Ketika Lagu Peradaban Dibajak untuk Menindas Minoritas
Share
SUARAGONG.COM – Fenomena penyalahgunaan karya seni di media sosial kembali mencapai titik kritis. Kali ini, lagu “Peradaban” milik grup musik .Feast yang ditulis oleh Baskara Putra (Hindia), menjadi pusat kontroversi, Hal ini setelah potongan liriknya digunakan oleh oknum di platform X (Twitter) untuk menyerang kelompok minoritas.
Viralitas Lagu Peradaban yang Salah Kaprah Dibajak untuk Menindas Minoritas
Pada akhir Maret 2026, sebuah konten viral di media sosial menggunakan penggalan lirik lagu “Peradaban” sebagai latar belakang untuk menyuarakan pandangan diskriminatif. Termasuk sentimen anti-queer atau kebencian terhadap kelompok marginal. Ironisnya, lagu yang aslinya ditulis sebagai kritik atas radikalisme dan intoleransi di Indonesia justru diputarbalikkan. Yang mana dengan minimnya literasi orang, menjadi alat untuk membenarkan tindakan intoleransi itu sendiri.
Respons Tegas sang Musisi
“Stop using my songs to punch down on minorities. Fck off,”* tulis Baskara pada Rabu (25/3/2026) di X.
Makna Asli vs. Interpretasi Liar
Secara akademis dan kontekstual, “Peradaban” adalah refleksi atas situasi sosial-politik Indonesia yang penuh gejolak. Liriknya mengandung pesan perlawanan terhadap penindasan dan kritik terhadap sistem yang tidak adil. Namun, di era “aktivisme digital” saat ini, sebuah lagu seringkali kehilangan konteks aslinya. Terlebih lagi saat dipotong dan dibagikan secara instan dalam video singkat.
Baca Juga : Tarot Bukan Cuma Lagu Feast, Tapi Cara Ngobrol ke Semesta
Mengapa Ini Terjadi Sekarang?
- Konsumsi Konten yang Cepat: Gen Z, sebagai konsumen utama media sosial, sering kali terpapar potongan konten tanpa memahami latar belakang penuh dari karya tersebut.
- Polarisasi Digital: Algoritma media sosial cenderung memperkuat bias pengguna, sehingga lirik yang kritis bisa disalahtafsirkan sebagai bentuk dukungan terhadap kebencian jika berada di lingkaran kelompok tertentu.
- Tantangan Literasi Digital: Fenomena ini menunjukkan perlunya literasi media yang lebih dalam bagi masyarakat agar tidak mudah mencatut karya seni demi agenda yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.

