Hoaks Vaksin Haram, Anak Jadi Korban: KLB Campak di Sumenep Buka Luka Lama
Share

SUARAGONG.COM – Tahun 2025, tapi masih ada yang percaya vaksin itu haram, Hasilnya? Bukan dosa yang datang, melainkan wabah campak yang kini merenggut 17 nyawa anak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Hoaks Vaksin Haram, Anak Jadi Korban, Campak Masih Menyebar
Melansir dari Tirto. Data per Rabu (27/8/2025) mencatat, 2.035 anak terinfeksi campak yang sudah meluas ke 26 kecamatan. Pemkab Sumenep pun terpaksa menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Ironinya, penyebab utamanya menyebar luasnya campak bukan hanya virus semata, melainkan isu hoaks mengenai vaksin yang haram.
Entah kenapa, 2025 masih ada yang lebih dipercaya Omongan dibanding hasil penelitian medis. Padahal sudah jelas demi kebaikan bersama.
Padahal, campak alias rubeola bukan penyakit baru. Vaksin campak pencegahnya pun sudah bertahun-tahun tersedia. Tapi apa daya, jika di kampung lebih cepat beredar bisik-bisik omongan “vaksin haram” daripada informasi ilmiah, hasilnya herd immunity gagal terbentuk dan campak menyebar.
“Imunisasi campak itu efektif. Yang bikin celaka justru kalau anak-anak nggak divaksin,” kata Wakil Bupati Sumenep, Imam Hasyim, saat membuka imunisasi massal, Senin (25/8/2025).
Program itu menargetkan 78.569 anak usia 1–4 tahun untuk divaksin selama 21 hari. Baru dua hari berjalan, tercatat 11.190 anak sudah disuntik. Angka yang bagus, tapi jauh dari kebutuhan agar imunitas kelompok tercapai.
Baca Juga : KLB Campak di Sumenep: 1.944 Suspek, 17 Anak Meninggal
Herd Immunity yang Gagal Total
Ketua Pengda IAKMI Jakarta, Narila Mutia Nasir, menegaskan herd immunity campak baru bisa terbentuk kalau cakupan vaksinasi minimal 95 persen. Faktanya, Sumenep jauh dari angka itu. “Kecepatan hoaks menyebar lebih cepat daripada edukasi,” katanya.
Bukan hanya soal “haram”, ada juga yang percaya ASI bisa menggantikan imunisasi campak. Padahal, ASI memang penting, tapi tidak bisa memberikan perlindungan spesifik terhadap penyakit menular seperti campak atau polio.
Baca Juga : Kasus Campak di Sumenep Melonjak Gubernur Turun Tangan
Alasan Klasik Tak Mau Vaksin
Alasan klasik lain pun muncul: takut efek samping, trauma dengar cerita negatif, bahkan “katanya tetangga”. Data survei menunjukkan, 30,5 persen orang tua ragu karena kabar buruk tentang vaksin, 10,9 persen merasa kurang informasi, 3,7 persen terpengaruh teman atau keluarga, dan 3,14 persen memilih alasan keyakinan agama-budaya.
Hasilnya jelas: 2.035 anak sakit, 17 meninggal. Sebuah harga yang terlalu mahal untuk dibayar hanya karena hoaks.
Fenomena 2025 ini bikin geleng-geleng kepala. Negeri yang bisa bikin aplikasi canggih, bikin regulasi digital, bahkan sibuk berdebat soal AI, tapi di sisi lain masih sibuk dilumpuhkan isu lama: “vaksin itu haram.” (Aye/sg)