Rakornas Profesor Muslimat NU Khofifah Dorong Ilmu Lebih Membumi
Share
SURABAYA, SUARAGONG.COM – Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU sekaligus Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, membuka Rakornas Profesor Muslimat NU yang digelar di Kantor BPSDM Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Jumat (6/2/2026) malam.
Rakornas ini dihadiri para profesor Muslimat NU dari berbagai daerah di Indonesia, serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifatul Choiri Fauzi. Suasananya jauh dari kesan kaku acara berlangsung sederhana, hangat, dan penuh semangat kebersamaan.
Rakornas Profesor Muslimat NU Jadi Ruang Konsolidasi Gagasan
Menurut Khofifah, Rakornas Profesor Muslimat NU bukan cuma agenda organisasi biasa. Forum ini jadi tempat penting untuk menyatukan gagasan, memperkuat peran perempuan ulama dan akademisi, sekaligus merespons tantangan zaman yang makin kompleks.
Selain membahas Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT), Rakornas juga jadi ruang tukar pikiran strategis soal bagaimana ilmu pengetahuan bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Baca juga: Renovasi Rumah Surabaya 2026, 100 Rumah Warga Diresmikan
Peran Intelektual Perempuan Harus Lebih Membumi
Dalam sambutannya, Khofifah menekankan pentingnya peran strategis profesor Muslimat NU. Menurutnya, akademisi perempuan NU punya posisi unik untuk menjembatani dunia kampus dengan kebutuhan riil masyarakat.
“Para profesor Muslimat NU punya kapasitas keilmuan yang kuat. Tantangannya, bagaimana ilmu itu dibumikan, memberi solusi nyata, dan membawa kemaslahatan,” ujar Khofifah.
Ia juga menegaskan bahwa forum intelektual tidak selalu harus formal dan kaku. Justru diskusi yang cair, egaliter, dan penuh rasa kekeluargaan bisa melahirkan ide-ide jernih dan keputusan yang bijak.
Baca juga: Khofifah: Pers Berkualitas Jaga Demokrasi
Intelektual, Tapi Tetap Membumi dan Bersahaja
Khofifah menyebut kekuatan NU bukan hanya soal kecerdasan intelektual, tapi juga tradisi kebersamaan dan kesederhanaan. Hal ini, menurutnya, tercermin jelas dalam Rakornas Profesor Muslimat NU yang digelar tanpa kemewahan, tapi sarat makna.
“Intelektualitas dan kerakyatan bisa jalan bareng. Itulah ciri khas NU,” tambahnya.
Ia juga mengapresiasi pembahasan PD/PRT dalam Rakornas sebagai fondasi penting untuk memperkuat organisasi, baik secara struktural maupun kultural. Aturan dasar yang kuat diyakini akan memperbesar kontribusi profesor Muslimat NU bagi pembangunan bangsa.
Baca juga: Tragedi Siswa SD Cermin Kemiskinan Ekstrem Indonesia
Pengukuhan Pengurus APMNU
Di kesempatan yang sama, Khofifah secara resmi mengukuhkan kepengurusan Asosiasi Profesor Muslimat NU (APMNU) yang dipimpin oleh Prof. Dr. Amany Lubis. Ia berharap APMNU bisa menjadi ruang pengabdian keilmuan yang terus memberi manfaat luas bagi umat dan bangsa.
“Ilmu akan terasa makin bermakna kalau dibumikan dengan ketulusan, kesederhanaan, dan semangat khidmah,” pungkas Khofifah. (wahyu/dny)

