Mengapa Si ‘Ga Enakan’ Selalu Ketemu Si ‘Narsis’ (NPD)?
Share
SUARAGONG.COM – Belakangan ini, lini masa media sosial diramaikan dengan curhatan anak muda tentang fenomena “magnet nasib”. Banyak yang merasa dirinya adalah tipe people pleaser atau “ga enakan”. Namun anehnya, mereka justru sering terjebak dalam hubungan dengan orang yang “ga tau diri”Tipe people pleaser atau “ga enakan” justru sering terjebak dalam hubungan dengan orang yang “ga tau diri”, Narsis atau NPD alias narsis alias lagi NPD.
Hubungan “Toxic” Gen Z: Mengapa Si ‘Ga Enakan’ Selalu Ketemu Si ‘Narsis’ (NPD)?
Fenomena ini ternyata bukan sekadar kebetulan. Dalam sebuah diskusi medis bertajuk “Buat Apa Susah”, pakar kesehatan mental membedah mengapa kepribadian Narcissistic Personality Disorder (NPD) seringkali menjadi “pemangsa” bagi mereka yang sulit berkata tidak.
Si Raja Puji vs Si Tukang Ngalah
Menurut penjelasan medis dalam diskusi tersebut, penderita NPD memiliki ciri utama: Haus akan pujian dan tidak bisa menerima kritik. Nama “Narsistik” sendiri diambil dari mitologi Yunani, Narcissus, pemuda yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri.
“Orang dengan NPD selalu ingin menjadi pemeran utama dalam hubungan. Semuanya harus tentang dia (it’s all about them),” ungkap pakar dalam sesi tersebut. Hal ini menjadi berbahaya ketika bertemu dengan tipe “ga enakan”. Si people pleaser akan terus memberikan validasi dan pujian, sementara si narsis akan terus mengonsumsi energi tersebut tanpa rasa bersalah.
Bahaya “Narsistic Injury”
Satu hal yang paling ditakuti dari orang narsis adalah saat harga diri mereka tersenggol, atau yang disebut sebagai Narsistic Injury.
“Ketika egonya tersenggol, dia akan marah besar. Mereka tidak bisa menerima kekalahan atau kekurangan,” jelas sang dokter. Ironisnya, orang yang “ga enakan” cenderung akan meminta maaf meski tidak bersalah hanya untuk meredam kemarahan si narsis tersebut. Inilah yang membuat lingkaran setan hubungan toxic sulit diputus.
Akar Masalah: Pola Asuh yang Salah
Menariknya, sifat “ga tau diri” ini ternyata seringkali terbentuk sejak kecil. Ada dua pemicu utama:
- Masa kecil yang inferior: Pernah dibully atau kurang kasih sayang, sehingga saat dewasa ia “haus” kompensasi berupa pujian.
- Pola asuh “Piala Palsu”: Anak yang selalu dipuji secara berlebihan oleh orang tuanya meski ia melakukan kesalahan atau kalah.
Diceritakan dalam sesi tersebut, ada kasus di mana seorang nenek memaksakan cucunya untuk tetap diberi trofi meskipun kalah dalam lomba, hanya demi menjaga gengsi. “Ini adalah sumber NPD yang diturunkan. Jika pola asuh ini tidak diputus, anak tidak akan pernah belajar menerima realita dan kritik,” tambahnya.
Baca Juga : Boomers Beli Rumah, Gen Z Beli Kopi: Menguak ‘Gap’ Finansial Antar-Generasi
Bagaimana Cara Memutus Rantainya?
Bagi Gen Z yang merasa terjebak sebagai si “ga enakan”, langkah pertama adalah sadar bahwa orang narsis—terutama yang sudah masuk kategori gangguan (Disorder)—sangat sulit melakukan evaluasi diri karena merasa selalu benar.
Menghadapi pasangan atau teman yang “kepala batu” dan antikritik bukan hanya soal sabar, tapi soal keberanian untuk membangun batasan (boundaries). Karena pada akhirnya, kesehatan mentalmu lebih berharga daripada menjaga perasaan orang yang bahkan tidak peduli pada perasaanmu. (Aye/sg)

