Kerapan Sapi Probolinggo 2026 Pecah: 144 Pasang Berlaga
Share
SUARAGONG.COM – Tradisi Kerapan Sapi kembali bikin geger warga Probolinggo. Digelar di Lapangan Desa Tempuran, Kecamatan Bantaran, Sabtu-Minggu (4-5/4/2026), ajang ini sukses menyedot perhatian ribuan penonton.
Tradisi Kerapan Sapi Probolinggo Kembali digelar di Tahun 2026
Sejak pagi, masyarakat sudah memadati area lomba untuk menyaksikan balapan khas Madura ini. Suasana makin hangat karena momen ini juga jadi ajang halal bihalal pasca Lebaran.
Total ada 144 pasangan sapi yang berlaga dalam tiga kategori: besar, tanggung, dan kecil. Nggak tanggung-tanggung, total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp50 juta.
Bukan Sekadar Lomba, Tapi Warisan Budaya
Kerapan sapi di Desa Tempuran bukan cuma soal siapa tercepat di lintasan. Lebih dari itu, ini adalah tradisi yang terus dijaga sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
Event ini rutin digelar setiap April dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Probolinggo (Harjakabpro) ke-280.
Koordinator acara, Imam, menegaskan bahwa kegiatan ini punya makna lebih dari sekadar hiburan.
“Ini bukan hanya lomba, tapi juga bentuk komitmen untuk melestarikan budaya sekaligus ajang silaturahim,” ujarnya.
Masuk Rangkaian Event Besar Kerapan Sapi
Menariknya, ajang ini juga jadi bagian dari rangkaian menuju HUT “GRT” (Gagak Rimang Team) yang akan digelar di Bangkalan, Madura.
Hal ini semakin menguatkan posisi Probolinggo sebagai salah satu pusat penting tradisi kerapan sapi di Jawa Timur.
Acara ini digelar oleh Paguyuban Kerapan Sapi Kabupaten Probolinggo dengan dukungan berbagai pihak, termasuk donatur utama H. Tohir dari Madura.
Dukungan Besar, Tradisi Makin Terjaga
Imam juga menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat, mulai dari sponsor hingga komunitas pecinta kerapan sapi.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah mendukung kegiatan ini,” katanya.
Hal senada disampaikan H. Tohir yang mengaku siap terus mendukung pelestarian kerapan sapi di Probolinggo.
Ia bahkan menyebut sering membeli sapi berkualitas dari daerah ini, menandakan potensi besar peternakan lokal.
Baca Juga : Kerapan Sapi Brujul Probolinggo Memukau Ribuan Penonton
Dampak Nyata ke Ekonomi Warga
Nggak cuma seru ditonton, kerapan sapi juga berdampak langsung ke ekonomi masyarakat.
Camat Bantaran, Junaedi, menyebut event ini jadi penggerak ekonomi lokal, sejalan dengan program SAE Ekonomi.
“Ini bukan hanya pelestarian budaya, tapi juga ajang silaturahmi dan penguatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Selama acara berlangsung, pedagang, pelaku UMKM, hingga warung sekitar merasakan lonjakan pembeli. Perputaran uang pun meningkat signifikan.
Bantaran, ‘Kandang’ Kerapan Sapi Probolinggo
Kecamatan Bantaran memang dikenal sebagai salah satu pusat kerapan sapi di Probolinggo. Bahkan punya slogan “Banter” (Bantaran Terdepan) yang identik dengan kecepatan.
Potensi ini ke depan bisa terus dikembangkan jadi wisata budaya unggulan yang menarik wisatawan dari berbagai daerah.
“Antusiasme masyarakat yang tinggi jadi bukti kalau tradisi ini masih sangat diminati,” tambah Junaedi.
Kerapan sapi bukan hanya perlombaan, tapi simbol kebersamaan, kerja keras, dan warisan budaya yang terus hidup. (DUh/Aye/sg)

