Tren Lagu Galau, Healing atau Malah Bikin Gamon Abadi?

Lagu galau emang udah jadi starter pack wajib anak muda zaman Now, Tapi tau ga kamu Playlist Lagu Galau mu itu bisa berdampak terbalik lo!

Share

SUARAGONG.COM – Siapa sih yang nggak punya playlist “Sad Girl/Boy Hours” di Spotify? Dari Nadin Amizah sampai Taylor Swift. Lagu galau emang udah jadi starter pack wajib anak muda zaman sekarang. Katanya sih biar aesthetic atau sarana healing. Tapi, pernah nggak kamu kepikiran kalau hobi “menyiksa diri” pakai lagu sedih ini bisa jadi bumerang?

Sisi Gelap di Balik Melodi Sedih Playlist Lagu Galau mu

Banyak yang bilang dengerin lagu galau itu cara buat katarsis (ngeluarin emosi). Tapi kalau overdosis, bukannya lega, kamu malah bisa kejebak dalam siklus Rumination (merenung berlebihan).

romanticizing sadness

Menurut riset, saat kita dengerin lagu sedih terus-menerus, otak kita bukannya move on, tapi malah terus memutar memori buruk secara berulang. Ini yang bikin kamu susah buat bangkit dari kasur, malas sosialisasi, dan akhirnya bikin perasaan sedih itu jadi identitas kamu.
Istilahnya, kamu romanticizing sadness—menganggap kesedihan itu keren, padahal mental kamu lagi teriak minta tolong.

Bukannya Pulih, Malah ‘Tenggelam’

Tren lagu galau yang berlebihan bisa memicu kondisi yang disebut Depressive Rumination. Alih-alih dapet pencerahan, kamu malah makin terpuruk karena lirik lagu tersebut seolah-olah mengonfirmasi kalau dunia emang seburuk itu.

Kalau ini diterusin, risiko gangguan kecemasan atau depresi ringan bisa makin nyata.

Jadi, kalau kamu udah mulai ngerasa “nyaman” dalam kesedihan yang nggak berujung, itu red flag besar! Kuy Move on guys! (Aye/sg)