Wali Kota Malang Ajak Kampus & Mahasiswa Ikut Atasi Banjir
Share
SUARAGONG.COM – Urusan banjir di Kota Malang ternyata nggak bisa cuma dibebankan ke pemerintah. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menegaskan bahwa solusi banjir harus dikeroyok bareng-bareng, termasuk dengan melibatkan kampus dan mahasiswa yang jumlahnya hampir menyamai penduduk asli Kota Malang.
Banjir Kota Malang Bukan Hanya Urusan Pemkot Saja, Kampus Ikut Turun Tangan
Pernyataan itu disampaikan Wahyu saat memaparkan rencana koordinasi lintas sektor dalam penanganan banjir. Ia mengungkapkan, masukan tersebut juga datang dari Prof. Bisri, yang mendorong agar kampus tak hanya jadi pusat akademik, tapi juga aktor nyata dalam pengelolaan lingkungan.
“Peran perguruan tinggi ini harus banyak terlibat. Karena penyumbang aktivitas terbesar di Kota Malang setelah penduduk asli ya mahasiswa. Jumlahnya hampir sama,” tegas Wahyu.
Mahasiswa Banyak, Tanggung Jawab Juga Ikut Besar
Menurut Wahyu, besarnya populasi mahasiswa otomatis berdampak pada lingkungan, terutama soal air hujan dan drainase. Karena itu, ia mendorong agar setiap kawasan kampus punya sistem pengelolaan air hujan sendiri, bukan semuanya dialirkan ke drainase kota.
Salah satu solusi yang disorot adalah sumur resapan atau sistem injeksi air ke dalam tanah, agar limpasan air hujan bisa ditekan sejak dari hulunya.
“Jangan sampai kawasan perguruan tinggi, perumahan, perusahaan, dan lainnya membuang air begitu saja ke drainase kota. Bebannya jadi berat,” ujarnya.
Edukasi Jadi Kunci, Bukan Cuma Beton dan Saluran
Bagi Wahyu, penanganan banjir bukan cuma soal teknis. Kesadaran lingkungan, terutama di kalangan mahasiswa, jadi faktor krusial. Tanpa perubahan perilaku, pembangunan infrastruktur dinilai tidak akan maksimal.
“Kami butuh edukasi. Mahasiswa juga harus punya kesadaran. Kalau tidak, ya kita repot,” katanya.
Karena itu, peran perguruan tinggi dinilai strategis, bukan hanya membangun fisik, tetapi juga membentuk mindset peduli lingkungan di kalangan civitas akademika.
Forum Rektor Bakal Dilibatkan
Dalam waktu dekat, Wahyu berencana bertemu Forum Rektor Kota Malang untuk membahas konsep kolaborasi ini. Harapannya, bisa dirumuskan skema konkret yang aplikatif dan bisa langsung diterapkan di lingkungan kampus masing-masing.
Namun ia menegaskan, penanganan banjir bukan pekerjaan instan.
“Nggak ada istilah sim salabim. Ada tahapan dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, sampai kesadaran masyarakat. Semua harus jalan bareng,” pungkasnya.
Pemkot Malang optimistis, dengan kolaborasi kampus, mahasiswa, dan pemerintah, upaya pengendalian banjir bisa lebih terintegrasi dan berkelanjutan demi kota yang lebih aman dan nyaman. (fat/aye)

