SUARAGONG.COM – Siapa bilang batik cuma cocok buat acara resmi? Di Malang, batik justru turun ke lapangan—masuk ke jersey, menyatu dengan olahraga, komunitas, dan gaya hidup urban yang lekat dengan generasi muda. Lewat kolaborasi Batik Soendari dan kolektor jersey, tradisi dan pop kultur akhirnya duduk di bangku yang sama.
Batik Pakai Jersey? Batik Soendari Buktikan Budaya Bisa Tetap Keren
Kota Malang kembali mencatat babak menarik dalam perjalanan industri kreatifnya. Sorotan kali ini tertuju pada Batik Soendari, rumah batik yang dikenal konsisten menjaga nilai tradisi, namun berani melangkah ke wilayah baru lewat kolaborasi batik dan jersey. Inovasi ini menghadirkan pertemuan unik antara warisan budaya batik tulis dengan dunia olahraga yang identik dengan energi, identitas, dan kebersamaan.
Kolaborasi tersebut lahir dari kegelisahan sekaligus harapan: bagaimana batik tidak hanya diposisikan sebagai busana formal atau simbol seremoni, tetapi juga menjadi bagian dari keseharian yang dinamis. Jersey—yang lekat dengan olahraga, komunitas, dan gaya hidup anak muda—dipilih sebagai medium untuk membawa batik masuk ke ruang budaya populer, tanpa melepaskan akar tradisinya.
Batik Soendari sendiri merupakan bagian dari sejarah panjang batik di Malang. Motif-motifnya dikenal memiliki karakter kuat, dengan garis dan isen-isen yang merefleksikan nilai lokal serta filosofi kehidupan. Dalam kolaborasi ini, motif khas Soendari tidak dihilangkan, melainkan ditransformasikan secara visual agar selaras dengan karakter jersey yang ringan, fungsional, dan fleksibel. Hasilnya adalah produk yang tetap membawa ruh batik, namun terasa segar dan relevan dengan selera masa kini.
Menurut Indra Lukmana Putra, kolektor jersey yang terlibat dalam kolaborasi ini, jersey memiliki kekuatan simbolik yang sering kali luput dari perhatian.
“Jersey bukan sekadar pakaian olahraga. Ia adalah identitas, memori, dan kebanggaan. Banyak orang mengingat momen penting hidupnya melalui jersey yang mereka kenakan atau koleksi,” ujarnya.
Dialog Budaya yang Menarik
Indra melihat pertemuan batik dan jersey sebagai dialog budaya yang menarik. Keduanya sama-sama memuat cerita, meski berasal dari dunia yang berbeda. Ia menilai kolaborasi ini membuka jalan baru bagi batik untuk menjangkau pasar yang selama ini sulit disentuh.
“Anak muda yang mungkin merasa batik terlalu formal atau ‘jauh’ dari keseharian, kini bisa mengenakannya dalam bentuk jersey yang akrab dengan aktivitas mereka,” lanjut Indra. “Ketika batik masuk ke jersey, ada pesan kuat bahwa budaya tidak harus kaku. Budaya bisa hidup, bergerak, dan mengikuti zaman.”
Dari sisi perajin, kolaborasi ini juga membawa makna strategis. Satrya Parama, generasi penerus Batik Soendari, menegaskan bahwa inovasi adalah kunci menjaga keberlanjutan usaha batik keluarga.
“Kami sangat menghormati proses dan filosofi batik yang diwariskan oleh pendahulu. Namun, kami juga menyadari bahwa tanpa inovasi, batik bisa kehilangan relevansinya,” jelasnya.
Perluas Ruang Hidup Batik
Menurut Satrya, kolaborasi dengan dunia jersey bukan upaya mengomersialkan batik secara berlebihan. Melainkan memperluas ruang hidup batik.
“Kami ingin Batik Soendari tidak hanya dipandang sebagai kain atau busana tradisional, tetapi sebagai medium ekspresi budaya yang bisa masuk ke berbagai ranah, termasuk olahraga dan komunitas,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa proses kreatif tetap dijalankan dengan prinsip kehati-hatian, agar nilai batik tidak tereduksi menjadi sekadar motif dekoratif. Filosofi, cerita, dan konteks budaya tetap menjadi fondasi utama dalam setiap desain.
Kolaborasi batik dan jersey ini juga mencerminkan perubahan lanskap industri kreatif di Malang. Kota ini dikenal sebagai ruang pertemuan antara tradisi, pendidikan, dan kreativitas anak muda. Kehadiran kampus, komunitas seni, serta ekosistem UMKM yang hidup menjadikan Malang sebagai laboratorium alami bagi eksperimen budaya.
Dari perspektif budaya, langkah Batik Soendari menunjukkan bahwa batik tidak berada di luar arus modernitas. Sebaliknya, batik mampu beradaptasi dan bernegosiasi dengan simbol-simbol baru tanpa kehilangan identitasnya. Jersey yang biasanya diasosiasikan dengan klub, fans, dan kompetisi, kini membawa narasi tambahan tentang warisan, lokalitas, dan kebanggaan budaya.
Respons masyarakat terhadap kolaborasi ini pun cukup positif. Banyak yang melihat batik jersey sebagai simbol kebanggaan ganda: bangga terhadap budaya lokal, sekaligus bangga dengan gaya hidup yang aktif dan modern. Produk ini juga berpotensi menjadi medium edukasi budaya yang halus, karena memperkenalkan motif dan filosofi batik kepada khalayak yang lebih luas.
Kolaborasi Batik Soendari ini Bukanlah Akhir
Bagi Batik Soendari, kolaborasi ini bukan titik akhir. Satrya Parama menyebut eksplorasi akan terus dilakukan, baik dari sisi material, desain, maupun kolaborasi lintas disiplin.
“Selama batik diperlakukan dengan hormat dan dipahami nilai dasarnya, kami percaya batik bisa tumbuh di mana saja,” katanya.
Kolaborasi Batik Soendari dan jersey menjadi contoh bahwa warisan budaya dapat terus hidup melalui inovasi yang kontekstual. Di tengah arus globalisasi dan budaya instan, langkah ini membuktikan bahwa tradisi tidak harus bertahan dengan cara menutup diri. Justru dengan membuka dialog, batik menemukan kembali relevansinya sebagai identitas yang dinamis, inklusif, dan membumi. Dari Malang, Batik Soendari mengirim pesan: budaya lokal punya masa depan cerah ketika dirawat dengan kreativitas dan keberanian untuk berubah. (ind/aye)