Cuaca Lagi Badmood, Laut Jatim Jadi Galak: Nelayan Diminta Waspada
Share
SUARAGONG.COM – Kalau biasanya laut identik dengan ketenangan, Januari ini ceritanya beda. Cuaca lagi “badmood”, dan laut Jawa Timur (Jatim) ikut kena imbasnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Juanda resmi mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem. Di mana berpotensi mengancam keselamatan pelayaran dan aktivitas nelayan.
Cuaca Lagi Badmood, Laut Jatim Ikut Galak: Nelayan Diminta Lebih Waspada
BMKG memprediksi kondisi cuaca ekstrem akan berlangsung mulai 11 hingga 20 Januari 2026. Fenomenanya lengkap: hujan lebat berpotensi banjir dan banjir bandang, tanah longsor di wilayah daratan, angin kencang. Hingga gelombang tinggi di perairan laut utara dan selatan jatim tidak stabil.
Berdasarkan prakiraan BMKG Kelas I Juanda, kecepatan angin di wilayah Jawa Timur diperkirakan mencapai 24 hingga 27 kilometer per jam. Angka ini cukup untuk membuat aktivitas pelayaran—terutama kapal kecil dan nelayan tradisional—berisiko tinggi.
Tak hanya itu, tinggi gelombang laut juga diprediksi bervariasi, mulai dari 0,5 meter hingga ekstrem mencapai 10 meter di sejumlah titik perairan. Kondisi ini jelas bukan kabar baik bagi nelayan yang menggantungkan hidupnya di laut, termasuk jalur penyeberangan yang padat aktivitas.
BMKG menegaskan, peringatan ini dikeluarkan sebagai langkah mitigasi agar masyarakat pesisir dan pelaku usaha pelayaran bisa lebih siap dan tidak memaksakan diri saat kondisi cuaca memburuk.
KSOP Probolinggo: Jangan Nekat, Keselamatan Nomor Satu
Merespons peringatan tersebut, Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Probolinggo langsung bergerak. Imbauan kewaspadaan disampaikan kepada nelayan, operator kapal, hingga nahkoda kapal penyeberangan.
Humas KSOP Kelas IV Probolinggo, Hendra Yulis Priyanto, menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan pelayaran harus menjadi prioritas utama di tengah cuaca yang tak bersahabat.
“Khusus kapal penyeberangan Gili Ketapang, para operator atau nahkoda diimbau untuk memastikan kapal dalam kondisi laik laut, penumpang menggunakan life jacket, dan tidak berlayar saat cuaca buruk,” ujar Hendra, Selasa (13/1/2026).
Update Cuaca Jadi Kunci, Awak Kapal Harus Siap
KSOP juga mengingatkan nahkoda dan awak kapal untuk rajin update informasi cuaca dari BMKG sebelum memutuskan berlayar. Keputusan di laut, menurut KSOP, tak boleh cuma bermodal nekat.
Kesiapan kru, baik fisik maupun mental, juga menjadi faktor penting. Pemahaman prosedur keselamatan laut dinilai wajib dikuasai, terutama saat menghadapi cuaca ekstrem yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Imbauan ini tak hanya berlaku bagi kapal penyeberangan, tetapi juga kapal nelayan yang beroperasi di perairan Probolinggo dan sekitarnya.
Surat Edaran, Kapal Patroli, hingga MCC Disiagakan
Sebagai bentuk keseriusan, KSOP Kelas IV Probolinggo telah menerbitkan surat edaran resmi terkait peningkatan kewaspadaan selama periode cuaca ekstrem. Surat tersebut menjadi panduan bagi operator kapal dan nelayan dalam mengambil keputusan pelayaran.
Tak hanya itu, satu unit kapal patroli juga disiagakan untuk mendukung pengawasan dan penanganan darurat. Fungsi Maritime Coordination Center (MCC) turut dimaksimalkan sebagai pusat koordinasi pemantauan aktivitas laut.
“Keselamatan dan keamanan pelayaran adalah tanggung jawab bersama. Mari kita jaga zero accident dan patuhi imbauan ini demi keselamatan bersama,” tegas Hendra.
Baca Juga : Cuaca Ekstrem Bikin Harga Cabai Jungkir Balik
Nelayan Tetap Melaut, Tapi Nggak Maksa
Cuaca ekstrem ini juga dirasakan langsung para nelayan. Hambali, salah seorang nelayan setempat, mengaku kondisi cuaca buruk sudah terjadi sejak beberapa hari terakhir dan berdampak pada hasil tangkapan.
“Namanya cari nafkah, kami tetap melaut. Tapi kalau cuaca sudah ekstrem, kami tidak memaksakan. Keselamatan tetap nomor satu,” ujarnya.
Menurut Hambali, gelombang dan angin yang tak menentu membuat hasil tangkapan menurun. Namun, kembali ke darat dengan selamat jauh lebih penting dibanding memaksakan hasil.
Cuaca Ekstrem, Keselamatan Jangan Jadi Taruhan
Peringatan BMKG Kelas I Juanda menjadi alarm keras bahwa laut Jawa Timur sedang tidak ramah. Sinergi antara BMKG, KSOP, operator kapal, dan nelayan sangat dibutuhkan agar risiko kecelakaan laut bisa ditekan.
Dengan disiplin mematuhi imbauan, memanfaatkan informasi cuaca, dan memastikan kesiapan alat keselamatan, aktivitas maritim di perairan Jawa Timur diharapkan tetap berjalan aman meski cuaca sedang “badmood”. (Duh/Aye/sg)

