Wali Kota Probolinggo Tinjau Drainase Tersumbat Usai Banjir
Share
SUARAGONG.COM – Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin meninjau langsung sejumlah titik drainase bermasalah di wilayah Kota Probolinggo usai hujan deras yang memicu banjir dan genangan, Minggu (18/1/2026). Peninjauan dilakukan sebagai langkah respons cepat pemerintah daerah untuk mengatasi dampak banjir sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.
Wali Kota Probolinggo Tinjau Drainase Tersumbat Usai Banjir, Normalisasi Dilakukan Bertahap
Beberapa lokasi yang menjadi fokus peninjauan antara lain drainase di Jalan Mayjen Panjaitan, Jalan Suyoso, serta aliran sungai di Jalan KH Fadhol. Hujan lebat yang mengguyur kota pada Sabtu (17/1/2026) malam menyebabkan genangan air, tumpukan sampah meluber ke badan jalan, hingga ambrolnya plengsengan sungai.
Dalam kegiatan tersebut, Wali Kota Aminuddin didampingi tim gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPR PKP), serta BPBD Kota Probolinggo.
Temuan Lapangan, Drainase Tidak Berfungsi Optimal
Saat meninjau lapangan, Wali Kota Aminuddin menemukan sejumlah saluran air yang tidak berfungsi maksimal akibat tersumbat. Menurutnya, genangan air yang terjadi bukan disebabkan faktor mendadak, melainkan akumulasi persoalan aliran air yang terhambat.
“Semalam sempat terjadi banjir, ternyata salah satu masalahnya ada di sini. Ini kita selesaikan satu per satu. Tadi yang di Brak juga airnya tidak mengalir ke utara, ke arah Panjaitan. Ini sedang diperbaiki, jadi ada dua titik yang kita benahi,” ujar Aminuddin.
Ia menegaskan penanganan drainase akan dilakukan secara bertahap dan terencana, dengan melibatkan lintas perangkat daerah agar hasilnya lebih optimal dan berkelanjutan.
Sampah Jadi Penyebab Dominan Genangan
Wali Kota Aminuddin juga menyoroti persoalan sampah sebagai faktor dominan penyebab tersumbatnya drainase. Tumpukan sampah di pintu-pintu air membuat aliran tidak berjalan lancar sehingga air hujan meluap ke jalan.
“Ada beberapa titik di pintu-pintu air yang alirannya terhambat sampah, sehingga air tidak bisa mengalir secara maksimal ke arah utara,” tambahnya.
Menurutnya, persoalan sampah harus menjadi perhatian bersama karena berdampak langsung pada kebersihan lingkungan sekaligus potensi bencana banjir saat curah hujan tinggi.
Curah Hujan Tinggi Perparah Kondisi Drainase
Kepala DPUPR PKP Kota Probolinggo, Setiorini Sayekti, menjelaskan bahwa kondisi drainase yang bermasalah semakin diperparah oleh tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, berdasarkan prakiraan cuaca, curah hujan diprediksi masih tinggi dalam sepekan ke depan.
“Karena curah hujan kemarin memang sangat tinggi, dan satu minggu ke depan juga diprediksi tetap tinggi. Banyak luapan air dari saluran-saluran drainase karena tidak mampu menampung debit,” jelasnya.
Selain faktor alam, hambatan berupa sampah serta kendala konstruksi seperti bongkaran saluran turut mengurangi kapasitas dan kelancaran aliran air.
Penanganan Darurat Plengsengan Sungai Ambrol
Perhatian juga difokuskan pada ambrolnya plengsengan sungai di Jalan KH Fadhol. DPUPR PKP telah melakukan penanganan darurat dengan memasang sesek bambu dan kantong pasir guna mencegah longsoran meluas.
“Kami sudah menyiapkan penanganan daruratnya. Untuk sungai itu, kewenangannya berada di bawah UPT SDA Provinsi. Kami juga sudah bersurat sejak lama, namun belum ditangani hingga akhirnya terjadi longsor,” terang Rini.
Pemkot Probolinggo terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar perbaikan permanen dapat segera dilakukan.
BPBD Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo, Boedi Harjanto, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi di musim hujan.
“Perlu rutin gotong royong di lingkungan masing-masing, terutama membersihkan saluran air dan mengurangi sedimen. Itu yang sering menyebabkan wilayah mudah tergenang saat hujan turun lama,” pesannya.
Pemerintah Kota Probolinggo menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pembenahan drainase dan sungai secara berkelanjutan. Namun, upaya tersebut memerlukan dukungan penuh masyarakat agar saluran air tetap berfungsi optimal.
Peninjauan langsung ini diharapkan menjadi solusi jangka pendek sekaligus dasar perencanaan penataan drainase yang lebih baik ke depan. (aye/sg)

