Type to search

Gaya Hidup Teknologi

Balik ke Kabel? Gen Z Mulai Ninggalin TWS, Lebih Aman?

Share
earphone Kabel atau TWS

SUARAGONG.COM – Makin ke sini, orang-orang makin gandrung dengan earphone Bluetooth macam TWS. Praktis, tanpa kabel, dan terasa lebih modern. Apalagi, banyak ponsel keluaran terbaru sudah tak lagi menyediakan lubang audio jack 3,5 mm. Mau tak mau, perangkat nirkabel jadi pilihan paling masuk akal.

Balik ke Kabel? Gen Z Mulai Ninggalin TWS, Ini Alasannya!

Namun, di tengah dominasi TWS, muncul “regresi tren” yang cukup mencuri perhatian.

Pada Desember 2025, The Guardian menuliskan bahwa sejumlah selebritas papan atas—mulai dari Lily-Rose Depp, Paul Mescal, hingga Bella Hadid—terlihat kembali menggunakan earphone kabel di ruang publik.

Sebulan kemudian, CNN menguatkan fenomena itu. Nama-nama seperti Drake, Zendaya, Harry Styles, hingga bintang NBA Stephen Curry dan Anthony Edwards juga terlihat menanggalkan TWS mereka.

Sontak, publik bertanya: ada apa?

Gaya, Nostalgia, hingga Kelelahan Digital

Di permukaan, jawabannya sederhana: gaya.

Daniel Rodgers, editor fesyen di British Vogue, menyebut earphone kabel kini berevolusi menjadi aksesori fesyen—bisa “diatur gayanya” seperti jam tangan atau tas. Kabel yang menjuntai bukan lagi dianggap kuno, melainkan statement.

Ada pula faktor nostalgia. Earphone kabel mengingatkan orang pada era Walkman dan iPod generasi awal—masa ketika musik terasa lebih personal dan tidak serba instan.

Fenomena ini juga bersinggungan dengan kelelahan digital (digital fatigue). Meningkatnya minat terhadap hobi analog—seperti merajut, kamera film, hingga tren “dumbphone”—menunjukkan sebagian orang ingin mengambil jarak dari dunia serba nirkabel dan serba cepat.

Faktor harga pun tak bisa diabaikan. Earphone kabel seperti Apple EarPods dijual jauh lebih murah dibanding AirPods. Dengan selisih harga yang signifikan dan kualitas suara yang dianggap tak terlalu berbeda, banyak orang memilih opsi yang lebih ekonomis.

Namun, di balik semua alasan itu, ada satu isu yang lebih substantif: kesehatan.

Seberapa Aman Earphone Bluetooth?

Pada 2011, International Agency for Research on Cancer (IARC) di bawah naungan World Health Organization (WHO) mengklasifikasikan radiasi frekuensi radio—termasuk dari perangkat Bluetooth—sebagai “possibly carcinogenic to humans” (kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia).

Bluetooth bekerja dengan gelombang radio frekuensi rendah sekitar 2,4 GHz, menghasilkan radiasi non-pengion (Non-Ionizing Radiation/NIR). Berbeda dari sinar-X yang termasuk radiasi pengion dan dapat merusak DNA secara langsung, NIR jauh lebih lemah.

Tingkat radiasi earphone Bluetooth umumnya berada di kisaran 0,2–0,3 W/kg—masih di bawah batas aman internasional dan jauh lebih rendah dibanding ponsel. Organisasi seperti Cancer Research UK menyatakan belum ada cukup bukti kuat yang menunjukkan earphone Bluetooth menyebabkan kanker.

Namun, ada satu faktor yang membuat ilmuwan tetap berhati-hati: akumulasi jangka panjang.

Earphone Bluetooth dipakai sangat dekat dengan kepala dan leher, sering kali berjam-jam setiap hari, selama bertahun-tahun. Efek kumulatif inilah yang kini mulai diteliti lebih serius.

Sorotan pada Kelenjar Tiroid

Salah satu organ yang banyak dikaji adalah kelenjar tiroid—organ berbentuk kupu-kupu di leher yang sensitif terhadap radiasi.

Studi epidemiologi yang terbit di jurnal Scientific Reports pada Juni 2024 menemukan bahwa durasi penggunaan headset Bluetooth harian berkorelasi signifikan dengan risiko nodul tiroid. Semakin lama durasi penggunaan, semakin tinggi skor risiko dalam model prediksi penelitian tersebut.

Meski demikian, para peneliti menegaskan keterbatasan studi:

  • Data bersifat self-reported (berdasarkan laporan responden sendiri).
  • Ukuran sampel setelah proses penyaringan relatif kecil.
  • Responden cenderung berusia muda.
  • Studi tidak membuktikan hubungan sebab-akibat (kausalitas).

Artinya, korelasi bukan berarti kepastian sebab-akibat. Namun, temuan ini cukup kuat untuk mendorong sikap lebih waspada.

Dimensi Keamanan Data

Selain kesehatan, ada isu keamanan.

Earphone Bluetooth memancarkan sinyal nirkabel yang secara teoritis bisa diretas atau disadap, meski risikonya kecil untuk pengguna umum. Untuk percakapan sensitif—misalnya di lingkungan kerja dengan tingkat kerahasiaan tinggi—earphone kabel dianggap lebih aman karena tidak memancarkan sinyal radio.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?

Beberapa rekomendasi dari peneliti:

  • Batasi penggunaan earphone Bluetooth maksimal ±2 jam per hari.
  • Jaga volume di kisaran 60–70 dB.
  • Hindari penggunaan saat tidur.
  • Pilih perangkat bersertifikasi dengan emisi elektromagnetik rendah.
  • Sesekali beralih ke earphone kabel untuk mengurangi paparan jangka panjang.

Tentu, di era kerja jarak jauh, olahraga, dan mobilitas tinggi, TWS sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Namun, melihat potensi risiko—meski belum konklusif—menggunakan earphone kabel sesekali bukanlah langkah mundur.

Barangkali benar kata pepatah: old school is the best school. Tidak semua hal lama perlu ditinggalkan hanya demi terlihat lebih modern. (Aye/sg)

Tags:

You Might also Like