Revitalisasi Pendidikan Tinggi Jadi Jawaban Tantangan Nasional dan Global

Wamen Dikti Saintek Prof Fauzan menegaskan pentingnya revitalisasi pendidikan tinggi untuk meningkatkan mutu dan akses bagi masyarakat.

Share

SUARAGONG.COM – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menegaskan bahwa pendidikan bermutu menjadi kunci utama agar bangsa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Wamen Dikti Saintek Tekankan Revitalisasi Pendidikan Tinggi untuk Jawab Persoalan Bangsa

“Hanya dengan pendidikan bermutu, bangsa Indonesia akan bisa berdiri di atas kaki sendiri. Pendidikan adalah kunci dari segalanya,” tutur Prof. Fauzan.

Ia menekankan, pendidikan tinggi harus menjadi pondasi utama dalam merumuskan langkah-langkah strategis pembangunan bangsa. Revitalisasi peran pendidikan tinggi dinilai mendesak guna meningkatkan mutu, akseptabilitas. Serta kemampuan perguruan tinggi dalam menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.

Perguruan Tinggi Penyangga Peradaban

Menurut Prof. Fauzan, penguatan kelembagaan dan tata kelola tridarma perguruan tinggi harus dijadikan pedoman utama dalam mengelola perguruan tinggi di tengah tantangan nasional maupun global.

“Tidak ada alasan untuk tidak melakukan revitalisasi pendidikan tinggi. Revitalisasi membutuhkan modal yang kuat. Terutama modal empiris berupa data yang dapat menjadi acuan dalam merumuskan kebijakan dan arah pengembangan perguruan tinggi,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan amanat Pasal 31 Ayat 5 UUD 1945, yang menegaskan peran negara dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai agama. Serta persatuan bangsa demi kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia.

“Saya kira kita semua paham bahwa perguruan tinggi adalah penyangga lahirnya peradaban bangsa. Jika perguruan tinggi berada dalam kondisi yang baik dan unggul. Insyaallah peradaban bangsa ini juga akan unggul,” ucapnya.

Data Empiris Pendidikan Tinggi

Dalam paparannya, Prof. Fauzan menyampaikan sejumlah data empiris pendidikan tinggi nasional. Saat ini, Indonesia memiliki 4.416 perguruan tinggi, dengan 303.067 dosen dan 9.967.487 mahasiswa.

Sebaran mahasiswa masih didominasi program studi sosial humaniora serta sains dan teknologi. Pemerintah pun terus mendorong penguatan program berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia unggul.

Namun demikian, pendidikan tinggi Indonesia masih dihadapkan pada tiga persoalan utama, yakni mutu, relevansi, dan akses.

Tantangan Akses dan APK

Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi secara nasional saat ini masih berada di kisaran 32 persen. Sementara itu, APK Jawa Timur tercatat 31,8 persen, sedikit di bawah rata-rata nasional.

Kondisi ini menunjukkan tantangan serius dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat. Selama ini, peningkatan APK banyak ditopang melalui skema beasiswa. Seperti KIP-K, beasiswa pusat dan daerah, serta dukungan filantropi.

Namun, Prof. Fauzan menilai skema tersebut perlu lebih diarahkan untuk mendorong kelompok masyarakat yang selama ini belum memiliki akses maupun minat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Baca Juga : Kompetisi Akreditasi Kelas Internasional Para Perguruan Tinggi

Pendidikan Tinggi Harus Adaptif

Selain persoalan akses, perguruan tinggi juga dituntut lebih adaptif terhadap kebutuhan Generasi Z. Menurut Prof. Fauzan, generasi ini mengharapkan pendidikan yang memberikan keahlian spesifik dan aplikatif, keterhubungan dengan dunia industri, kepastian kerja setelah lulus, serta fleksibilitas dan keberlanjutan sistem pendidikan.

Ia menegaskan, revitalisasi pendidikan tinggi harus diarahkan pada penguatan pengelolaan tridarma perguruan tinggi agar benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Perguruan tinggi dituntut untuk terus menciptakan keunggulan dan kebaruan (novelty), menghasilkan nilai kesejahteraan. Serta membangun budaya kerja yang sehat dan berkelanjutan.

“Keempat aspek tersebut menjadi kunci agar pendidikan tinggi Indonesia mampu bertahan, adaptif, dan relevan dalam menjawab tantangan masa depan.” Pungkasnya. (Wahyu/aye/sg)