Resident Evil Requiem: Arah Baru yang Berani dari Capcom?
Share
SUARAGONG.COM – Bisa dibilang seri Resident Evil adalah tambang emas milik Capcom. Sudah berjalan lebih dari dua dekade, franchise horor ini nyaris selalu merilis “haymaker” yang sukses secara kritik maupun penjualan. Namun untuk seri terbaru, Resident Evil Requiem, reaksi penggemar justru terbelah.
Resident Evil Requiem: Arah Baru yang Berani, Tapi Bikin Fans Campur Aduk
Sebagai fans berat, game ini terasa seperti langkah besar menuju arah baru — sekaligus sumber kebingungan.
Di satu sisi, karakter ikonik seperti Leon S. Kennedy kini tampil lebih tua dan matang. Di sisi lain, hadir protagonis baru Grace Ashcroft yang seolah disiapkan untuk “mengisi sepatu” Leon di masa depan.
Alih-alih rasa lega, pengalaman awal justru meninggalkan pertanyaan besar: ke mana sebenarnya seri ini akan dibawa?
“RE7”-nya Generasi Baru
Banyak pemain menyebut Requiem sebagai versi modern dari Resident Evil 7: Biohazard di era 2026. Seperti saat Capcom memperkenalkan Ethan Winters dulu, kini Grace hadir sebagai orang “biasa” yang terseret ke dalam bencana B.O.W.
Bedanya, Grace bukan sipil polos. Ia adalah agen FBI terlatih, sehingga penggunaan senjata api terasa natural sejak awal.
Menariknya lagi, kehadiran Grace membuka pintu kanon baru bagi Resident Evil Outbreak melalui karakter Alyssa Ashcroft — yang disebut sebagai ibunya. Apakah ini sekadar fan service atau fondasi cerita besar? Requiem sengaja menyimpannya rapat.

Trailer Resident Evil Requiem (Youtube)
Horor Klasik yang Kembali Menggigit
Beberapa jam pertama memberi kesan kuat bahwa Capcom ingin menghadirkan “Resident Evil vintage”. Sebuah horor murni di atas aksi. Nuansa ini terasa seperti penghormatan terhadap Resident Evil 2.
Elemen klasik hadir lengkap:
- Inventaris terbatas
- Manajemen amunisi ketat
- Puzzle menantang tapi adil
- Backtracking ala Metroidvania
- Ancaman konstan di setiap sudut
Ketegangan tidak datang dari ledakan atau aksi heroik, melainkan dari rasa tidak aman yang terus menghantui.
Dua Karakter, Dua Gaya Main
Gameplay Requiem terasa unik karena pemain mengendalikan dua protagonis dengan pendekatan sangat berbeda.
- Bermain sebagai Leon → vibes aksi seperti Resident Evil 4
- Bermain sebagai Grace → horor sempit dan mencekam ala RE7
Lingkungan gelap, ruang sempit, dan sumber daya super terbatas membuat segmen Grace jauh lebih imersif — bahkan claustrophobic. Namun di sinilah kritik mulai muncul.
Desain Level: Homage atau Artificial Difficulty?
Area awal seperti Rhodes Hill Clinic jelas terinspirasi desain mansion klasik seri lama. Eksplorasi berbasis sayap bangunan, puzzle, dan navigasi seperti labirin mencoba membangkitkan nostalgia.
Masalahnya, interkoneksi antar area terasa kurang mulus. Backtracking yang seharusnya memuaskan justru sering terasa merepotkan — apalagi dengan zombie yang melimpah dan resource minim.
Alih-alih menegangkan, beberapa pemain merasa area ini hanya menambah “kesulitan buatan”.
Meski begitu, dari sisi presentasi, desain ruangan tetap impresif: detail lingkungan, file lore, hingga alasan eksplorasi di setiap kamar terasa solid.
Mixed Feelings yang Justru Menarik
Requiem bukan game yang buruk — justru sebaliknya. Ia ambisius, berani, dan jelas ingin mendefinisikan ulang arah franchise.
Namun keberanian itu datang dengan konsekuensi: tidak semua fans siap meninggalkan formula lama atau menerima perubahan besar.
Jika bagian terbaiknya menunjukkan bahwa Resident Evil masih raja survival horror, maka bagian lemahnya memperlihatkan bahwa bahkan titan pun bisa tersandung saat mencoba berevolusi.
Satu hal pasti — perjalanan Requiem masih panjang, dan opini publik bisa berubah seiring pemain menamatkan keseluruhan cerita. (Aye/sg)

