Type to search

Pemerintahan Probolinggo

Bye Stigma! Pemkot Probolinggo Rilis “TBC Bersahabat”

Share
Pemerintah Kota Probolinggo (Pemkot) yang mau gas pol eliminasi TBC di tahun 2030. Dalam Program "TBC Bersahabat"

SUARAGONG.COM – Siapa bilang TBC itu penyakit “kutukan” atau aib? Please, that’s so last century!. Pernah kepikiran nggak sih, kenapa penyakit TBC (Tuberkulosis) rasanya kayak “hantu” yang nggak selesai-selesai di Indonesia? Namun hal ini dijawab oleh Pemerintah Kota Probolinggo (Pemkot) yang mau gas pol eliminasi TBC di tahun 2030. Dalam Program “TBC Bersahabat” (Berantas Stigma, Hadapi Bersama, Sehatkan Rakyat).

Probolinggo “Glow Up” Kesehatan: Program TBC Bersahabat

Bukan cuma soal bakterinya yang bandel, tapi stigma sosialnya itu lho yang sering bikin orang mental breakdown. Nah, Pemerintah Kota Probolinggo baru aja bikin gerakan keren buat ngelawan itu semua. Namanya: “TBC Bersahabat” (Berantas Stigma, Hadapi Bersama, Sehatkan Rakyat).

Acara peluncurannya digelar di Puri Manggala Bhakti, Selasa (10/3/2026). Di sini, Pemkot Probolinggo nggak cuma bikin seremoni biasa, tapi bener-bener mau ngerombak cara pandang kita soal TBC.

Kenapa Harus “Bersahabat”?

Jujur aja, selama ini kalau ada orang kena TBC, lingkungannya sering langsung nge-judge atau malah menjauh. Padahal, menurut dr. Intan Sudarmadi, Kepala Dinas Kesehatan PPKB Kota Probolinggo, tantangan terbesar menuju eliminasi TBC tahun 2030 itu bukan cuma soal medis.

Masalah utamanya adalah:

  1. Investigasi Kontak yang Rendah: Banyak yang takut periksa meski sudah kontak dengan pasien.
  2. Pasien Takut Mulai Obat: Takut ketahuan atau takut efek samping.
  3. Angka Putus Obat: Minum obat TBC itu nggak bisa sehari dua hari, tapi berbulan-bulan. Banyak yang ghosting pengobatannya sebelum tuntas.

Lewat inovasi “TBC Bersahabat”, pendekatannya jadi lebih humanis. Pemkot mau mastiin kalau pasien TBC itu butuh support system, bukan malah dikucilkan. Kalau lingkungannya asik dan suportif, pasien pasti lebih semangat buat sembuh total.

Data Nggak Bohong: Probolinggo On Track!

Data yang dipaparkan dr. Intan nunjukin progres yang drastis. Coba cek perbandingannya:

  • Tahun 2024: Dari 5.989 orang yang diskrining, ketemu 954 kasus. Tapi, yang patuh berobat cuma 73%.
  • Tahun 2025: Skrining naik jadi 6.515 orang, kasus positif turun ke 788. Kerennya lagi, tingkat kepatuhan obat melonjak drastis ke 98%!
  • Update Maret 2026: Sampai tanggal 9 Maret kemarin, tercatat ada 121 kasus dengan tingkat kepatuhan mencapai 97%.

Angka ini ngebuktiin kalau warga Probolinggo makin sadar pentingnya tuntas minum obat. Semakin tinggi kepatuhan, semakin kecil kemungkinan bakteri jadi kebal (Resistan Obat).

Wali Kota Aminuddin: “TBC Bukan Kutukan, Bro!”

Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, juga ngasih pesan menohok. Beliau bilang kalau TBC itu penyakit medis murni karena bakteri Mycobacterium tuberculosis, bukan guna-guna atau penyakit keturunan yang harus dimaluin.

“Faktor yang bikin TBC susah hilang itu stigma. Dulu dianggap kutukan sampai orangnya dikucilkan. Padahal ini bisa sembuh total kalau disiplin minum obat selama kurang lebih enam bulan,” tegas Pak Wali. Beliau juga minta seluruh ASN dan pegawai di lingkungan Pemkot buat rutin skrining kesehatan, termasuk rontgen, biar jadi contoh buat masyarakat.

Sinergi Bareng-Bareng (Squad Goals!)

Nggak main-main, acara ini dihadiri 150 peserta mulai dari Tim Percepatan Penanggulangan TBC, lurah se-Kota Probolinggo, perwakilan Yabisha, sampai pengelola program di Puskesmas. Semua tanda tangan komitmen bareng Forkopimda buat mastiin Probolinggo Sehat 2030 bukan cuma mimpi.

TBC itu bisa dicegah dan bisa disembuhin. Tugas kita sekarang sederhana: berhenti kasih stigma negatif dan ajak siapa pun yang punya gejala (kayak batuk nggak sembuh-sembuh) buat berani periksa. Stay healthy and supportive, guys! (DUh/Aye/sg)

Tags:

You Might also Like