Dirgahayu ke 666 Kota Probolinggo! Kota Mangga Anggur dan Budaya yang Tak Pernah Padam
Share
SUARAGONG.COM – Probolinggo lagi rame! Kota mangga dan anggur ini baru aja ngerayain ulang tahunnya yang ke-666 pada 4 September 2025. Angkanya aja udah bikin penasaran, tapi yang lebih seru adalah cerita panjang tentang sejarah, budaya, kuliner, sampai inovasi yang bikin kota di Jawa Timur ini makin istimewa.
Kota Mangga & Anggur yang Jadi Ikon Probolinggo
Kalau denger Kota Probolinggo, kebanyakan orang langsung inget mangga dan anggur. Bukan sekadar julukan, produksinya memang gila-gilaan. Tahun 2024 aja, mangga tembus 26.440 kuintal, sedangkan anggur 461 kuintal. Varietasnya juga beragam dari Arumanis, Golek, Manalagi, Lalijiwo, sampai anggur Belgi, Probolinggo Biru, dan Prabu Bestari. Makanya, banyak wisatawan mampir buat ngerasain langsung wisata agrowisata di sini.
Baca juga: Sejarah Walikota Probolinggo Pertama Ferdinand Edmond Meijer
Gereja Merah Cuma Ada Dua di Dunia!
Selain alamnya, Kota Probolinggo punya bangunan bersejarah kelas dunia Gereja Merah. Dibangun tahun 1862 dan diresmikan pada 1863, gereja ini unik banget karena seluruh strukturnya dari besi baja dengan sistem bongkar pasang. Warnanya merah menyala, simbol pengorbanan Kristus.
Yang bikin makin keren, Gereja Merah cuma ada dua di dunia di Probolinggo dan Den Haag, Belanda. Udah resmi jadi cagar budaya sejak 2013
Baca juga: Menengok Kemegahan Gereja Katedral Angkatan Bersenjata Rusia
Kuliner Khas Kota Probolinggo yang Wajib Dicoba
Main ke Kota Probolinggo nggak lengkap tanpa nyobain kulinernya. Ada Kepiting Olok yang gurih pedas, Nasi Glempungan yang autentik, Ketan Kratok sederhana tapi bikin nagih, sampai Soto Kecapan dengan cita rasa khas.
Bukan sekadar makanan, tapi bagian dari identitas lokal yang turun-temurun dijaga.
Baca juga: Gelar Budaya Larasati 2 Semarak Kuliner dan Seni Pecinan Probolinggo
Lukis Bakar 3D Inovasi UMKM yang Mendunia
Kreativitas orang Probolinggo juga nggak main-main. Ada karya seni Lukis Bakar 3D dari seniman Agustinus Eko Nurwidiyanto. Teknik pirografi bikin lukisan kayu sengon ini tampak timbul dan detailnya luar biasa. Bukan cuma lokal, tapi karyanya layak banget bersaing sampai ke level internasional.
Baca juga: Pameran Lukisan “Metafora” Jadi Puncak Perayaan KOPI Jombang
Jaran Bodhag Warisan Budaya Tak Benda
Kalau bicara budaya, Probolinggo punya Jaran Bodhag. Pertunjukan ini pakai kuda tiruan dari rotan dan kayu, biasanya ditampilkan dalam arak-arakan dengan musik tradisional Kenong Telo dan Sronen. Sejak 2014, kesenian ini udah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Jadi selain hiburan, Jaran Bodhag juga simbol penting identitas kota.
Baca juga: Ragam Budaya Tradisi Maulid Nabi di Indonesia yang Bikin Kagum
Refleksi di Usia ke-666
Di usia ke-666, Probolinggo bukan cuma merayakan, tapi juga meneguhkan semangat buat terus melestarikan sejarah, budaya, sekaligus membuka jalan bagi inovasi dan kreativitas. Dari mangga manalagi sampai Gereja Merah, dari kuliner sampai Jaran Bodhag semua jadi bukti bahwa kota ini layak disebut salah satu permata Jawa Timur. (duh/dny)

