SUARAGONG.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo bergerak cepat memperkuat keamanan kawasan wisata Gunung Bromo setelah kasus hilangnya tujuh koper milik turis/wisatawan asal Thailand. Langkah ini diwujudkan melalui rapat koordinasi (rakor) lintas sektor yang digelar di Wisma Utjik, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Jumat (20/2/2026).
Bromo Siaga: Pengamanan Diperketat Usai Koper Turis Hilang
Rakor tersebut dihadiri kepala desa penyanggah kawasan Bromo, unsur Forkopimca, aparat keamanan, operator jeep wisata, hingga tokoh masyarakat. Pertemuan ini menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan dan pelayanan wisata di salah satu destinasi unggulan Jawa Timur tersebut.
Rakor Jadi Bentuk Tanggung Jawab Bersama
Kepala Disporapar Kabupaten Probolinggo, Heri Mulyadi, menegaskan bahwa rakor digelar sebagai bentuk komitmen kolektif menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan.
“Rakor ini sebagai bentuk tanggung jawab bersama agar kawasan Gunung Bromo tetap aman, tertib, dan nyaman bagi wisatawan, sehingga kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Ia menekankan, keamanan destinasi wisata bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan seluruh pemangku kepentingan — pemerintah daerah, pelaku usaha wisata, hingga masyarakat sekitar.
Penataan Parkir hingga Regulasi Wisata Diperketat
Dalam pertemuan tersebut disepakati sejumlah langkah pembenahan, mulai dari pengaturan ulang titik parkir hingga penguatan regulasi bagi pelaku jasa wisata.
Mobilitas kendaraan di kawasan Bromo yang sangat tinggi, terutama saat musim liburan, dinilai menjadi salah satu potensi kerawanan. Penataan parkir diharapkan mampu meminimalisir peluang tindak kriminal.
Selain itu, standar pelayanan bagi pengemudi jeep wisata dan pelaku usaha pariwisata lainnya juga akan diperjelas agar seluruh pihak memiliki pedoman yang sama dalam melayani wisatawan.
Patroli Gabungan dan CCTV Ditambah
Pengamanan fisik di lapangan juga akan ditingkatkan melalui patroli gabungan yang melibatkan kepolisian, TNI, pemerintah kecamatan, serta desa penyanggah.
Tak hanya itu, pemasangan kamera pengawas (CCTV) di titik-titik rawan juga menjadi prioritas.
Langkah berbasis teknologi ini diharapkan mampu menjadi sistem pencegahan sekaligus memudahkan penelusuran jika terjadi insiden di masa mendatang.
“Keamanan kawasan wisata bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Dengan sinergi kuat, kami yakin Gunung Bromo tetap menjadi destinasi yang aman dan dipercaya wisatawan,” tambah Heri.
Kronologi Hilangnya Koper Wisatawan Thailand
Kasus ini bermula saat tujuh koper milik wisatawan Thailand dilaporkan hilang pada Minggu (15/2/2026). Peristiwa terjadi ketika rombongan wisatawan turun dari kendaraan Toyota Hiace di sekitar Museum Tengger atau pendapa Kecamatan Sukapura.
Hingga hampir sepekan berlalu, keberadaan koper maupun pelaku masih belum diketahui. Proses penyelidikan oleh Polres Probolinggo terus dilakukan.
Insiden tersebut menjadi perhatian serius karena melibatkan wisatawan mancanegara dan berpotensi memengaruhi citra pariwisata daerah.
Baca Juga : Bersih-bersih Bromo Jelang Ramadan, Petugas Kumpulkan Satu Ton Sampah
Keamanan Jadi Kunci Kepercayaan Wisatawan
Kawasan Bromo bukan hanya ikon wisata alam, tetapi juga sumber penghidupan bagi masyarakat desa penyanggah melalui jasa transportasi jeep, homestay, kuliner, hingga UMKM lokal.
Karena itu, jaminan keamanan menjadi faktor krusial bagi keberlanjutan ekonomi masyarakat setempat.
Melalui langkah penataan parkir, peningkatan patroli, serta pemasangan CCTV, Pemkab Probolinggo berharap kawasan Bromo tetap menjadi destinasi yang aman, tertib, dan nyaman bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. (Duh/aye)