Type to search

News Peristiwa

Iran Mode Gelap: 544 Orang Tewas di Gelombang Protes Besar Pekan Ketiga

Share
Iran Mode Gelap: 544 Orang Tewas di Gelombang Protes Besar

SUARAGONG.COM – Ini bukan adegan film distopia. Bukan pula episode Black Mirror. Atau lagi film-film apocalypse. Ini Iran gaes, Januari 2026 di tengah protes besar di pekan ketiga. Internet nyaris mati total. Kota-kota gelap. Namun ribuan orang tetap turun ke jalan, mengangkat cahaya ponsel—bukan untuk live streaming, bukan demi viral, tapi sebagai tanda bahwa mereka masih ada. Sudah 544 orang dilaporkan tewas ketika demonstrasi nasional di Iran memasuki pekan ketiga.

544 Tewas, Internet Diputus: Iran Hadapi Gelombang Protes Terbesar

Berdasarkan data Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat, lebih dari 10.000 orang telah ditangkap sejak gelombang protes pecah pada 28 Desember lalu. Aksi unjuk rasa dipantau terjadi di 186 kota yang tersebar di seluruh 31 provinsi Iran, menjadikannya salah satu tantangan terbesar bagi rezim Teheran dalam beberapa tahun terakhir.

Internet Diputus, Suara Tak Padam

Upaya pelacakan skala penuh terhadap demonstrasi terhambat pemutusan akses komunikasi nasional. Kelompok pemantau internet NetBlocks melaporkan konektivitas internet di Iran hanya tersisa sekitar 1 persen dari kondisi normal.

Bagi generasi yang hidup di ruang digital, kondisi ini seperti dipaksa masuk airplane mode permanen. Namun di jalanan iran, protes justru kian nyata. Rekaman dari berbagai kota memperlihatkan ratusan ribu warga—termasuk lansia—tetap keluar rumah meski ada peringatan keras dari otoritas.

Salah satu video yang beredar memperlihatkan ribuan demonstran di wilayah barat Teheran mengangkat lampu ponsel di tengah gelapnya kota, diiringi siulan dan teriakan “Matilah diktator.”

Dari Mogok Nasional hingga Ancaman Global

Puncak intensifikasi demonstrasi terjadi Sabtu malam (10/1), setelah Reza Pahlavi, putra mendiang Syah Iran yang kini hidup di pengasingan, menyerukan pendudukan pusat-pusat kota dan aksi mogok nasional.

Situasi ini turut memicu respons global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali memperingatkan Iran agar tidak menembaki demonstran. Ia bahkan disebut telah menerima pengarahan terkait opsi serangan militer terhadap Iran.

“Iran sedang menatap kebebasan, mungkin tidak seperti sebelumnya. AS siap membantu!!!” tulis Trump di media sosialnya.

Nada Damai Presiden, Ancaman Keras Parlemen

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mencoba meredam situasi dengan nada lebih menenangkan. Dalam wawancara televisi pemerintah, ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan mengajak dialog nasional.

“Protes Anda harus didengar. Mari kita duduk bersama dan menyelesaikan masalah ini,” ujarnya, sembari mengklaim bahwa sebagian besar rakyat memiliki kekhawatiran yang sah.

Namun nada berbeda datang dari Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memperingatkan bahwa setiap serangan militer AS akan dibalas.

“Wilayah pendudukan serta pusat militer dan pelayaran AS akan menjadi target sah kami,” tegasnya.

Baca Juga : Lebih dari 100.000 Demonstran Pro-Palestina Guncang Madrid

Jenazah, Api, dan Kota yang Terbakar

Di tengah tarik-ulur pernyataan politik, realitas di lapangan terus memakan korban. Video yang diklaim berasal dari sebuah gudang di selatan Teheran memperlihatkan puluhan jenazah dalam kantong mayat berjajar di tanah. Isak tangis terdengar ketika keluarga mencoba mengenali orang-orang terkasih mereka.

Rekaman lain menunjukkan sebuah truk terbakar di Mashhad, sementara sebuah gedung administrasi pajak negara di wilayah timur Teheran dilaporkan hangus dilalap api.

“Meskipun benar-benar terputus dari dunia luar, ini adalah kesempatan untuk membebaskan bangsa tersebut,” ujar Reza Pahlavi dalam wawancara dengan Fox News.

Lebih dari Sekadar Angka

Bagi generasi muda dunia, demonstrasi Iran bukan sekadar berita luar negeri. Ini tentang kebebasan berekspresi di era digital—dan bagaimana sebuah negara bisa memutus internet, tapi gagal memutus keberanian warganya.

Di kota yang gelap dan sunyi dari sinyal, cahaya ponsel justru menjadi simbol perlawanan. Bukan untuk konten, melainkan untuk bertahan. (Aye/sg)

Tags:

You Might also Like