Transformasi Akuntansi: Ketika Seni, Teknologi, dan Transisi Energi Bertemu

Transformasi Akuntansi: Ketika Seni, Teknologi, dan Transisi Energi Bertemu di Era 2026

Share

SUARAGONG.COM – Di tengah arus transformasi digital yang kian membara, akuntansi tak lagi sekadar deretan angka di neraca keuangan. Ia berevolusi menjadi seni kurasi dinamis—memadukan kecanggihan AI, blockchain, hingga realitas virtual (VR) dengan kebutuhan mendesak akan transisi energi terbarukan.

Transformasi Akuntansi: Ketika Seni, Teknologi, dan Transisi Energi Bertemu di Era 2026

Bayangkan sebuah galeri seni kontemporer di Malang, Jawa Timur, yang menggunakan algoritma AI untuk mengelola lukisan dan instalasi sebagai aset investasi bernilai miliaran rupiah, sekaligus menampilkan dampak lingkungan proyek panel surya melalui pameran virtual interaktif. Gambaran ini bukan fiksi futuristik, melainkan potret nyata disrupsi yang diungkap dalam riset kolaboratif Politeknik Negeri Malang (Polinema) dan Universitas Brawijaya (UB).

Kurasi Seni sebagai “Akuntansi Alternatif”

Riset kualitatif interpretif ini—berbasis analisis literatur kritis dan studi dokumentasi praktik lapangan—menemukan fakta menarik: kurasi seni berbasis teknologi digital berfungsi sebagai akuntansi alternatif. Pendekatan ini mampu merepresentasikan nilai ekonomi, sosial, budaya, hingga ekologis secara naratif dan reflektif, melampaui keterbatasan laporan keuangan statis.

“Manajemen aset seni memerlukan GCG yang kuat untuk optimalisasi nilai, dan kurasi berbasis teknologi menjadi kunci transparansi sekaligus pencegahan risiko,” tegas Indra Lukmana Putra, pakar Manajemen Polinema.

Dorongan utama transformasi ini datang dari berbagai faktor: regulasi OJK 2026 terkait aset digital dan NFT, lonjakan pasar seni NFT nasional yang menembus Rp15 triliun, hingga penerapan PSAP 07 yang mengatur aset heritage.

Hasil wawancara mendalam dengan 20 kurator dan akuntan profesional menunjukkan 85% responden sepakat bahwa AI memperkuat proses kurasi multi-stakeholder dan mampu meredam fluktuasi nilai aset seni yang rata-rata mencapai 15% per tahun.

Mekanisme kurasi ini berdiri di atas tiga pilar utama:

  • Visualisasi data melalui dashboard interaktif untuk proyek energi hijau
  • Narasi multipel yang kaya konteks sosial dan ekologis
  • Performativitas inovatif lewat pameran VR di galeri urban

Bukti empiris dari galeri di Malang mencatat peningkatan ROI aset seni hingga 22%, selaras dengan hipotesis riset.

Transisi Energi

“Transisi energi terbarukan memerlukan akuntansi yang merefleksikan dampak ekologis secara holistik. Seni visualisasi justru jadi jembatan paling efektif antara angka dan cerita manusiawi,” ujar Prof. Mochammad Junus, pakar Renewable Energy UB.

Integrasi ini juga memperkuat good corporate governance (GCG). Dewan komisaris berperan mengawasi kurasi aset sesuai PSAK 16, sementara manajemen keuangan mengoptimalkan anggaran restorasi seni, proyeksi arus kas sponsor energi hijau, hingga diversifikasi pendapatan melalui lisensi digital.

Studi kasus Galeri Selasar Sunaryo, Bandung, menunjukkan bagaimana kepemimpinan kurator visioner mampu membentuk budaya organisasi adaptif, menjaga pelestarian koleksi sekaligus patuh regulasi.

“Kurasi digital meningkatkan tata kelola galeri dan efektif mencegah penyalahgunaan aset heritage.” Jelas Nur Imamah, pakar Tata Kelola UB.

Sementara Nurefa Maulana dari Polinema menegaskan, “Keberlanjutan lingkungan kini terintegrasi dalam akuntansi lewat narasi seni yang kuat.”

Dari sisi akuntansi murni, Rosy Aprieza Puspita Zandra menambahkan, “Disrupsi teknologi mengubah aset seni menjadi narasi hidup. Serta mampu meningkatkan ROI hingga 22% melalui pendekatan humanistik.”

Akuntansi Humanistik untuk Masa Depan

Temuan riset ini menandai lahirnya akuntabilitas humanistik berbasis narasi multipel. Sebuah model baru yang mendukung agenda energi terbarukan nasional dan menempatkan akuntansi sebagai praktik sosial. Di mana bersifat responsif terhadap isu lingkungan.

Implikasinya luas:

  • Pemilik galeri mendapat model pelaporan visual yang menarik investor
  • Regulator seperti OJK dan Kemenkeu memperoleh dasar kebijakan aset seni berkelanjutan
  • Akademisi mendapat pijakan baru untuk teori akuntansi kritis? progresif

Di Malang, penerapan nyata terlihat pada proyek pengabdian masyarakat seperti TPST 3R berbasis energi terbarukan. Yang mengolah sampah organik menjadi energi hijau dengan pendekatan kurasi akuntansi naratif.

Akuntansi masa depan bukanlah akhir dari era angka, melainkan awal dari kurasi seni disruptif yang dimediasi teknologi mutakhir. Sebuah perpaduan yang tak hanya menopang transisi energi global. Tetapi juga membuka dialog baru tentang akuntabilitas adaptif di tengah krisis iklim dan gelombang digitalisasi. (IND/Aye/sg).