Type to search

Peristiwa Probolinggo

Dinkes Probolinggo Perkuat Layanan Berhenti Merokok

Share
Dinkes Probolinggo Perkuat Layanan Berhenti Merokok Lewat Pelatihan SDM Tenaga Kesehatan

SUARAGONG.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo terus memperkuat pengendalian konsumsi rokok melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. Komitmen tersebut diwujudkan dengan menggelar pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) Upaya Berhenti Merokok (UBM) di fasilitas pelayanan kesehatan primer selama lima hari, Senin–Jumat (9–13/2/2026).

Dinkes Probolinggo Perkuat Layanan Berhenti Merokok Lewat Pelatihan SDM Tenaga Kesehatan

Pelatihan berlangsung di UPT Latkesmas Murnajati Lawang, Kabupaten Malang, sebagai bagian dari strategi jangka panjang pemerintah daerah dalam menekan angka perokok sekaligus mencegah peningkatan penyakit tidak menular (PTM).

Diikuti Tenaga Kesehatan Dinkes dan Puskesmas

Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri dari 15 petugas Penyakit Tidak Menular (PTM) dan 15 petugas promosi kesehatan (promkes). Mereka berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dan perwakilan 33 puskesmas se-Kabupaten Probolinggo.

Keterlibatan tenaga kesehatan lintas lini ini diharapkan memperkuat implementasi layanan berhenti merokok di tingkat puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat.

Perkuat Kompetensi Konseling dan Edukasi

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dr. Hariawan Dwi Tamtomo melalui Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Sri Rusminah menjelaskan, pelatihan ini membekali tenaga kesehatan dengan kompetensi komunikasi, edukasi, dan konseling berhenti merokok.

“Setelah mengikuti pelatihan, peserta diharapkan mampu melakukan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) terkait dampak konsumsi rokok bagi kesehatan serta memberikan konseling bagi masyarakat yang ingin berhenti merokok,” katanya.

Selain itu, peserta juga mendapatkan materi teknis seperti pengukuran faktor risiko PTM akibat rokok, tindak lanjut layanan berhenti merokok, hingga pencatatan dan pelaporan hasil konseling.

“Output dari kegiatan ini adalah tenaga kesehatan yang mampu berperan sebagai konselor upaya berhenti merokok di fasilitas pelayanan kesehatan primer,” jelasnya.

Angka Perokok Masih Tinggi

Penguatan layanan UBM dinilai mendesak mengingat tingginya prevalensi perokok di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, jumlah perokok aktif diperkirakan mencapai sekitar 70 juta orang, dengan 7,4 persen di antaranya berusia 10–18 tahun.

Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumsi rokok tidak hanya menjadi persoalan orang dewasa. Tetapi juga telah menyasar kelompok usia anak dan remaja.

Sri Rusminah menegaskan, kebiasaan merokok berdampak serius baik bagi perokok aktif maupun perokok pasif.

“Dalam sebatang rokok terkandung lebih dari 4.000 bahan kimia berbahaya yang dapat memicu berbagai penyakit serius. Seperti penyakit paru kronis, stroke, serangan jantung, kanker, gangguan mata hingga risiko keguguran pada ibu hamil,” terangnya.

Baca Juga : Tak Sekadar Lezat, Ini 7 Khasiat Rebung bagi Kesehatan Tubuh

Pendekatan Nonfarmakologi di Puskesmas

Dalam praktiknya, layanan berhenti merokok di fasilitas kesehatan primer lebih banyak menggunakan pendekatan nonfarmakologi.

“Metode yang umum digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Antara lain self help, terapi perilaku, konseling, hipnoterapi serta akupuntur,” lanjutnya.

Pendekatan ini dinilai lebih aplikatif di tingkat puskesmas dan mampu menjangkau masyarakat secara luas. Dengan biaya yang relatif terjangkau.

Melalui pelatihan ini, Dinkes Kabupaten Probolinggo berharap puskesmas dapat memberikan layanan edukasi. Serta berbarengan dengan pendampingan yang berkelanjutan bagi masyarakat yang ingin berhenti merokok.

“Melalui pelatihan ini, diharapkan tercipta SDM kesehatan yang kompeten dan profesional dalam mendukung program kesehatan masyarakat. Khususnya dalam menekan angka perokok dan mencegah penyakit tidak menular di Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya. (Duh/aye/sg)

Tags:

You Might also Like