Type to search

Kesehatan Trends

Anak Muda Harus Waspada, Bahaya “Whip Pink” Mengintai

Share
Di Balik Tabung whip Pink di Meja Barista, Tersimpan Bahaya Serius: Gas N₂O Kini Jadi Tren Berbahaya Anak Muda

SUARAGONG.COM – Di meja barista atau dapur bakery favorit, sering terlihat tabung logam kecil berwarna merah muda yang ikonik. Banyak orang mengenalnya sebagai Whip Pink atau nangs. Alat ini menjadi “rahasia” di balik topping krim menggunung cantik di atas minuman kekinian. Namun, di balik tampilannya yang estetik, tersimpan fakta kimiawi yang serius.

Di Balik Tabung Whip Pink: Gas N₂O Kini Jadi Tren Berbahaya Anak Muda

Gas di dalam tabung tersebut memiliki “kepribadian ganda”. Di satu sisi menjadi sahabat koki dan barista, tetapi di sisi lain dapat menjadi musuh yang melumpuhkan sistem saraf bila disalahgunakan.

Dalam beberapa waktu terakhir, media sosial diramaikan tren whipping atau menghirup gas Nitrous Oxide (N₂O)—yang dikenal sebagai laughing gas. Praktik ini ramai diperbincangkan setelah diduga berkaitan dengan meninggalnya seorang influencer muda yang viral.

Fenomena ini bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan telah berkembang menjadi isu kesehatan masyarakat yang patut mendapat perhatian serius.

Apa Sebenarnya Isi Tabung Cantik Itu?

Whip Pink berisi gas Nitrous Oxide (N₂O) yang dalam standar pangan internasional dikenal sebagai kode E942. Gas ini tidak berwarna dan tidak berasa, serta secara legal digunakan dalam beberapa bidang, seperti:

  • Medis, sebagai agen sedasi ringan dan pendamping anestesi dengan campuran oksigen.
  • Industri pangan, sebagai propelan aerosol dan pembentuk busa krim.
  • Otomotif, untuk meningkatkan tenaga mesin (NOS).

Masalah muncul ketika N₂O dihirup langsung demi sensasi euforia sesaat.

Saat masuk ke otak, gas ini bekerja pada sistem saraf pusat, menimbulkan rasa ringan, tenang, hingga “nge-fly”. Efek cepat inilah yang membuatnya populer sebagai zat rekreasional di kalangan anak muda.

Survei Narkoba Global 2021 bahkan mencatat N₂O sebagai salah satu zat rekreasional terpopuler di dunia.

Legal, tapi Terbatas

Sejumlah negara telah mengambil langkah tegas terhadap penyalahgunaan N₂O. Inggris melarang penggunaannya di luar kepentingan medis dan industri. Belanda, Australia, Prancis, Denmark, hingga Irlandia juga memberlakukan pembatasan ketat akibat meningkatnya kasus kecelakaan dan gangguan kesehatan.

Di Indonesia, N₂O masih tercatat sebagai bahan tambahan pangan yang diizinkan BPOM untuk fungsi tertentu serta digunakan terbatas di dunia medis. Namun, penggunaan di luar itu—terutama dengan cara dihirup—tidak termasuk dalam izin pemakaian.

Hingga kini, belum ada regulasi khusus yang secara tegas mengatur penyalahgunaan N₂O sebagai zat rekreasional. Celah inilah yang membuat produk berbasis gas ini relatif mudah diakses, baik secara daring maupun luring.

Dampak Serius bagi Tubuh

Efek N₂O tidak berhenti pada rasa pusing atau tawa sesaat.

Secara farmakologis, gas ini dapat menimbulkan disorientasi, gangguan daya ingat, halusinasi, depresi, hingga kehilangan kesadaran. N₂O juga menginaktivasi vitamin B12 yang penting bagi sistem saraf, sehingga dapat memicu kerusakan otak dan sumsum tulang belakang.

Sensasi “melayang” yang dirasakan pengguna sejatinya adalah tanda otak kekurangan oksigen (hipoksia), yang berisiko memicu pingsan mendadak, gangguan jantung, bahkan kematian.

Paparan langsung juga dapat melukai mulut dan tenggorokan, menyebabkan sesak napas berat, detak jantung tidak normal, hingga serangan jantung mendadak.

Pencuri Vitamin B12 yang Bisa Berujung Lumpuh

Bahaya jangka panjang paling senyap dari N₂O adalah kerusakan saraf permanen. Gas ini menghancurkan vitamin B12 yang berfungsi menjaga lapisan pelindung saraf.

Gejala awal biasanya berupa kesemutan di ujung jari, mati rasa, gangguan keseimbangan, hingga akhirnya kelumpuhan total. Ironisnya, kerusakan ini sering kali bersifat permanen.

Normalisasi Bahaya di Media Sosial

Meningkatnya penyalahgunaan N₂O tak lepas dari normalisasi perilaku berisiko di media sosial. Banyak konten menampilkan penggunaan nangs sebagai aktivitas “seru” tanpa memperlihatkan dampak jangka panjangnya.

Minimnya literasi kesehatan, kemudahan akses produk, serta lemahnya pengawasan distribusi membuat anak muda semakin rentan terjebak tren berbahaya demi sensasi sesaat.

Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi menciptakan generasi muda dengan risiko gangguan kesehatan kronis akibat budaya viral yang keliru. (Aye/sg)