AI Data Center Luar Angkasa: China Bikin Server di Orbit
Share
SUARAGONG.COM – Gaes, tiga hal lagi rame banget nih di jagat teknologi kecerdasan buatan alias AI, data center super-besaran, dan ruang angkasa. Biasanya kita ngelatih AI pakai server gede yang makan listrik segunung dan butuh AC super-dingin. Tapi tunggu dulu sekarang ada ide gilaaa kenapa nggak pindahin semuanya ke luar angkasa aja?! Yep! Ini bukan sekadar meme sci-fi lagi. Dari pemerintah China sampai startup keren banget, semua kayak ngerasa kalau AI data center luar angkasa bakal jadi masa depan komputasi.
China Bukan Cuma Ngebom Roket, Tapi Mau Data Center di Orbit
Baru-baru ini, pemerintah China lewat badan antariksa besar mereka China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC) ngumumin rencana ambisius buat bikin data center AI di ruang angkasa dalam lima tahun ke depan. Motto mereka? Pindahin komputasi berat dari Bumi ke orbit!
Kenapa? Karena server biasa di Bumi makin makan listrik, lahan makin mahal, dan masalah cooling alias pendinginan makin susah. Di luar angkasa? Matahari bersinar terus, nggak ada polusi panas, dan gak perlu ribet banget nge-cooling seperti di Bumi.
Menurut rencana, proyek ini bakal jadi bagian besar dari kelanjutan Five-Year Plan China ini semacam roadmap teknologi yang tiap lima tahun mereka susun. Jadi, bukan sekadar ide random, tapi strategi nasional.
Baca juga: iPhone 18 Pro Max Spesifikasi Layar Pakai OLED Terbaik Samsung
Startup China Udah Ngegas Duluan!
Sebelum pemerintah China bikin roadmap resminya, ada startup kece namanya ADA Space yang udah jalan duluan. Mereka udah ngeluncurin 12 satelit sebagai bagian dari Three-Body Computing Constellation alias semacam superkomputer di orbit.
Satelit-satelit ini bukan hanya nyimpen data doang, tapi bisa ngelakuin komputasi AI juga. Misalnya, satu batch satelit tadi udah dites jalanin model AI terbesar mereka di orbit pake model kecerdasan bahasa Qwen3 dari Alibaba!
Nah loh, ini bukan main-main: mereka rencanain punya 2.800 satelit di orbit buat nge-build jaringan komputasi yang bisa bikin server server tanah kering keringetan.
Baca juga: Khofifah dan Komdigi Luncurkan Program Talenta Digital Jatim Mendunia
Kenapa Orbit Jadi Pilihan Epic?
Alasan teknisnya sebenernya lumayan sederhana:
1. Sinar Matahari 24/7
Di orbit, panel surya bisa nyerap sinar terus tanpa gangguan kabut, malam, atau polusi. Itu artinya energi super banyak yang bisa dipake langsung buat nge-power AI yang haus listrik.
2. Cooling Natural
Di ruang angkasa gak ada atmosfer, jadi panas bisa diradiasikan langsung ke ruang kosong tanpa perlu AC raksasa kayak di pusat data Bumi.
3. Data Proses Lebih Cepet
Kalau data diproses langsung di orbit, satelit gak perlu ngirim duluan ke Bumi buat diolah. Ini bisa nurunin latency alias delay yang bikin AI lag.
Baca juga: Usai Sempat Diblokir, Grok AI Dibuka Lagi dengan Syarat Ketat dari Komdigi
Kompetisi Global China vs Musk & Perusahaan Barat
China tentu bukan pemain tunggal di arena ini. Di AS, misalnya:
- SpaceX mau bikin jutaan satelit yang juga punya potensi jadi pusat komputasi Ai.
- Starcloud, startup AS, udah nguji GPU Nvidia di orbit.
- Google punya Project Suncatcher yang rencananya akan ngeluncurin prototipe Ai data center luar angkasa tahun 2007.
Tapi menurut beberapa analis industri, proyek ini masih penuh tantangan teknologi dan finansial biaya peluncuran, pemeliharaan di luar angkasa, sampai problem teknis kayak radiasi tetap jadi PR besar buat semua pemain.
Baca juga: Menkomdigi Tegaskan Operator Seluler Tak Pegang Data Biometrik SIM Card
Beneran Gimana Teknologinya?
Kalau kita lihat dari satelit ADA Space tadi, mereka udah pake:
- Model Ai besar 8 miliar parameter di setiap satelit.
- Koneksi laser antar satelit buat transfer data cepat.
- Kemampuan komputasi peta peta per detik untuk ngejalanin aplikasi Ai langusng di orbit.
Ini berarti AI data center luar angkasa bukan cuma server yang disimpen di atas sana tapi sistem superkomputer yang bisa ngolah data real-time dari langit, bumi, dan mungkin masa depan kita semua.
Baca juga: Inovasi Pelajar Surabaya Ubah Kulit Bawang Jadi Produk Bernilai
Dampak ke Dunia Nyata Bukan Cuma Teknologi Nerd
Lu pikir ini cuma buat pamer teknologi? Nggak juga!
- Data observasi bumi lebih cepat diproses, bisa bantu cuaca, mitigasi bencana, sama analisis lingkungan langsung dari orbit.
- Ai bisa jalan tanpa delay besar, bikin aplikasi global jadi lebih responsif.
- Energi lebih efisien, tanpa perlu bongkar pasang grid listrik raksasa di darat.
Bayangin aja informasi dari sensor satelit di Antartika bisa diproses secepat di New York, tanpa lewat jaringan tradisional yang ribet banget.
Baca juga: Infinix Note Edge Spesifikasi Indonesia Tipis Banget Kayak HP Mahal
Tantangan yang Masih Harus Ditaklukin
Tentu aja, semua ini bukan tanpa drama:
- Biaya tinggi banget, sampai sekarang ngeluncurin satelit bukan murah.
- Risiko ruang angkasa, ada radiasi, puing antariksa dan cuaca ruang angkasa yang tidak bisa diprediksi.
- Pemeliharaan sulit, kalau ada yang rusak gak bisa kaya servis server di Jakarta.
Jadi, ya meskipun seru dan futuristik, tetap aja butuh banyak inovasi lagi sebelum semua pusat data pindah ke orbit.
Baca juga: Samsung Galaxy S26 Bocoran Terbaru Fitur AI-nya Bikin Kaget
Masa Depan Itu Dekat & Keren!
Kalau dulu manusia berlomba ke Bulan dan Mars, sekarang kita udah mulai lomba di sebuah orbit yang penuh satelit cerdas. China dan berbagai pemain global lagi ngegas banget buat bikin AI data center luar angkasa jadi nyata.
Ini bukan sekadar mimpi Star Trek ini langkah nyata buat masa depan komputasi AI yang lebih cepat, lebih efisien, dan mungkin bikin hidup kita makin connected secara global.
Siap-siap aja ya, gaes suatu hari nanti kamu mungkin ngetik “Hey AI” dan jawabannya diproses oleh server yang lagi ngorbit di atas kepala kita! (dny)

