Type to search

Gaya Hidup Hiburan

Ngeri, BNPT Sebut Ratusan Anak Terpapar Radikalisme Lewat Roblox

Share
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap fakta mengejutkan: 112 anak di Indonesia terpapar paham radikalisme sepanjang 2025, dan sebagian di antaranya masuk lewat platform gim daring seperti Roblox.

SUARAGONG.COM – Ngeri-Ngeri, ih Takoet-nye. Dunia digital ternyata nggak selalu ramah anak. Disisi lain, di balik avatar lucu dan dunia virtual penuh warna, ada ancaman serius yang mengintai. Hal ini diungkapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dimana menjelaskan fakta mengejutkan: 112 anak di Indonesia terpapar paham radikalisme sepanjang 2025, dan sebagian di antaranya masuk lewat platform gim daring seperti Roblox.

Roblox Disorot, Dunia Main Jadi Pintu Masuk Radikalisme

Bukan hoaks, bukan sekadar isu medsos. Data ini disampaikan langsung oleh Kepala BNPT Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono dalam pertemuan di Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2025).

Selama ini, gim daring sering dianggap “zona aman” buat anak-anak. Tapi menurut BNPT, justru fitur interaksi bebas di dalam gim—seperti obrolan (chat) dan komunikasi antarpemain—menjadi celah empuk untuk penyebaran paham ekstrem.

“Radikalisasi sekarang tidak lagi datang dari mimbar atau forum tertutup, tapi menyusup lewat ruang digital yang tampak harmless,” kurang lebih begitu gambaran yang disampaikan BNPT.

Di dunia virtual, proses indoktrinasi bisa berlangsung pelan, halus, dan nyaris tak terdeteksi. Anak-anak yang masih polos dan aktif berinteraksi jadi target paling rentan. Hal ini juga dilihat dari Roblox yang juga memiliki player dibawah umur atau bocil yang dinilai rentan akan paham Radikalisme.

Kalau dulu ekstremisme identik dengan forum tertutup atau situs gelap, kini polanya berubah total. Gim online dan media sosial jadi medan baru perekrutan ideologis.

Lewat obrolan santai, role-play, hingga komunitas virtual, anak-anak bisa terpapar narasi kebencian tanpa sadar. Dan yang bikin ngeri, proses ini sering terjadi tanpa sepengetahuan orang tua.

PP Tunas Hadir Jadi “Tameng Digital” Anak

Menanggapi situasi ini, pemerintah nggak tinggal diam. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025, yang dikenal sebagai PP Tunas—aturan khusus soal perlindungan anak di ruang digital.

PP ini digadang-gadang sebagai “perisai baru” untuk menjaga anak-anak dari konten berisiko, termasuk paparan radikalisme.

Isi PP Tunas: Nggak Main-main

Beberapa poin penting dalam PP Tunas antara lain:

  • Verifikasi usia wajib : Platform digital harus punya sistem verifikasi usia yang ketat.

  • Teknologi pemindaian wajah : Roblox disebut tengah mengembangkan teknologi berbasis kamera untuk memastikan pengguna benar-benar sesuai usia.

  • Pembatasan akses otomatis : Jika terdeteksi sebagai anak di bawah umur, akses ke fitur tertentu akan langsung dibatasi.

Langkah ini diharapkan bisa menutup celah interaksi bebas yang selama ini dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab.

Indonesia Juga Harus Belajar

Indonesia bukan satu-satunya yang waspada. Australia, misalnya, sudah lebih dulu melarang anak di bawah 16 tahun mengakses media sosial.

Lewat PP Tunas, Indonesia menargetkan perlindungan digital yang lebih menyeluruh bagi anak dan remaja di bawah 18 tahun, tanpa harus mematikan kreativitas dan ruang bermain mereka.

Baca Juga : Rusia Blokir Roblox karena Tuduhan Konten Tak Pantas

Alarm Buat Orang Tua dan Platform Digital

Yuk para orang tua, Kasus ini jadi pengingat keras: dunia digital bukan cuma soal hiburan. Pengawasan orang tua, literasi digital, dan tanggung jawab platform jadi kunci utama.

Main gim boleh. Seru-seruan oke, boleh aja. Tapi kalau ruang main berubah jadi pintu masuk ideologi ekstrem, semua pihak harus ikut pasang badan. Disini pengawasan orang tua, regulasi pemerintah dan kesadaran publik jadi kunci. (Aye/sg)

Tags:

You Might also Like