Banjir Ponpes Probolinggo Krejengan Rendam Asrama Santri
Share
SUARAGONG.COM – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Probolinggo selama lebih dari enam jam, Sabtu (17/1/2026), menyebabkan banjir ponpes Probolinggo Krejengan. Salah satu lokasi terdampak parah adalah Pondok Pesantren Darut Tauhid di Desa Tanjungsari, Kecamatan Krejengan, dengan ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar 1,5 meter. Air menggenangi hampir seluruh area pondok pesantren. Sejumlah kamar santri, khususnya di kawasan pondok putri, terendam banjir sehingga aktivitas pendidikan dan kegiatan harian santri terhenti sementara.
Banjir Ponpes Probolinggo Krejengan Dipicu Hujan Deras
Banjir yang merendam Pondok Pesantren Darut Tauhid dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang turun sejak siang hari. Curah hujan yang berlangsung terus-menerus membuat debit air sungai di sekitar kawasan pondok meningkat signifikan.
Salah seorang santri Ponpes Darut Tauhid, M. Reza Mahardika, mengatakan hujan mulai turun sejak pukul 14.00 WIB dan tidak berhenti hingga malam hari.
“Awalnya hujan sejak siang dan tidak berhenti sama sekali. Setelah salat isya, sekitar pukul 19.30 WIB, air mulai masuk ke area pondok,” ujar Reza di lokasi kejadian.
Baca juga: Banjir Dusun Bibis Probolinggo Lansia Dievakuasi Perahu Malam Hari
Tanggul Jebol Picu Banjir Ponpes Probolinggo Krejengan
Menurut keterangan Reza, banjir terjadi setelah tanggul sungai yang berada di samping pondok pesantren tidak mampu menahan derasnya aliran air. Tanggul tersebut akhirnya jebol dan air meluap ke halaman serta bangunan pondok.
Seiring waktu, ketinggian air terus meningkat dan merendam ruang belajar serta kamar santri. Para santri berupaya menyelamatkan diri dan mengamankan barang-barang yang masih bisa dipindahkan ke tempat lebih tinggi.
Baca juga: Angin Datang Tiba-Tiba Puting Beliung Sapu 2 Desa di Leces
Kamar Santri Terendam Aktivitas Pondok Terhenti
Genangan air bercampur lumpur menyebabkan lingkungan pondok tidak memungkinkan untuk aktivitas belajar maupun ibadah. Sejumlah kamar santri terendam, sementara kitab pelajaran, pakaian, dan perabot pondok menjadi prioritas untuk diamankan.
Kondisi tersebut membuat seluruh kegiatan rutin di pondok pesantren dihentikan sementara hingga air surut dan situasi dinyatakan aman.
Baca juga: Tak Sekadar Teori Pelajar Probolinggo Praktik Vertical Rescue
Santri Putra Evakuasi Barang Secara Gotong Royong
Melihat kondisi yang terus memburuk, para santri putra melakukan evakuasi barang secara gotong royong. Lemari, kitab pelajaran, pakaian, serta perabotan pondok dipindahkan ke lokasi yang lebih tinggi.
“Kami berusaha menyelamatkan barang-barang yang masih bisa diangkat. Air cepat sekali naiknya,” kata Reza.
Baca juga: Penutupan Bromo Wulan Kapitu 2026 Wisata Dihentikan Sementara
BPBD Tangani Dampak Banjir Ponpes Probolinggo Krejengan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo turun ke lokasi setelah menerima laporan banjir yang merendam pondok pesantren dan permukiman warga.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarif, menyampaikan bahwa pihaknya memprioritaskan keselamatan warga dan santri terdampak.
“Langkah utama kami adalah memastikan keselamatan warga. Evakuasi terus kami lakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Oemar.
BPBD bersama unsur terkait juga melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi banjir serta berkoordinasi dengan pihak pondok pesantren dan aparat setempat untuk memastikan kebutuhan darurat santri terpenuhi
Baca juga: Berawal Dari Anime Siswa SRT 7 Kota Probolinggo Pidato Bahasa Jepang di Depan Presiden
Tujuh Kecamatan di Probolinggo Terdampak Banjir
Selain Kecamatan Krejengan, BPBD mencatat sedikitnya tujuh kecamatan di Kabupaten Probolinggo terdampak banjir akibat hujan deras tersebut. Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Kraksaan, Besuk, Krejengan, Gading, Maron, Sumberasih, dan Tongas.
Sejumlah fasilitas umum dilaporkan ikut terdampak. Namun, BPBD menyatakan pendataan kerusakan akan dilakukan setelah kondisi dinyatakan aman dan air mulai surut.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat di wilayah rawan banjir untuk tetap waspada dan segera melapor kepada pihak berwenang apabila terjadi peningkatan debit air atau kondisi darurat lainnya. (duh/dny)

