SUARAGONG.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur kembali memperkuat kapasitas sumber daya manusianya melalui short course atau sekolah singkat kebencanaan di Jepang. Kegiatan ini berlangsung selama sepekan, mulai Senin hingga Jumat (2–6/2/2026).
Dalami Penanganan Bencana, Tim Pemprov Jatim Ikuti Short Course Kebencanaan di Jepang
Kegiatan tersebut diikuti Sekretaris BPBD Jatim Andhika Nurrahmad Sudigda, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (KL) Satriyo Nurseno, Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR) Dhany Aribowo, Subbag Sungram Yudi Dwi Prasetyo, serta sejumlah staf Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK) BPBD Jatim.
Selain BPBD Jatim, pelatihan hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan Kementerian Ekonomi, Perindustrian, dan Perdagangan Jepang (METI). Serta Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnership (AOTS) ini juga diikuti perwakilan instansi dan akademisi. Di antaranya Bappeda Jatim, Dinas PU SDA Jatim, PU Bina Marga Jatim, Perum Jasa Tirta, PDAM Kota Surabaya. Serta akademisi dari Pusat Penelitian Mitigasi dan Perubahan Iklim ITS Surabaya.
Fokus Penguatan Mitigasi Pra Bencana
Selama pelatihan, sebanyak 17 peserta asal Jawa Timur mendapatkan berbagai materi kebencanaan. Mulai dari sistem mitigasi dan informasi bencana, manajemen krisis saat bencana, teknologi penginderaan cerdas, hingga peran sektor swasta dalam penanggulangan bencana.
Akademisi kebencanaan Universitas Kyoto, Prof. Dr. Haruo Hayashi, Ph.D., saat menyampaikan materi Manajemen Bencana Saat Krisis, menegaskan perlunya perubahan paradigma penanggulangan bencana. Menurutnya, fokus tidak lagi pada penanganan saat tanggap darurat, melainkan penguatan pencegahan dan kesiapsiagaan.
“Anggaran satu dolar yang dikeluarkan saat pra bencana setara dengan tujuh dolar saat tanggap darurat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, mitigasi pra bencana terbagi menjadi dua, yakni mitigasi struktural dan non-struktural. Mitigasi struktural berkaitan dengan pembangunan infrastruktur fisik kebencanaan. Sedangkan mitigasi non-struktural berupa penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan edukasi kebencanaan.
Belajar Teknologi Kebencanaan Jepang
Dalam short course ini, Pemerintah Jepang juga menggandeng dunia usaha untuk mempresentasikan dukungan teknologi kebencanaan yang telah diterapkan. Seperti drone VTOL, alat pengukur curah hujan, pengukur kerenggangan tanah, seismometer, hingga teknologi pemadatan tanah untuk penahan longsor.
Para peserta juga diajak mengunjungi pameran teknologi kebencanaan di Minato Mirai Expo, Kota Yokohama, Prefektur Kanagawa. Berbagai teknologi dipamerkan. Mulai dari kendaraan komunikasi berinternet, rumah tahan gempa, simulator gempa bergerak, teknologi pemantauan bencana, hingga alat penjernih air.
Direktur Pelatihan AOTS Jepang, Karako Takemoto, mengaku senang dengan antusiasme dan respons aktif peserta asal Jawa Timur. Ia berharap, ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan dapat diaplikasikan di masing-masing instansi di Jawa Timur.
Harap Berkelanjutan
Sekretaris BPBD Jatim, Andhika Nurrahmad Sudigda, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kesempatan pembelajaran kebencanaan yang diberikan METI dan AOTS Jepang.
Ia menilai banyak keunggulan sistem penanggulangan bencana di Jepang yang dapat direplikasi di Jawa Timur, khususnya pemanfaatan teknologi penginderaan cerdas untuk penguatan mitigasi.
“Kami berharap pelatihan singkat seperti ini bisa berlanjut secara rutin dan berkelanjutan. Atau dengan tema lain seperti penguatan evakuasi bencana dan sebagainya,” tegasnya.
Selain mengikuti pameran, selama di Jepang para peserta juga melakukan studi banding ke BPBD Prefektur Saitama, instansi pengolahan air di Kota Misato. Serta pusat edukasi bencana di Sona Area, Tokyo. (Aye/sg)