Type to search

Gaya Hidup Malang

Keris Voglsinger dari Malang Diakui sebagai Keris Tertua di Dunia

Share
Keris Voglsinger, senjata kuno yang ditemukan di wilayah Malang, resmi diakui secara ilmiah sebagai keris tertua di dunia.

SUARAGONG.COM – Kalau selama ini Malang dikenal lewat Singhasari, apel, dan hawanya yang adem, sekarang ada satu fakta baru yang bikin dunia menoleh: Keris Voglsinger, senjata kuno yang ditemukan di wilayah Malang, resmi diakui secara ilmiah sebagai keris tertua di dunia.

Keris Voglsinger, Bukti Malang Pernah Jadi Pusat Teknologi Besi Dunia Kuno

Bukan klaim asal-asalan. Melalui uji carbon dating (radiokarbon) di laboratorium bertaraf internasional, Keris Voglsinger terbukti berusia jauh lebih tua dari semua keris yang selama ini tercatat dalam sejarah persenjataan Nusantara. Bahkan, temuan ini menggeser Keris Knaud yang sebelumnya dianggap paling tua dan berasal dari abad ke-13.

Singkatnya: sejarah keris dunia harus ditulis ulang, dan Malang ada di halaman depan.

Dari Lumpur Malang ke Panggung Dunia

Keris Voglsinger ditemukan di kawasan Malang yang memang dikenal kaya situs prasejarah. Diduga berasal dari area sungai atau bekas galian tradisional di wilayah pegunungan Jawa Timur, keris ini muncul dengan bentuk yang sudah sangat “keris banget”: bilah khas Nusantara dengan pamor alami yang masih terlihat jelas.

Yang bikin arkeolog geleng-geleng kepala bukan cuma bentuknya, tapi bukti ilmiah pendukungnya. Uji radiokarbon dilakukan pada material organik yang menyertai keris—seperti hulu kayu tua atau kain ritual—yang terawetkan sempurna berkat material vulkanik khas Malang. Hasilnya? Usia keris ini dipastikan jauh lebih tua dari era kerajaan besar Jawa.

Carbon Dating Bicara, Dunia Terdiam

Metode carbon dating bekerja dengan mengukur sisa isotop karbon-14 pada material organik. Semakin tua benda, semakin sedikit karbon-14 yang tersisa. Dalam kasus Keris Voglsinger, hasil kalibrasi menunjukkan usia ratusan tahun sebelum Masehi, menempatkannya pada masa transisi Neolitikum ke Zaman Besi di Nusantara.

Faktor alam Malang berperan besar dalam pengawetan ini. Endapan vulkanik dari Gunung Kelud dan Semeru menciptakan kondisi yang ideal, menjadikan Malang seperti “brankas alami” peninggalan peradaban kuno.

Teknologi yang Mendahului Zaman

Struktur bilah Keris Voglsinger memperlihatkan teknik damaskeening awal—lapisan besi dilipat dan ditempa berulang kali hingga ratusan lapisan. Pamor yang muncul bukan sekadar estetika, tapi indikator kualitas metalurgi tinggi: kuat, lentur, dan tajam.

Saat peradaban lain masih berkutat dengan senjata perunggu, pengrajin Malang kuno sudah:

  • Mengolah bijih besi lokal
  • Memisahkan slag dari logam murni
  • Menguasai teknik tempering primitif
  • Mencapai suhu peleburan hingga 1.200°C

Teknologi ini setara dengan pandai besi Timur Tengah dan India kuno—namun dengan sentuhan lokal Nusantara.

Malang, Pusat Besi Nusantara Kuno?

Penemuan Keris Voglsinger mengubah peta sejarah Asia Tenggara. Tradisi keris yang dulu diyakini baru muncul abad ke-13 kini mundur ribuan tahun. Malang diduga menjadi pusat peleburan besi regional, dengan Sungai Brantas sebagai jalur distribusi utama ke berbagai wilayah Nusantara.

Dari sinilah keris menyebar, bukan hanya sebagai senjata, tapi juga simbol status, spiritualitas, dan identitas budaya.

Baca Juga : Sejarah Baru, Dua Kyai Besar Situbondo Bersama Doakan Bandara KASA

Bukan Sekadar Artefak, Ini Identitas

Bagi Arek Malang, Keris Voglsinger bukan cuma benda museum. Ia adalah bukti bahwa leluhur Malang pernah berada di garis depan teknologi dunia. Potensi lanjutannya pun besar:

  • Museum Keris Malang bertaraf internasional
  • Wisata sejarah dan budaya kelas dunia
  • UMKM replika keris berbasis data ilmiah
  • Pusat riset metalurgi keris Nusantara

Tantangan Pelestarian

Usianya yang ribuan tahun membuat keris ini sangat rentan. Dibutuhkan:

  • Ruang konservasi khusus
  • Kontrol suhu dan kelembaban ketat
  • Riset lanjutan dengan teknologi XRF dan neutron diffraction

Kolaborasi internasional pun terbuka lebar untuk mengungkap misteri lanjutan peradaban besi Malang kuno.

Warisan yang Mengubah Narasi Dunia

Keris Voglsinger adalah pesan dari masa lalu: Nusantara—khususnya Malang—bukan penonton sejarah, tapi pemain utama. Saat dunia modern sibuk mengejar teknologi masa depan, leluhur Malang sudah membuktikan bahwa kejeniusan manusia bisa menciptakan keajaiban tanpa listrik dan mesin. Dari tanah subur Malang, sejarah dunia bergeser. (ind/aye)

Tags:

You Might also Like