligus terhadap masyarakat sekitar.
“Kami berharap GSR mampu mengajak generasi muda lainnya untuk peduli terhadap masyarakat sekitar serta menjaga lingkungan. Jika kita menjaga alam, maka alam pun akan menjaga kita untuk generasi selanjutnya,” ujarnya.
Pesan ini relevan banget. Karena banjir bukan cuma soal curah hujan tinggi, tapi juga soal bagaimana kita memperlakukan lingkungan.
Kesadaran menjaga kebersihan, nggak buang sampah sembarangan, dan peduli pada kondisi sekitar jadi bagian dari pencegahan jangka panjang. Jadi bukan cuma reaktif saat bencana datang, tapi juga preventif sebelum musibah terjadi.
Baca juga: PDGI Probolinggo Dilantik Serentak di Tapal Kuda: Siap Layani Masyarakat
Kolaborasi Pemerintah dan Pemuda
Yang menarik dari kejadian ini adalah kolaborasi lintas generasi. Pemerintah daerah hadir dengan koordinasi dan kebijakan, sementara komunitas pemuda hadir dengan energi, semangat, dan solidaritas. Sinergi seperti ini penting banget. Karena penanganan bencana nggak bisa jalan sendiri-sendiri. Harus ada kerja bareng.
Banjir di Kecamatan Kraksaan memang jadi ujian. Tapi di sisi lain, ini juga jadi momentum untuk memperkuat solidaritas sosial di Kabupaten Probolinggo. Partisipasi aktif pemuda menunjukkan bahwa mereka bukan cuma penonton dalam pembangunan daerah. Mereka bisa jadi penggerak, bahkan motor perubahan.
Aksi relawan muda Probolinggo banjir Kraksaan membuktikan satu hal: kepedulian nggak kenal usia. Anak muda hari ini nggak cuma sibuk sama dunia digital, tapi juga turun langsung saat daerahnya butuh bantuan.
Ke depan, gerakan seperti ini diharapkan terus konsisten dan meluas. Bukan cuma saat ada bencana, tapi juga dalam berbagai kegiatan sosial lainnya.
Karena pada akhirnya, daerah yang kuat bukan cuma dibangun dari gedung tinggi atau proyek besar. Tapi dari masyarakat yang saling peduli dan mau bergerak bersama. Dan di Kraksaan hari itu, harapan itu terlihat jelas di antara lumpur, genangan air, dan senyum warga yang mulai bangkit lagi. (duh/dny)