Marriage is Scary :Gen Z Indonesia Ketar-Ketir Soal Menikah
Share
SUARAGONG.COM – Tolong Buat Bude-Bude, Emak dan Tante, Jangan Ngomongin soal Menikah sama Gen Z deh. Udah ada kabar Perang dunia ke-3, Ekonomi dan Geopolitik ga jelas, malah ditanya kapan nikah, ‘Seramnyo’. Menjelang momen mudik dan kumpul keluarga pada Lebaran 2026 ini, ada satu momok yang mulai menghantui pikiran banyak Generasi Z (Gen Z): pertanyaan “Kapan nikah?”.
Tren “Marriage is Scary”: Mengapa Gen Z Indonesia Makin Takut Menikah?
Di tengah persiapan pulang kampung, media sosial justru diramaikan oleh tren bertajuk “Marriage is Scary” (Pernikahan itu Menakutkan), sebuah refleksi kecemasan mendalam anak muda yang merasa tradisi tanya-jawab di meja makan Lebaran nanti akan terasa lebih mengintimidasi dari biasanya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat fenomena ini. Angka pernikahan di Indonesia terus merosot tajam; pada tahun 2024, tercatat hanya 1,5 juta pasangan yang menikah, turun drastis dibandingkan satu dekade lalu yang mencapai 2,1 juta.
Mereka Takut Karena Ada Alasannya
Berdasarkan penelusuran terhadap pakar sosiologi dan keluhan di ruang publik digital, ada tiga faktor utama yang memicu ketakutan ini:
1. Trauma Digital dan Paparan KDRT
Melalui platform seperti TikTok dan X, Gen Z setiap hari terpapar konten perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga cerita perceraian yang pahit. “Trauma sekunder” ini membuat mereka merasa bahwa pernikahan bukanlah “pelabuhan aman,” melainkan risiko yang bisa menghancurkan kesehatan mental.
2. Standar Ekonomi yang Kian Tinggi
Bagi Gen Z, cinta saja tidak cukup. Di tengah kenaikan harga properti yang tidak masuk akal dan inflasi biaya hidup, banyak anak muda merasa harus mapan secara finansial sebelum berani melangkah. Mereka lebih takut pada “kemiskinan struktural” pasca-menikah daripada status lajang.
3. Prioritas pada Self-Growth
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z memandang usia 20-an sebagai waktu emas untuk eksplorasi diri, karier, dan pendidikan. Pernikahan sering kali dianggap sebagai “rem” yang dapat menghambat kebebasan individu untuk berkembang.
Baca Juga : Kenapa Gen Z Lebih Tergoda Paylater dari Pada Kartu Kredit?
Bukan Menolak, Tapi Selektif, Bukan Ga Mau, Tapi liat Situasi Kondisi
Psikolog menilai bahwa fenomena ini sebenarnya menunjukkan tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Gen Z tidak lagi menganggap pernikahan sebagai “kewajiban umur,” melainkan pilihan sadar yang membutuhkan kesiapan mental dan finansial yang matang.
“Mereka bukan tidak mau menikah, tapi mereka ingin memastikan tidak salah pilih orang dan tidak salah waktu,” ujar seorang praktisi kesehatan mental dalam sebuah diskusi daring baru-baru ini.
Menghadapi Tekanan Sosial
Meski tren ini menguat, tekanan dari orang tua dan lingkungan tetap ada, terutama saat kumpul Lebaran. Para ahli menyarankan Gen Z untuk mulai menetapkan batasan (boundaries) yang sehat saat menghadapi pertanyaan sensitif tersebut, serta fokus pada kesiapan diri sendiri tanpa terbebani standar orang lain. (Aye/sg)

