Sekolah di Surabaya Akui Pembatasan HP Bikin Siswa Lebih Fokus

Sekolah di Surabaya Akui Pembatasan HP Bikin Siswa Lebih Fokus

Share

SUARAGONG.COM – Kebijakan pembatasan penggunaan HP Atau gawai di lingkungan sekolah yang diterapkan Pemerintah Kota Surabaya mulai menunjukkan dampak positif. Sejumlah sekolah mengakui aturan tersebut mampu meningkatkan interaksi sosial, fokus belajar, serta memudahkan pengawasan terhadap peserta didik.

Sekolah di Surabaya Akui Pembatasan HP Bikin Siswa Lebih Fokus dan Interaktif

Kepala SMPK St. Vincentius Surabaya, Maria Widawati, mengatakan pihak sekolah telah mensosialisasikan aturan pembatasan handphone (HP) sejak awal tahun 2026, Kebijakan ini mengacu pada Surat Edaran (SE) Wali Kota Surabaya.

“Kami sudah mensosialisasikan di awal tahun penerapan tata tertib ini, membatasi penggunaan HP. Maka dari surat edaran Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, kami menerapkan peraturan ini di sekolah kami,” ujar Maria, Senin (2/2/2026).

Interaksi Siswa Meningkat

Maria menegaskan, SMPK St. Vincentius akan terus konsisten menerapkan pembatasan gawai karena dampaknya dinilai sangat signifikan bagi perkembangan siswa.

“SMPK St. Vincentius ini akan terus menerapkan pembatasan gawai karena dampaknya sungguh luar biasa untuk anak-anak,” katanya.

Ia membandingkan kondisi siswa sebelum dan sesudah kebijakan diterapkan. Sebelumnya, banyak siswa menghabiskan waktu dengan bermain gim atau membuka media sosial saat berada di sekolah.

“Kalau dulu ketika anak-anak datang, mereka berkelompok-kelompok, kemudian mabar atau membuka media sosial yang lain,” tuturnya.

Lebih Komunikatif

Namun setelah HP dikumpulkan, suasana sekolah berubah menjadi lebih komunikatif.

“Setelah HP dikumpulkan, mereka menjadi lebih banyak berbicara dengan teman-temannya,” imbuh Maria.

Menurutnya, keberadaan SE Wali Kota Surabaya juga menjadi landasan kuat bagi sekolah untuk bersikap tegas dalam menegakkan aturan.

“Dengan imbauan ini, sekolah bisa benar-benar lebih tegas menerapkan pembatasan gawai supaya anak-anak bisa lebih baik lagi ke depan dan kami bisa lebih banyak memantau anak-anak,” jelasnya.

Baca Juga : Pembiayaan MBG Digugat ke MK, Dinilai Potong Anggaran Pendidikan

Wali Kota: Bukan Melarang, Tapi Mengatur

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan pembatasan gawai bukan berarti melarang total penggunaan teknologi, melainkan mengaturnya agar proses pembelajaran berjalan optimal.

“Bagaimana cara mengajar di dalam sekolah itu bisa konsentrasi, maka HP tidak boleh digunakan. Tidak membolehkan bukan, tapi membatasi sesuai dengan ketentuan,” kata Eri.

Ia menekankan kebijakan ini bertujuan mengembalikan esensi pendidikan, yakni interaksi, komunikasi, dan pembentukan karakter. Dampaknya mulai terlihat dari suasana belajar yang lebih kondusif.

“Di kelas, anak-anak kini lebih fokus belajar, lebih aktif berdiskusi, dan lebih dekat dengan guru maupun teman-temannya,” ujarnya.

Eri juga mencontohkan perubahan perilaku siswa di SMPK St. Vincentius Surabaya.

“Dulu sebelum masuk kelas, anak-anak ini lebih banyak menatap layar gawai, mabar gim, scroll medsos. Sekarang siswa lebih banyak bercengkrama dengan teman-temannya,” katanya.

Selain siswa, Wali Kota Eri juga meminta para guru memberi teladan dengan membatasi penggunaan gawai saat proses belajar mengajar berlangsung.

“Sekolah harus selalu jadi ruang aman bagi anak untuk tumbuh, belajar, dan bersosialisasi,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Pemkot Surabaya telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 400.2.4/34733/436.7.8/2025 tentang Penggunaan Gawai (HP) dan Internet untuk Anak di Kota Surabaya. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan prestasi belajar, kedisiplinan, serta melindungi anak dari dampak negatif perkembangan teknologi informasi. (Wahyu/Aye/sg)